Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Selasa
25
Apr '06

Perempuan-perempuan yang Menantang Karang


InangSeorang wanita Batak sedang menunggu pembeli di Pasar Sambu Medan, Sumatera Utara. Sejak subuh hingga malam, mereka sudah berada di tengah pasar yang becek dan berlumpur demi mencari sesuap nasi.

Waktu telah menunjukkan pukul 03.00 WIB. Jumat (21/4), dini hari itu, kawasan Jl Bulan, Medan Timur, Sumatera Utara masih terlihat ramai. Di antara bau tak sedap dan tanah becek, para wanita separuh baya itu mencari sesuap nasi. Merekalah Kartini-Kartini masa kini yang patut dikagumi.

Aktivitas perdagangan ikan, sayur mayur, buah-buahan itu berlangsung sejak subuh. Di tempat itu, para pedagang mayoritas memang wanita separuh baya dari suku Batak. Mereka yang kerap dipanggil inang-inang itu sudah biasa membanting tulang di saat orang-orang pada umumnya masih terlelap. Setiap hari, keringat mereka bergelut dengan tanah becek, dan bau tak sedap.

Berjuang melawan kantuk dan dingin yang menusuk tulang menjadi sebuah rutinitas. Wanita-wanita Batak umumnya menjadi pahlawan keluarga. Sering kali mereka pergi pagi hari, bahkan kadang tidak pulang. Begadang pun sudah biasa demi menafkahi keluarga. Para ibu itu boleh jadi cita-cita Kartini, pejuang wanita masa penjajahan dulu. Perempuan masa kini punya kesetaraan dengan laki-laki.

Kehidupan para inang tersebut sudah dapat dipastikan penuh tantangan. Namun semangat baja mereka juga yang dapat meremukkan karang. Tidak heran, mereka pun berhasil menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi. Namun cucuran keringat itu tidak selalu dihargai. Ada saja oknum yang masih tega memeras uang mereka.

“Setiap harinya kami harus menyediakan uang kebersihan, uang keamanan maupun uang tempat. Sayangnya, sampai saat ini, tidak mungkin kami semua dapat terbebas dari belenggu pengutipan itu,” ujar Rosmeri boru Sihombing (50), seorang pedagang sayur-mayur, saat ditemui Pembaruan, dini hari itu. Uang yang dikeluarkan itu mulai Rp 3.000 sampai dengan Rp 5.000. Namun jika dijumlah, total pungutan yang dikeluarkan mencapai Rp 12.500, setiap harinya.

Mungkin jika dikumpulkan selama 15 tahun, uang pungli itu sudah cukup untuk membeli sepetak tanah. Meskipun kerap diperlakukan tidak adil, Boru Sihombing tampaknya tak mengeluh. Mereka “rela” membayar pungli, asalkan masih diperbolehkan berjualan. Menafkahi keluarga dan membiayai anak sekolah jauh lebih penting. Maklum, ibu lima orang anak ini sudah sekitar 18 tahun berjualan di tempat itu.

Rasanya banyak orang sulit percaya, kerja keras Boru Sihombing sudah menghasilkan buah berkah. Dari menjual sayur mayur itu, dia dapat menghidupi keluarganya. Malahan, hasil kerja kerasnya itu telah mencetak anak-anaknya menjadi dua pegawai kantoran, dua mahasiswa dan seorang siswa SMA.

Perbaiki Ekonomi

Percaya atau tidak, Boru Sihombing yakin bahwa Tuhan akan membantu orang yang berusaha. Sedikit demi sedikit, selama belasan tahun, dia menabung untuk membeli rumah dan membangunnya. Malahan, dia tak sungkan mengaku sudah menyiapkan sedikit warisan untuk anak-anaknya.

“Mereka memang harus mengerti susah, tapi tidak harus seperti kami,” tutur wanita warga Jl Sisingamangaraja Medan, ini sambil tersenyum.

Seperti halnya pedagang, setiap hari, Boru Sihombing tidak selalu beruntung. Kadang dia hanya mendapat uang pas-pasan. Paling tidak uang sekitar Rp 100.000 sampai Rp 150.000 dapat dibawanya ke rumah. Tetapi, jika nasib sedang apes, boru Sihombing juga merugi.

Hal itu juga diakui Martha boru Pakpahan (56), pedagang sayur lainnya. Sebagaimana pedagang umumnya, dia menilai kerugian adalah risiko setiap pedagang. Merugi adalah hal biasa yang seringkali dialami pedagang. Buat mereka, untung rugi adalah filosofi roda kehidupan.

Sosok pedagang sayur memang jauh dari kesan pejuang. Sekalipun bukan aktivis yang bersuara vokal, inang-inang itulah personifikasi Kartini masa kini. Jika Kartini berjasa kaum perempuan, mereka berjasa bagi keluarganya. Seperti halnya kisah Rotua boru Simanjuntak (49), warga Perumnas Simalingkar Medan.

Rotua mulai berdagang sejak 12 tahun lalu. Awalnya, dia hanya ingin menambah penghasilan suami yang hanya supir angkutan kota (angkot). Dari berjualan buah-buahan, Rotua tak sampai membawa banyak uang. Penghasilannya juga tidak jauh beda dengan boru Sihombing.

“Kalau tidak begini, anak-anak kami tidak bisa sekolah. Syukur, sekarang ini mereka sudah menamati pendidikan SMA, dua anak saya bekerja sambil kuliah. Yang pasti, saya tidak mau mereka malu sama teman-temannya, kalau ibunya berjualan sebagai inang-inang Sambu,” katanya.

Menurut Rotua, anak-anaknya tidak pernah merasa malu dengan keadaan ekonomi keluarga. Mereka tidak malu punya ibu yang berdagang di pasar. Agaknya, anak-anak itu cukup tahu diri sehingga tidak pernah terlontar ungkapan malu atau keberatan.

Rotua, Martha, Rosmeri merupakan sosok nyata yang mewakili realita zaman. Perempuan bukan makhluk yang lemah dan tak berdaya.

Di banyak belahan bumi ini, perempuan justru tampil dengan kekuatan yang luar biasa. Kadang mereka lebih kuat dan tegar dari laki-laki. Perjuangan hidup mereka sangat mengagumkan, namun kerapkali juga justru terlupakan. Kerja keras merekalah yang melahirkan generasi muda terdidik penerus bangsa.

Sumber : [Pembaruan/Arnold H Sianturi] Suara Pembaruan


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.