Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Senin
17
Apr '06

Tugu Khatulistiwa dan Impian


Khatulistiwa, Katulistiwa, Equator, Ekuator, dan berbagai variasi kata dengan berbagai kesalahan ejaan akan terbaca di tepi jalan hingga surat kabar. Ikon tugu khatulistiwa pun terlihat, mulai dari kantor swasta, rumah makan, hingga kantong belanjaan.

Bila tulisan dan ikon Khatulistiwa itu mendominasi pandangan mata, dapat dipastikan Anda telah berada di Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat. Kota yang “terberkati” dengan dilalui garis imajiner lintang nol (0) derajat.

Meski demikian, Pemerintah Kota Pontianak tampak tidak optimal dan menyepelekan pengukuhan Khatulistiwa sebagai ikon kota. Bahkan terkesan, Pontianak baru dalam tahapan memimpikan untuk jadi kota khatulistiwa.

Lihat saja Tugu Khatulistiwa yang terletak di Siantan, Pontianak Utara. Tugu yang hanya berjarak lima kilometer dari pusat kota menuju arah Singkawang ini terlihat tidak terawat. Jangankan wisatawan, masyarakat lokal pun jarang ke sana.

Selain Tugu Khatulistiwa, memang tiada sarana pendukung lain yang dapat menjadi hiburan bagi masyarakat. Sementara tugu itu sendiri tidak dapat menjadi sumber pengetahuan yang interaktif dan menarik bagi pelajar.

Alhasil, Tugu Khatulistiwa hanya jadi onggokan batu yang didatangi untuk pertama kali kemudian orang enggan mengulanginya. Warga asli Pontianak pun seolah malu menunjukkan Tugu Khatulistiwa kepada kolega dan sanak keluarga mereka yang datang ke daerah itu.

Ketika datang dari arah Pontianak maupun Singkawang, misalnya, memasuki kompleks Tugu Khatulistiwa tak akan ada penjaga yang menyambut. Tiket masuk juga tidak ada. Jadi, dari mana sokongan dana untuk perawatan kompleks?

Dari tahun ke tahun, menurut berbagai pendapat masyarakat, terjadi pula penurunan kualitas kompleks Tugu Khatulistiwa, mulai dari hancur dan hilangnya dermaga, abrasi tepian Sungai Kapuas, hingga rusaknya taman-taman di kompleks tugu.

Kalaupun Tugu Khatulistiwa dicanangkan sebagai lokasi wisata, bahkan tiada bangku taman di kompleks ini. Beberapa kali setelah memotret senja di Sungai Kapuas, Kompas bahkan meraba-raba mencari pegangan pintu mobil lantaran kompleks gelap gulita tanpa lampu taman.

Parahnya, di kompleks Tugu Khatulistiwa ini tidak ada satu pun ruang pajang untuk menjual cenderamata khas khatulistiwa. Cenderamata harus dicari di deretan rumah toko yang berada di Jalan Teuku Umar, yang sudah berbaur dengan produk Yogyakarta dan Bali.

Berdasarkan prasasti di dalam kompleks Tugu Khatulistiwa, dikisahkan pada 31 Maret 1928 satu ekspedisi internasional yang dipimpin ahli geografi berkebangsaan Belanda datang ke Pontianak untuk menentukan titik khatulistiwa.

Pada tahun itu juga dibangun tugu pertama berbentuk tonggak tanda panah kemudian disempurnakan pada tahun 1930. Setelah itu, arsitek Silaban (1938) menyempurnakan dan membangun tugu yang baru dengan empat tonggak kayu belian menopang lingkaran dengan anak panah penunjuk arah setinggi sekitar 4,40 meter.

Baru kemudian, pada tahun 1990, tugu direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu yang asli. Di atas kubah dibuatlah duplikat tugu berukuran lima kali lebih besar dibandingkan dengan tugu yang aslinya.

Peresmian dilakukan 21 September 1991 meski, setelah diukur kembali pada Maret 2005 dengan alat global positioning system (GPS), titik lintang nol derajat ternyata berada sekitar 117 meter ke arah Sungai Kapuas, dari tugu yang sekarang berdiri.

Ide segar

Saat memperingati kulminasi—fenomena Matahari tepat di titik khatulistiwa atau titik lintang nol derajat—di mana benda yang tegak 90 derajat terhadap Bumi tidak mempunyai bayangan selama beberapa detik, ketika Matahari tepat di atas kepala pada akhir Maret lalu, Wali Kota Pontianak Buchary A Rachman melontarkan ide segar.

Wali Kota dengan banyak ide mercu suar ini memimpikan dibangunnya sundial (jam matahari) tertinggi di dunia dan pembangunan planetarium sebagai fasilitas pendidikan astronomi bagi masyarakat Pontianak dan para wisatawan.

Sudah sejak 1.500 tahun sebelum Masehi bangsa Mesir membangun sundial, sebuah instrumen penunjuk waktu dengan memanfaatkan bayang-bayang benda. Baru kemudian sundial dikenal bangsa China, Mesopotamia, dan Yunani.

Cukup mudah membangun sundial, yakni dengan menancapkan sebatang benda secara tegak lurus (90 derajat) dengan permukaan Bumi, maka bayangan batang yang kemudian diproyeksikan ke suatu permukaan akan menunjukkan waktu tertentu.

Hanya saja, posisi batang harus disesuaikan dengan letak suatu tempat terhadap lintang Bumi. Namun, tentu saja dengan posisi Pontianak di lintang nol derajat, posisi batang cukup ditancapkan dengan sempurna 90 derajat.

Saat ini Jembatan Sundial Turtle Bay yang menghubungkan tepian Sungai Sacramento, di Redding, Negara Bagian California, Amerika Serikat, diakui sebagai salah satu sundial terbesar di dunia. Jembatan ini di salah satu sisinya mempunyai batang setinggi 66 meter, dengan jembatan sebagai refleksi bayangan Matahari sepanjang 213 meter.

Diarsiteki Santiago Calatrava, Jembatan Sundial Turtle Bay diselesaikan pada tahun 2004 dengan biaya 23 juta dollar AS. Desain jembatan serupa dengan desain sundial Puente del Alamillo di Seville, Spanyol, hanya beda ukuran.

Bila ingin membangun sundial tertinggi di dunia, Pontianak tentunya harus membangun menara lebih tinggi dari batang sundial di Jembatan Sundial Turtle Bay. Konstruksi menara harus dirancang dengan matang mengingat tanah Pontianak merupakan tanah gambut yang labil.

Bila ingin mendeklarasikan Pontianak sebagai kota pertama yang mempunyai sundial pertama di Indonesia, sudah tidak mungkin pula. Sebab, di Padalarang, Jawa Barat, kawasan sub-urban Bandung, sebuah perumahan bernama Kota Baru Parahyangan telah mempunyai sundial.

Kota Baru Parahyangan—yang perlahan jadi daerah tujuan wisata bahkan membangun pusat ilmu pengetahuan bernama Puspa Iptek menyatu dengan Gedung Jam Matahari—berarsitektur unik diimbuhi permainan warna dinding mencolok. Jadi, sebagai kota yang mendeklarasikan diri sebagai kota khatulistiwa, Pontianak sudah ketinggalan langkah.

Sementara itu, rencana pembangunan planetarium Pontianak akan menggenapi jumlah planetarium di Indonesia menjadi empat unit. Sebelumnya telah dibangun planetarium di Taman Ismail Marzuki (Jakarta), Pangkalan Angkatan Laut Surabaya, dan Tenggarong (Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur).

Menurut Wali Kota Pontianak Buchary A Rachman, Observatorium Boscha dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah bersedia mengkaji rencana pembangunan sundial dan planetarium tersebut.

Dia mengharapkan, bila perencanaan telah matang, pendanaannya dapat dimintakan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebab, sundial dan planetarium Pontianak merupakan aset nasional maupun dunia.

Meski sama-sama mengemban wilayah yang dilintasi garis imajiner nol derajat, Pontianak memang berbeda nasib dengan kota Greenwich di Inggris, yang menjadi lokasi garis imajiner bujur nol derajat (prime meridien) sebagai patokan waktu dunia.

Observatorium Greenwich bahkan didirikan pada tahun 1675 oleh Raja Charles II. Konferensi Internasional Meredian di Washington tahun 1844 pun menetapkan bujur nol derajat di Greenwich karena telah dijadikan patokan waktu oleh 72 persen pelayaran dunia ketika itu.

Pontianak memang tidak mungkin dijadikan patokan waktu, tetapi daerah itu punya daya tarik sebagai kota yang dilintasi khatulistiwa. Pontianak terus bermimpi walau tidak jelas kapan mimpi itu terealisasi, karena memelihara yang sudah ada pun tidak mampu dan tidak mau….

Sumber : (Haryo Damardono) Harian Kompas


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Diare di Jayawijaya Renggut 32 Jiwa
Artikel selanjutnya :
   » » Pemkab Diminta Optimalkan Fungsi Puskesmas