Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Senin
10
Apr '06

Ugamo Malim di Negara Demokratis


Jumat, 2-3 Maret 2006 lalu terasa agak lain di desa Huta Tinggi, 4 km dari Laguboti
dan sekitar 300 km dari Medan ke arah Pantai Barat. Matahari sedang menuju puncak klimaks ketika alunan lembut bunyi serunai dipadu dengan kecapi, garantung, hesek, alat musik khas Batak Toba mengawali prosesi upacara Sipaha sada di Huta Tinggi.

Ada perasaan yang sukar dilukiskan yang menyeruak dalam kalbu tatkala alat musik tradisional Batak Toba itu mengalun lembut. Sungguh, perayaan yang dihadiri ratusan orang pengikut ugamo malim itu sangat kental diwarnai oleh simbol-simbol budaya Batak Toba. Busana dan rias khas Batak Toba. Sebutlah para pria yang sudah berkeluarga menggunakan tali-tali (sorban putih yang tak berekor) dengan menyarungkan ulos seperti ragi hotang, sibolang atau ragidup. Para pria yang belum berkeluarga menggunakan busana bebas dan sopan dengan selempang ulos yang sama dan pakai sarung. Para perempuan dewasa baik yang sudah menikah maupun yang belum menikah tampak dengan gulungan rambutnya yang dibenamkan ke dalam, yang biasa disebut sanggul Toba.

Seluruh rangkaian ritual upacara religius itu diiringi dengan gondang hasapi, tanpa ada nyanyian. Setiap orang hanya tunduk-khusyuk sambil tangan terkatup menyembah di dada mengekspresikan rasa hormat yang mendalam kepada Debata Mulajadi Nabolon. Tidak ada suara berisik atau berbisik. Semua dalam suasana khidmat dan tenang. Boleh dikatakan tampaknya salah satu kekuatan ugamo malim ialah mempertahankan simbol-simbol budaya Batak Toba dalam keasliannya.

Huta Tinggi adalah pusat ugamo malim sedunia. Secara historis Parmalim Huta Tinggi dirintis oleh Raja Mulia Naipospos (wafat 18 Februari 1956), lalu diteruskan oleh anaknya Raja U M Naipospos (wafat 16 Februari 1981) dan sekarang dipimpin oleh Raja Marnangkok Naipospos (usia 67 tahun). Sebagai tempat berkumpul dan beribadat di desa Huta Tinggi didirikan bangunan peribadatan yang disebut Bale Pasogit (arti hurufiahnya balai asal-usul).

Di Bale Pasogit dilaksanakan upacara religius ugamo malim. Tanggal 3 Agustus 1921 atas persetujuan WKH Ypes, Controleur van Toba waktu itu didirikanlah Bale Pasogit. Selain Bale Pasogit juga terdapat bangunan yang didesain secara khusus yakni bale partonggoan (balai doa), bale parpitaan (balai sakral atau penyucian diri), bale pangaminan (balai pertemuan atau mess, tepat menginap), dan bale parhobasan (balai dapur umum, tempat mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pesta). Di tempat itulah setiap tahun para penganut ugamo malim menyelenggarakan dua perayaan besar yakni upacara Sipaha Sada dan Sipahala Lima.

Memaknai upacara sipaha sada
Pada perayaan sipaha sada para penganut ogamo malim datang dari berbagai penjuru yang tersebar di 50-an komunitas dan sekitar 1500 KK. Dari jumlah itu mereka tidak sekedar hadir, tetapi mereka aktif-partisipatif dalam seluruh rangkaian upacara karena mereka meyakini bahwa Bale Pasogit adalah Huta Nabadia (Tanah Suci). Upacara Sipaha Sada dilaksanakan di dalam ruangan Bale Pasogit, sementara upacara Sipaha Lima diadakan di luar karena teknis pelaksanaannya besar dan berciri kosmis. Menurut Raja Marnangkok Naipospos, pimpinan umum ugamo malim saat ini upacara Sipaha Sada merupakan pembuka tahun dan hari yang baru bagi penganut parmalim Huta Tinggi. “Inti pesta Sipaha Sada ialah menyambut kelahiran dan kedatangan Tuhan Simarimbulu Bosi dan para pengikut setianya yang telah menderita dalam mengembangkan ajaran Ugamo Malim ini,” jelas Raja Marnangkok. Si Marimbulu Bosi bagi penganut parmalim adalah nama Tuhan bangsa Batak.

Menurut generasi ketiga dari keturunan perintis ugamo malim ini setiap aturan yang dilaksanakan di Bale Pasogit harus dihadiri oleh seluruh umat parmalim. Maka tidaklah mengherankan upacara tahun baru parmalim ini sungguh menjadi momen penting sebagaimana hari natal bagi penganut agama Kristen. Untuk itu, dua hari sebelum upacara Sipaha Sada, diadakan juga mangan napaet (makan sesuatu yang pahit) yakni menyantap makanan simbolik untuk mengenang kepahitan dan penderitaan Raja Nasiak Bagi, sang penebus mereka. Bahan-bahan makanan tersebut merupakan paduan antara daun pepaya muda, cabe, garam, dan nangka muda yang ditumbuk dengan halus. Ritus mangan napaet berlangsung sebagai pembuka dan penutup puasa yang mencapai waktu sampai 24 jam.

Itulah bagi penganut parmalim sebagai bulan permenungan, pertobatan dan bulan penuh rahmat. “Makna hakikinya, bahwa parmalim pada saat sebelum Sipaha Sada ini sudah melaksanakan upacara pengampunan dosa,” jelas Raja Marnangkok yang sudah mengemban kepemimpinan ugamo malim selama dua puluh lima tahun, sejak 1981.

Dengan demikian bisa dikatakan perayaan Sipaha Sada dapat dianggap sebagai jantung ritus dalam upacara keagamaan Parmalim Huta Tinggi. Perayaan itu memuncak dalam tonggo-tonggo (doa-doa) yang dilambungkan pada hari kedua. Ritus itu berlangsung selama lima jam, mulai jam dua belas siang hingga pukul lima sore. Upacara religius itu diselang-selingi oleh tonggo-tonggo, dengan iringan ritmis musik tradisional gondang hasapi, tortor, dan penyampaian persembahan.

Satu hal yang menarik ialah bahwa mereka tetap mempertahankan aturan-aturan ni panortoran. Sesuai dengan catatan Thomson Hs, seorang penyair dan penggiat budaya Batak Toba dan praktek pelaksanaan upacara religius Sipaha Sada baru-baru ini ada sepuluh jenjang doa yang disampaikan.

Dan setiap doa disertai dengan iringan musik tradisional Batak Toba. Doa-doa tersebut ialah:
1. Doa untuk Mulajadi Nabolon, Tuhan Pencipta langit dan bumi.
2. Doa untuk Debata Natolu, (Batara Guru, Debata sori, dan Bala Bulan).
3. Doa untuk Siboru Deak Parujar, yang memberi sumber pengetahuan dan keturunan.
4. Doa untuk Naga Padoha Niaji, penguasa di dalam tanah.
5. Doa untuk Saniang Naga Laut, penguasa air dan kesuburan
6. Doa untuk Raja Uti yang diutus Tuhan sebagai perantara pertama bagi manusia (Batak).
7. Doa untuk Tuhan Simarimbulu Bosi yang hari kelahirannya sekaligus menjadi momentum perayaan Sipaha Sada.
8. Doa untuk Raja Naopat Puluh Opat yakni semua nabi yang diutus Tuhan kepada bangsa-bangsa melalui agama-agama tertentu, termasuk Sisingamangaraja yang diutus bagi orang Batak.
9. Doa untuk Raja Sisingamangaraja, raja yang pernah bertahta di negeri Bakkara.
10. Doa untuk Raja Nasiak Bagi, yang dianggap sebagai penyamaran atau inkarnasi Raja Sisingamangaraja. Pseudonominya biasa disebut Patuan Raja Malim.

Jadi, secara “teologis” bisa dikatakan bahwa ugamo malim juga menganut paham monoteistik, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa karena tujuan akhir semua doa mereka tetap diarahkan kepada debata Mulajadi Nabolon. Usai doa-doa itu dipanjatkan dilanjutkanlah “kotbah” atau renungan yang disampaikan oleh pimpinan, Raja Marnangkok Naipospos. Kemudian mereka manortor secara bergiliran mulai dari keluarga Raja sampai naposo bulung (muda-mudi).

Ugamo malim di negara demokratis
Undang-undang Dasar 45 pasal 29 menjamin setiap warga negara dalam kebebasan untuk memeluk agama dan kepercayaannya. Seyogianya undang-undang dasar itu menjadi landasan hukum bagi setiap warga negara dalam mengekspresikan kebebasan beragama. Di Republik ini sering terjadi tindakan di jalur luar akal sehat, tidak rasional. Katanya untuk menyejahterakan rakyat tetapi malah membuatnya makin sengsara. Hal yang sama terjadi dalam bidang kebebasan beragama. Parmalim, konon adalah salah satu kelompok di bawah pimpinan Raja Sisingamangaraja XII yang setia melakukan pergerakan dalam melawan kolonial Belanda. Itu berarti meski bertindak lokal dalam skop Tanah Batak tetapi paham mereka sudah pada nasionalisme.

Akan tetapi perjalanan sejarah menyatakan lain. Sesudah kemerdekaan, penganut Parmalim semakin terpinggirkan. Bahkan oleh penganut agama tertentu mereka dicitrakan sebagai si pelebegu (yang menyembah setan, hantu). Persepsi demikian tertanam karena klaim kebenaran agama yang masuk ke Indonesia. Tentu saja dampak dari klaim tersebut sangat fatal bagi penganut Parmalim.

Dalam negara secara administratif mereka tidak memperoleh hak yang sama dengan penganut agama lain misalnya. Kristen, Katolik atau Islam. Kenapa demikian? Negara yang katanya menjamin kebebasan beragama ini dan menganut paham demokrasi hanya mengakui lima agama ditambah dengan baru-baru ini satu agama lagi, yakni Kong Huju. Keberadan parmalim masih seperti duri dalam daging dalam pengelolaan negara dan kelompok agama lainnya. Bahkan barangkali ada persepsi dari agama lain bahwa penganut Parmalim masih perlu ditobatkan lagi. Cap si pelebegu atas parmalim tentu tidak mudah dihapus dari benak sebagian masyarakat kita yang sudah “bertobat” entah menjadi Kristen, Katolik, Islam, Budha atau Hindu.

Maka, dalam makalahnya yang berjudul, “Parmalim di Negeri Merdeka” pada Seminar Parmalim Batak Toba: Kekuasaan, Negara, dan Ekspresi Keberagamaan di Indonesia di Best Western Internasional Hotel, Medan 24 November 2005 lalu, Monang Naipospos, seorang penganut Parmalim Huta Tinggi mengatakan bahwa hambatan pertama dalam bernegara yang dihadapi oleh penganut parmalim adalah memperoleh hak pencatatan sipil, misalnya, mengurus akte perkawinan. Selain itu, dalam mengurus KTP (Kartu Tanda Penduduk) misalnya, seorang penganut parmalim akan mengalami kesulitan menuliskan agamanya. “Maka di KTP kami yang ditulis adalah-(garis) atau menganut agama tertentu seperti Islam atau Kristen”, tulis adik kandung dari Raja Marnangkok Naipospos. Kesulitan lain yang sering dihadapi oleh parmalim, tulis Monang, ialah keterkucilan dari adat karena penganut parmalim tidak makan daging babi. Dengan singkat kata persepsi bahwa “agama saya yang paling benar, agamamu tidak, kau masih sipelebegu” masih berdiam di hati sebagian masyarakat kita meski dengan jelas parmalim juga menyembah pada Tuhan yang sama.

Catatan akhir

Para pendiri bangsa ini telah dari dulunya menekankan pluralitas yang terdapat dalam masyarakat Indonesia. Dengan indah pluralisme itu mereka patrikan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Keberbedaan, kemacamragaman dalam berbagai segi kehidupan, entah budaya, etnis, golongan, agama atau kepercayaan diharapkan tidak membawa perpecahan dan saling tuding melainkan membawa persatuan dan kesatuan dalam membangun bangsa dan negara.

Bhinneka Tunggal Ika secara simbolis menyatakan betapa warga negara Indonesia mesti dibangun dalam semangat demokratis, menghargai pandangan dan keyakinan orang atau kelompok lain. Perbedaan, kebhinnekaan atau kemacamragaman tidak menjadi halangan dalam mewujudkan keekaan yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalau demikian halnya Konghuju yang sudah resmi diterima sebagai agama resmi di Indonesia, apakah potensi kultural seperti ugamo malim harus terus diabaikan?

Di jaman yang kian menghilangkan batas-batas ruang dan waktu, batas-batas identitas kultural yang makin kabur bukanlah mengakar dalam budaya lokal itu mendesak tanpa ketinggalan jaman? Kiranya motto Parmalim yang inklusif-radikal (radix, Latin berarti akar) menjadi ruang masuk ke arah sana. Parbinotoan Naimbaru (menerima perkembangan ilmu dan teknologi demi peningkatan sumber daya manusia), Marngolu Naimbaru (Menerima perkembangan jaman untuk meningkatkan kesejahteraan dan peradaban, tanpa melanggar etika sosial sesuai dengan tuntutan ugamo malim), dan Tondi Namarsihohot (tetap bertaqwa kepada Tuhan Debata Mulajadi Nabolon melalui ajaran Sisingamangaraja-Raja Nasiak bagi tanpa dipengaruhi ajaran keyakinan agama lain) berorientasi pada keterbukaan yang dialogis dengan setiap elemen masyarakat.

Penulis : Norton G Manullang SAg , Redaktur Majalah “Menjemaat”, Medan koresponden UCANews, nortonmanullang[-at-]yahoo[-dot-]com

Sumber : Harian SIB


Ada 8 tanggapan untuk artikel “Ugamo Malim di Negara Demokratis”

  1. Tanggapan zico:

    pertama saya sangat berterima kasih karna menurut hemat saya, Ternyata masih ada beberapa orang yang masih menghargai dan sungguh memperhatikan Parmalim.
    Sebagai penganut Ugamo Malim (Parmalim) saya sungguh merasa bersedih, kenapa ? jelas di tuliskan oleh penulis di dalam artikel di atas. Tetapi apa daya Kami sebagai orang yg merasa di pinggirkan, memang tidaklah mudah untuk meminta Hak seperti yang sewajarnya kami dapat sebagai mana mestinya yan telah orang lain dapatkan. untuk itu saya pribadi, merasa berterima kasih banyak, atas artikel nya yang telah di muat disini

  2. Tanggapan Boike Sitorus:

    Saya mengucapkan terimakasih banyak kepada para pemerhati keberadaan Parmalim di negara kita ini.Saya seorang penganut Ugamo Malim yang berpusat di Hutatinggi Laguboti yang juga kebetulan menjabat Sebagai Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Tunas Naimbaru Naposo Bulung Parmalim. Sebagai seorang penganut Ugamo Malim saya merasa belum merdeka di negara RI ini dimana kami sebagai penanganut belum mendapatkan sepenuhnya Hak - hak kami sebagai warga.
    pada tahun lalu kami kesulitan untuk membangun tempat peribadatan kami di Jln. Air bersih Ujung _ Medan karena adanya beberapa warga sekitar yang keberatan dengan alasan kami itu adalah aliran sesat dan tidak punya adat istiadat.sehingga sampai pada detik ini kami belum bisa mendirikan bangunan tersebut. karena keberatan sebagian warga itupula SIMB tidak bisa keluar.
    Belum lagi luka itu kering luka baru datang lagi.pada tanggal 18 January ada pemberitaan di Harian Medan Pos yang berjudul “PROVINSI TAPANULI HANYA DISETUJUI OLEH KETURUNAN PARMALIM” pemberitaan ini didasari dari pernyataan Dr.SHW.Sianipar dimana dalam berita tersebut Parmalim dikatakan sebagai Kanibal pemakan manusia, parbegu ganjang, setan tunggal panaluan, sibiangsa dll dikatakan juga kalau Parmalim Sebagai penghancur budaya batak. walapun berita tersebut telah di sanggah oleh Ir.M. Naipospos selaku Sekretaris Pengurus Pusat Parmalim namun pada tanggal 26 dan 27 February 2007 diteruskan juga pemberitaan di Harian Medan Pos yang Berjudul “ADA APA DI BALIK PROVINSI TAPANULI ?” mengatakan kalau Parmalim Singalapar.pernyataan ini juga disampaikan oleh Dr.SHW.Sianipar. karena berita tersebut adalah merupakan penghinaan dan fitnah bagi kami, saya telah mencoba memberikan sanggahan sebagai berikut:

    Medan, 02 Maret 2007

    No : 007/ DPP.TN/III/2006
    Lamp : -
    Hal : Sanggahan Berita tentang Parmalim

    Dengan Hormat !

    Sehubungan dengan adanya pemberitaan Harian Medan Pos pada tanggal 26 – 27 February 2007 yang didasari pernyataan Dr. SHW. HOPU UGANI SIANIPAR DL yang berjudul : ADA APA DI BALIK PROVINSI TAPANULI ? yang merupakan fitnah bagi kami generasi muda – mudi Parmalim Hutatinggi Laguboti Maka kami dari Tunas Naimbaru Naposo Bulung Parmalim Hutatinggi Laguboti (Organisasi generasi muda – mudi Parmalim) yang berpusat di Jln. Seksama Gg. Rela No. 17 Simpang limun _ Medan, perlu memberikan bantahan atas pemberitaan tersebut.

    Dari tulisan tersebut kami dapat mengambil kesimpulan bahwa Dr. SHW. HOPU UGANI SIANIPAR DL merupakan orang yang sangat kontra terhadap pembentukan Provinsi Tapanuli, tapi kami sebagai generasi muda – mudi Parmalim Hutatinggi Laguboti akan lebih kontra lagi apabila nama Parmalim dibawa – bawakan dalam setiap pernyataan untuk mendukung upaya penggagalan pembentukan Provinsi Tapanuli. Apalagi didasari dari pernyataan – pernyataan yang tidak realistis dan tidak ada relevansinya dengan kenyataan yang sebenarnya / fakta masa kini serta terkesan mengada – ada tanpa konseptual yang jelas.
    Pemberitaan tersebut telah banyak merugikan warga Parmalim Hutatinggi Laguboti khususnya kami generasi muda – mudi (Tunas Naimbaru Naposo Bulung Parmalim Hutatinggi Laguboti). Ada beberapa hal penting yang perlu kami sanggah dalam pemberitaan tersebut antara lain:

    Dalam setiap tulisannya Dr. SHW. HOPU UGANI SIANIPAR DL selalu mengidentikkan Parmalim dengan begu ganjang, singa lapar, kanibal, setan tunggal panaluan, setan pangulu balang, setan uti-utian, dan sibiangsa, sementara pada kenyataannya kami warga Parmalim Hutatinggi Laguboti khususnya generasi muda-mudi Parmalim tidak pernah melihat dan mengenalnya, kami hanya menyembah dan memuja Mulajadi Nabolon sebagai pencipta alam semesta.

    “Gerakan Merdeka Singa Lapar” seperti dalam tulisan Dr. SHW. HOPU UGANI SIANIPAR DL, pernyataan ini merupakan satu pernyataan yang sangat menusuk dan menyakitkan serta fitnah bagi kami. Memang pada kenyataannya kami warga Parmalim Hutatinggi Laguboti khususnya pada generasi Muda-mudi belum “MERDEKA” dalam Negara ini khususnya dalam persamaan hak, dimana kami belum memperoleh hak-hak kami seutuhnya sebagai warga Negara Indonesia, tetapi bukan berarti kami melakukan gerakan konprontasi-konprontasi untuk memerdekakan diri seperti yang dimaksud dalam pernyataan diatas.

    Dalam tulisan tersebut Dr. SHW. HOPU UGANI SIANIPAR DL, banyak mengaitkan nama Parmalim dalam pembentukan PROPINSI TAPANULI, sedangkan pada kenyataanya warga Parmalim Hutatinggi Laguboti tidak pernah memberikan dukungan langsung maupun tidak langsung kepada para penggagas pembentukan PROPINSI TAPANULI, upaya Dr. SHW. HOPU UGANI SIANIPAR DL dalam penggagalan pembentukan PROPINSI TAPANULI dengan membenturkan nama Parmalim dengan para penggagas dan masyarakat batak yang menghendaki PROPINSI TAPANULI jelas tidak efektif karena bernuansa Fitnah kepada warga Parmalim Hutatinggi khusunya kepada generasi muda-mudi Parmalim.

    Dari beberapa poin diatas jelas terlihat bahwa tulisan tidak didasari kenyataan, Dr. SHW. HOPU UGANI SIANIPAR DL menulis pernyataan yang sangat merugikan warga Parmalim Hutatinggi Laguboti dan karena bernuansa Fitnah kepada kami yang tentu saja bisa menimbulkan emosional, karena fitnah lebih kejam dari Pembunuhan. Oleh karena itu dengan sangat hormat kami minta kepada Bapak Dr. SHW. HOPU UGANI SIANIPAR DL agar sesegera mungkin mengklarifikasi ulang dan meluruskan pemberitaan tersebut yang telah mencoreng nama Parmalim khususnya Parmalim Hutatinggi Laguboti.

    Kepada Pimpinan umum Redaksi Medan Pos kami mohon sanggahan ini diterbitkan dan dibuat halaman pertama sebagai perimbangan informasi, atas kesediaannya kami ucapkan terimakasih.

    Akhir kata saya pribadi mengucapkan terimakasih kepada penulis artikel diatas dan juga kepada seluruh pemerhati komunitas Parmalim di negri yang kita cintai ini.

    Horas, Horas, Horas …..Mauliate!!!

  3. Tanggapan jhontri sijabat:

    Saya juga sangat berterima kasih atas artikel diatas. saya adalah salah seorang penganut agama malim hutatinggi laguboti dan berketepatan sebagai sekertaris umum organisasi tunas naimbaru naposo bulung parmalim. setelah saya membaca artikel diatas ternyata ada juga yang memperhatikan parmalim dimana saya selama ini menganggap bahwa parmalim sangat buruk di mata masyarakat bayak yang tidak mengenal kami. mudah-mudahan dengan adanya artikel ini masyarakat yang selama ini berprasangka buruk terhadap kami sadar dan mengetahui tentang ajaran kami dan khususnya kepada para pemerintah yang selama ini tidak menganggap kami sebagai warga negara yang syah dengan tidak memberikan kebebasan kepada kami didalam pencatatan sipil khususnya didalam persamaan hak sebagai warga negara. sehingga dengan adanya artikel ini pemerintah lebih mengenal keberadaan kami. terimakasih atas artikelnya. horas…horas…horas.!!!

  4. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    wah…wah… sudah gawat ini! Siapa sih Dr. SHW. HOPU UGANI SIANIPAR DL. Inilah yang namanya SARA…. Tarik itu tulisanmu kawan….

    Propinsi… itu mesti. Parmalim itu hak azasi (hak mendasar manusia) jangan diusik-usik.

  5. Tanggapan Morden Simarmata:

    Sdr. Dr. SHW.Hopu Ugani Sianipar DL, yang benar saja kawan.. ! apa rupanya kepentingan parmalim dalam pembentukan propinsi tapanuli ? jika dilihat dari jumlah suara (parmalim

  6. Tanggapan rika:

    teruntuk Mr. Dr. SHW. HOPU UGANI SIANIPAR DL. saya sebagai penganut parmalim yang berdomisili diprantauan, sngat miris membaca dan mempelajari apa yang anda tilis. saya heran dari mana mendapatkan gelar akademi anda, klo pemikiran anda ternyata ssangat terbatas. anda sepertinya memang salah satu yang rela melihat bangsa ini terpuruk sampai sesuai dengan keinginan anda.
    teruntuk yang telah memberikan dukungan buat kam, kami haturkan terimakasih yang sedalam-dalamnya. buat kami, tidak diakui oleh negara, sangat pahit dari pada tidak diakui tuhan.
    buat bapak boike sitorus, unang berhenti hamu sampe dison. hami sude angka naposo akan selalu mendukukng sude usahamu.
    buat bapak boke sitorus saya boleh minya alamat email nya?
    alamat email saya: richa_chercher_encore@yahoo.com ato richa.Hjulu@gmail.com
    mauliate….

  7. Tanggapan D. Banjarnahor:

    Ketertarikan saya dengan budaya Batak ketika saya mengobrol dengan salah satu sastrawan Indonesia yang berdomisili di Jogja yang sangat menyayangkan dekadensi budaya batak, bukan hanya di seluruh Indonesia tetapi juga di tanah batak itu sendiri. Kawan saya itu yang sedang asik berperang dengan TUK dan GM-nya (kalau masalah ini silahkan dibaca di buletin sastra BoemiPoetra), mengatakan terlalu sedikit orang batak yang peduli terhadap budaya batak yang asli, bahkan dia mencontohkan Gondang juga telah menjadi Keyboard tunggal di Medan sekalipun. Walapun masih ada yang mempertahan adat batak baik di desa maupun kota tetapi sangat sulit melihat kemurnian dari budaya batak. ada yang bilang ini proses evolutif suatu adat, ada yang bilang akulturasi, ada yang bilang efiensi apabila dipandang dari sudut ekonomi. Yang ektrem, agama asal dari sebagian orang batak juga dipandang sesat di Tanah Batak oleh orang batak itu sendiri. Proses religi beserta reliogitas umat yang dilakukan turun-temurun bagi saya merupakan suatu harta budaya yang layak dipelajari dan tentunya dilestarikan.
    Agama lain yang besar ditanah batak pernah mengobok-obok kepercayaan ditanah batak, dilarangnya sebagian adat batak dan penyembah sipelebegu pun menjadi Idiom sanksi yang sama hinanya seperti KOMUNIS yang pernah besar di Indonesia.
    Siapakah yang salah?
    Apakah pengikut agama lain yang aktif meneriakan sesat, Organisasi para pemimpin umat yang dengan gampangnya memberikan fatwa sesat atau dengan diam-diam menyebarkan kebencian terhadap Kepercayaan batak yang asli?
    atau negara yang tidak pernah walaupun mampu untuk melindungi budaya beserta religi yang ada di tanah batak.
    Tetapi saya lebih suka untuk menyalahkan diri sendiri yang baru sekarang peduli dan mau mempelajari sejarah, kesenian, kebudayaan beserta Religinya. Saya adalah seorang dengan budaya Hybrid yang besar di jakarta kemudian di Solo
    tetapi ketika saya sadar untuk kembali berbudaya batak, saya kesulitan untuk belajar, tidak seperti budaya Jawa tengah yang sering juga saya pelajari. untuk itu marilah para intelektual batak untuk peduli terhadap budaya batak. laluilah fase zaman lisan dari budaya, dan terus dokumentasikan dan lestarikan budaya batak. Karena orang mau berjuang karena dia tahu, Siapa yang peduli terhadap Ugamo Parmalim kalau orang-orang batak yang pintar-pintar, yang jadi jenderal, yang berpengaruh dikekuasaan, serta yang mengaku para pEjuang demokrasi tidak pernah mendengar nama Parmalim.
    demikianlah dari saya mohon jangan dianggap sesat ataupun diajak berdebat dengan bahasa batak (saya masih belajar bahasa batak).

    Mauliate

  8. Tanggapan Poloria Sitorus:

    Perjalanan hidup yg panjang dan tekadang melelahkan. menghadapi kasak-kusuk, caci maki, fitnah, dan semua prasangka yg lebih dominan bersifat negatif kpd kami sbg penganut “Ugamo Malim”. Saya sendiri heran dan tidak tau apa dasar orang-orang yg telah berani memfitnah kami? Apakah mereka tidak takut akan TUHAN Yang Maha Besar, yg sesungguhnya hanya DIA’lah yg berhak menghakimi semua umat yg diciptakanNYA. Dan tidak akan pernah ada manusia yg berhak menghakimi ciptaan TUHAN. Hanya DIA dan selamanya hanyalah DIA~SATU SATUNYA !!!!!! Ugamo Malim merupakan wadah (dalan pardomuan ; dlm bhs.Batak) umat manusia sebagai ciptaan Tuhan kpd Tuhannya, yg dilakukan melalui ritual dengan segala kesucian. Ajaran “Ugamo Malim” memgajarkan kpd penganutnya untuk hidup dalam kesucian, yg diawali dari kesucian secara fisik dan selanjutnya melangkah pd kesucian bhatiniah, baru bisa menyatu dalam komunikasi lewat DO’A melalui ritual kpd Sang Pencipta Yang Maha MULIA, Maha AGUNG, dan Maha SUCI. Memohankan keampunan atas segala kesalahan dan dosa-dosa, memohon berkat karunia, memohon untuk diberi ketabahan dan kesabaaran, diberi kekuatan unuk menerima pahit getirnya cobaan hidup di dunia, memohon untuk tetap dituntun dalam kebenaran dan berjalan sesuai sabda yg dibenarkan olehNYA. Kami penganut “Ugamo Malim” bersembah sujud kpd “TUHAN YG MAHA ESA, MAHA BESAR, SANG PENCIPTA ALAM SEMESTA”.
    Kami menjalankan kewajiban kami sebagai warga negara, juga dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat. Kami diajarkan akan cinta sesama manusia dgn sikap dan perbuatan, diajarkan untuk menghormati “raja” (pemerintah ; artinya secara harfiah dlm bhs. Indonesia), diajarkan cintalingkungan sbg ciptaan Tuhan yg merupakan sumber hidup secara fisik bagi kehidupan manusia.
    Thanx..lain kali kita sambun lagi.

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Main Catur, Gitar dan Bernyanyi
Artikel selanjutnya :
   » » Rasmi Balas Lapor Polisi