Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
9
Apr '06

Main Catur, Gitar dan Bernyanyi



Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

KEBIASAAN  main catur, bernyanyi lagu kampung halaman dan bermain musik gitar saat berkumpul memang diakui, jadi kebiasaan sejumlah pemuda Batak. Tetapi hal itu tidak mesti dilakukan oleh pemuda batak yang sedang kumpul-kumpul. Pasalnya tidak semua pemuda yang berkumpul bisa main catur atau bernyayi. Selain itu juga tergantung pula dengan alat permainan catur atau alat musik yang tersedia. Jika tidak ada keduanya, mereka cukup ngobrol dan memasak makanan khas Batak lalu dimakan bersama. “Tetapi secara umum orang batak, termasuk pemudanya memang suka bermain catur dan bernyanyi karena orang batak sangat suka dengan game atau permainan. Terkadang ada juga yang menggunakan taruhan terkadang ada juga yang sekadar permainan. Jika kalah disuruh bernyayi atau jongkok. Sedangkan bernyayi merupakan kebiasaan adat dan beribadah,” kata Mahasiswa semester 4 jurusan Teknik Mesin Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Timotius Sembiring Kembaren (20).

Dikatakan Timo yang berasal dari Batak Karo, kalau sedang berkumpul dengan teman-teman sesama batak yang ada dirantau, paling suka menyanyikan lagu-lagu yang populer di rantau, seperti lagu kangen-kangenan sama orangtua atau kekasih. Misalnya lagu batak Karo yang berjudul ‘Tangis Anak Rantau’.

Menurut Timo, di batak Karo, bermain catur atau bernyanyi bersama saat berkumpul merupakan satu cara untuk menjalin keakraban, dan kekerabatan, sambungrasa atau untuk mempererat persaudaraan antar sesama suku atau sub suku atau juga dengan komunitasnya.

Disebutkan Timo, ada kebiasaan dari orang batak karo, yaitu anak muda akan suka menyambut orang yang lebih dituakan atau orang yang dihargai dengan tarian pesta Kalimbubu, sejenis tor-tor bagi batak Tapanuli. Biasanya dilakukan bila paman atau mama datang dengan istrinya, maka kita menunjukkan rasa hormat dengan tarian itu yang berjudul ‘Simalungun Raya’. Musiknya pun khusus, dan biasanya yang paling berperan memainkannya adalah anak mudanya.

Selain tarian itu, batak Karo juga sering menyelenggarakan pesta tahunan yang menggunakan alat musik tradisional berupa gong, kulcapi, sejenis seruling yang berbunyi tet, dan torti (alat musik pukul), dimainkan oleh anak muda dan orangtua. Kemudian penarinya terdiri dari pasangan-pasangan, minimal 2 pasang dan maskimal 15 pasang yang menari seperti dansa. Tarian ini disebut ‘Guro-guro Aron’ biasanya acara digelar dari pagi hingga larut malam, dilakukan secara bergiliran dari satu desa dengan desa yang lain.

“Pesta tahunan ini dilakukan untuk menyambut hari raya panen hasil bumi dari masyarakat dipedesaan. Tetapi sayangnya, alat musik tradisional yang digunakan kini sudah diganti dengan keyboard sehingga kelokalannya sudah tergeser. Namun dari segi pelestariannya, tari ini tetap dilakukan meski masyarakat desa tidak panen. Bahkan menjadi tradisi masyarakat batak Karo,” kata Timo.

Timotius menyebutkan, meski banyak anak-anak batak yang tidak lahir dan besar di Sumatera Utara, tetapi mereka cukup tahu dan paham bagaimana budaya dan adat orang batak. Sehingga budaya dan tradisi tidak terlalu tergerus oleh budaya massa. Justru budaya batak kian kental. Walaupun demikian pemuda batak yang ada dirantau tetap saja mengenalkan budaya batak pada teman-teman sesama batak yang belum pernah kekampung halaman, termasuk mengajak dan menanamkan nilai-nilai budaya dan adat batak kepada mereka. “Intinya mereka boleh modern, tetapi minimal mereka mengenal budaya, tradisi atau adatnya sendiri, jangan sampai asal dari batak Karo, tetapi ketika ditanya sedikitpun tidak tahu tentang daerah asalnya,” kata Timo.

Hal senada dikatakan Febriandy Nicolas Sirait (21), mahasiswa Etnomusikologi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta asal Batak Toba, bernyanyi dan main catur memang dulu sudah menjadi kebiasaan saat berkumpul dengan sesama teman dari batak. Tetapi itu tidak mutlak dilakukan. “Tergantung teman-teman yang berkumpul, kalau bisa bernyanyi lagu yang sama maka bernyayi, tetapi tidak ya paling sekadar kumpul-kumpul,” tuturnya.

Terkait dengan kebiasaan bernyanyi bagi warga Batak, Dosen ISI, Krismus Purba menekankan pentingnya menyesuaikan diri dengan adat setempat. Misalnya saja kebiasaan bernyanyi. Di Batak, orang menyanyi sambil jalan kaki bukan merupakan hal aneh. Sebab adat tidak melarangnya. Tetapi di Yogya, akan dinilai aneh ketika ada orang yang bernyanyi sambil jalan. “Makanya di sini saya harus pilih-pilih tempat dulu, jika akan bernyanyi. Bagi saya, menyenandungkan lagu daerah asal merupakan salah satu sarana mengusir sepi dan mengobati kerinduan terhadap kampung halaman,” tambah Krismus.

Pada bagian lain, Andy menyatakan, budaya batak di tanah rantau justru sangat lekat dan kental. Bahkan ada komunitas khusus sesama batak yaitu Keluarga Seniman Batak Japaris (KSBJ). Selain komunitas sesama batak, juga ada komunitas antar marga. Misalnya komunitas Nairasaon yang terdiri dari marga Sirait, Sitourus, Manurung, dan Butar-butar. Jumlah marga yang tergabung dalam komunitas bervariasi, ada juga yang terdiri dari 15 marga dan 60 marga dalam satu komunitas.

Andy menambahkan, dalam suku batak, marga tidak bisa diubah, kecuali bila orang laki-laki batak menikahi perempuan Jawa. Maka orang perempuan Jawa ini akan diberi marga atau bisa dibuatkan marga yang diambilkan dari marga tulangnya pihak laki-laki (adik ibunya pihak laki-laki). Sehingga marganya sama dengan marga adik ibunya pihak laki-laki.

Sumber : (q-s) Kedaulatan Rakyat


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Batak: Mengerti Adat, Tak Ingkar Janji

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Ugamo Malim di Negara Demokratis