Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
8
Apr '06

Jangan Musnahkan Tusam Tapanuli


Tusam atau Pinus merkusii Jungh et de Vries merupakan marga Pinus yang unik,
satu-satunya yang menyebar ke sebelah selatan khatulistiwa atau yang sebaran alamnya terdapat di daerah tropik. Itu sebabnya Dr F Junghuhn orang pertama yang menemukannya di Dolok Suwanon, Sipagimbar/Sipirok, Tapanuli Selatan terheran-heran dan menamakannya Pinus Sumatrana pada tahun 1841.

Akhirnya nama ilmiah atau botanis dari tusam menjadi Pinus merkusii Jungh et de Vries untuk mengabadikan nama Gubernur Jendral Merkus, taxonom de Vries dan penemunya Junghuhn sendiri. Ternyata tusam secara alami ditemukan di Sumatera (terpisah di Aceh, Tapanuli dan Kerinci), di Filipina, Kamboja, Vietnam, Laos, Thailand dan Birma. Di Tapanuli tusam alami tersebar soliter atau berkelompok di beberapa lokasi pegunungan antara lain di Habinsaran, Sialogo, Sipahutar, Dolok Tusam, Dolok Saut, Dolok Pardumahan, Dolok Sipirok, Dolok Sibualbuali, Dolok Suwanon, Roncitan, Padang Mandailing, dan di “Suaka Margasatwa Barumun” (lokasi ini perlu disurvey).

Tanah Longsor di kaki gunung secara alami diduga penyebab utama penyebaran tusam, di Tapanuli dan Kerinci. Dia Aceh, penyebaran alaminya banyak dibantu oleh kebakaran lahan secara periodik yang dilakukan penduduk untuk mendapatkan rumput muda sebagai pakan dalam peternakan liar dan berburu rusa. Kebakaran tegakan tusam di sekitar Dolok Tusam dapat terjadi disebabkan petir di siang hari tanpa hujan yang disebut dengan “ronggur balu”. Peristiwa seperti itu yang kemungkinan besar menghasilkan hamparan hutan tusam yang luas di Dolok Tusam. Ada perbedaan antara tusam yang menyebar di kepulauan (Sumatera dan Filipina) bila dibandingkan dengan yang berada di daratan Asia. Tusam asal kepulauan habitusnya lebih besar dan tinggi, tidak mempunyai “grass stage” atau masa tumbuh semai seperti rumput selama 2-3 tahun yang umum terjadi untuk asal Asia Tenggara.

Kegunaan tusam cukup banyak antara lain untuk papan/tiang, vinir/kayu lapis, kaso, mebel, kotak, tangkai korek api, pulp, tiang listrik, papan wol kayu, pulp/kertas dan penghasil gondorukem. Penduduk di sekitar hutan tusam menggunakannya untuk bahan bangunan rumah dan mereka sengaja menanamnya untuk investasi. Tukang balak sewaktu pulang dari hutan sering membawa anakan untuk ditanam di kebun atau dekat rumah dengan harapan kelak dapat memanfaatkannya. Pemerintah Belanda menanamnya dalam skala besar-besaran di Aek Nauli Kabupaten Simalungun. Pada tahun 1928-1930 tertanam lebih dari 6000 Ha tusam untuk fungsi tata air dan pabrik kertas dengan biaya anggaran daerah.

Areal seluas itu terkenal di dunia sebagai hamparan tanaman konifer terluas di daerah tropik. Secara ekonomis dan teknis tentu tusam atau marga Pinus tidak asing lagi bagi Belanda sebab merupakan jenis primadona di Eropa dan Amerika Utara. Selain itu Aek Nauli terkenal sebagai lokasi pertama praktek menggunakan mikoriza pada persemaian tusam oleh Dr Roeloffs pada tahun 1924. Dengan pengalaman teknik budidaya dan manfaat yang besar tersebut wajar dalam kegiatan Inpres reboisasi dan penghijauan di seluruh Indonesia pada tahun 1970-an menggunakan tusam sebagai jenis utama. Hasilnya pun tidak mengecewakan dengan terbangunnya hutan tanaman tusam yang menempati urutan kedua terluas di Indonesia setelah tanaman jati.

PERMASALAHAN
Pengembangan tanaman tusam secara luas di Indonesia termasuk di Aek Nauli masih mengandalkan bibit asal Aceh. Hutan tanaman tusam di Indonesia umumnya berasal dari Aceh sedangkan asal Tapanuli dan Kerinci belum dikembangkan karena teknik budidayanya terutama dalam hal perbenihan belum dikuasai. Padahal secara visual masyarakat berpendapat adanya keunggulan asal Tapanuli dengan sifat pohon yang lebih lurus, warna kayu lebih putih dan kadar getah/resinnya lebih sedikit bila dibandingkan dengan asal Aceh. Harga kayu untuk pohon yang lurus atau “asli Tapanuli” di Tapanuli Utara jauh lebih mahal atau hampir dua kali dari pada kayu yang dianggap berasal dari Aceh.

Timbul kesangsian bahwa pohon yang lurus tidak selamanya adalah asli Tapanuli disebabkan luasnya hutan tanaman pinus yang sudah merupakan campuran dari asal Aceh dan Tapanuli. Sampai saat ini dalam pemenuhan bibit tusam untuk Gerhan di Tapanuli masih menggunakan bibit asal Aceh. Di pihak lain sudah cukup luas hutan alam tusam asli Tapanuli yang ditebangi dan penanaman kembali areal bekas tebangan tidak menggunakan yang asli Tapanuli maka diduga lama kelamaan asal Tapanuli akan punah. Kepunahan secara fisik atau karena tercemar dengan adanya kemungkinan kawin silang antara tusam Tapanuli dan Aceh,tampaknya kurang diperhatikan Dinas Kehutanan selama ini.

Kepunahan karena ditebang, baik yang di hutan alam ataupun di hutan adat/milik sulit dibendung dengan adanya penerbitan IPKTM yang tampaknya kurang tertib. Sudah puluhan ha areal tusam asli Tapanuli (Sipahutar, Garoga, sekitar Sarulla) dibalak dan kayunya dijual ke luar Tapanuli Utara. Saat ini sedang dalam persiapan untuk menebang blok Dolok Tusam sebaran alami asli Tapanuli yang terluas dan homogen. Dengan kata lain kalau tidak dilakukan pengamanan dan penanaman kembali jenis asli Tapanuli maka kepunahannya tinggal menunggu waktu. Penebangan pohon di hutan lindung yang makin marak dari bisnis kayu tusam ini akan berdampak negatif pada lingkungan hidup.

TINDAK LANJUT
Mengingat masih banyak aspek positif dari tusam asli Tapanuli yang belum diketahui terutama dalam pengembangannya untuk hutan tanaman maka dianggap penting untuk melakukan konservasi secara in situ (di hutan alam) dan secara ex situ atau di luar habitatnya. Penelitian tentang sifat dasar kayu dan produksi getah/resin dari pohon yang lurus dan bengkok baik asli Tapanuli maupun asal Aceh merupakan langkah kedua.

Langkah selanjutnya adalah penelitian tentang teknologi perbenihan serta budidayanya dalam rangka memperoleh persyarakat tumbuh dan kuantitifikasi pertumbuhannya di berbagai lokasi di Indonesia. Pemetaan kesesuaian tempat tumbuh dan rencana umum pengembangannya yang dikaitkan dengan industri serta pemasaran hasil perlu direncanakan secara Regional dan Nasional. Penanaman asli Tapanuli dengan mengumpulkan anakan dari permudaan alaminya perlu ditingkatkan sekaligus mengurangi luas tanaman tusam asal Aceh.

Kiranya kekayaan potensi tusam asli Tapanuli yang kritis jangan sampai punah atau nanti hanya tercatat dalam literatur dan tidak dikenal orang Tapanuli. Penanamannya untuk pohon terang dalam rangka perayaan Natal tampaknya seirama dengan kebiasaan pemakaian pinus untuk pohon Natal di Eropa sebagai asal penyebaran iman Kristiani, merupakan aspek positif tersendiri dalam pelestarian tusam asli Tapanuli. Informasi yang tidak kalah pentingnya mengatakan bahwa tanaman kemenyan lebih tinggi hasilnya bila bercampur dengan tusam perlu dibuktikan. Mudah-mudahan hamparan lahan tidur di Tapanuli terutama di sekitar Danau Toba dapat hijau kembali dengan tusam asli Tapanuli yang multiguna.

Penulis : Rusli MS Harahap , pemerhati Lingkungan Hidup

Sumber : Harian SIB


Ada 3 tanggapan untuk artikel “Jangan Musnahkan Tusam Tapanuli”

  1. Tanggapan Pdt Victor Tinambunan:

    Terima kasih banyak kepada Bpk Rusli MS Harahap dan Silaban Brotherhood atas kepeduliannya terhadap masalah lingkungan. Sudah begitu lama dunia milik Tuhan ini mengerang kesakitan karena tindakan kita umat manusia. Meskipun sudah amat terlambat kita, secara bersama, dapat bertindak lebih bijaksana untuk menghormati Tuhan dengan menghargai ciptaan-Nya. Orang Kristen percaya bahwa bumi dan segala isinya adalah milik Tuhan, sebagaimana tertulis dalam Mzm 24:1.

  2. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    Saya jadi teringat sebuah cerita yang dikhotbahkan ayah saya tentang sejarah tusam/pinus/cemara menjadi Pohon Terang/Gaba2) yang dibawa kedalam gereja pada setiap perayaan Natal. Katanya: Dahulu pada zaman berkembangnya Kristen di Eropah, warga Kristen masih takut dengan setan2 yang dipercaya bermukim di hutan pinus. Di Eropah, Natal yang dirayakan di bulan Desember bertepatan dimusim salju sehingga salju yang turun selalu disertai angin kencang. Karena pinus termasuk ‘tumbuhan berdaun jarum’ maka apabila tertiup angin kencang akan membunyikan suara gemuruh yang menakutkan. Seorang pendeta mengajak warga Kristen itu untuk membawa pohon tusam itu kegereja dan pendeta itupun berkata “Lihatlah setan2 itu sudah keluar dari pohon pinus ini termasuk dari pohon2 dihutan sana” katanya sekarang bila tertiup angin kencang pohon2 pinus itu hanya mengeluarkan siulan saja. Cerita ini tentulah hanya sebatas cerita untuk menyemarakkan Natal dan bukan berarti tusam itu ada setannya sehingga orang2 batak berlomba-lomba menebangi tusam? Tetapi di Cina dan Jepang pada jaman dulu juga memiliki tradisi untuk meletakkan daun tusam didepan pintunya untuk menyenangkan dewa-dewa dan sebagai symbol keberuntungan di awal tahun baru yang kebetulan pula di kedua Negara ini musim salju juga, dan katanya daun tusam tetap hijau di musim dingin itu.

    Sekitar 3 tahun lalu saya menyusuri jalan hancur dikaki Dolok Imun Bonapasogitnya marga-marga Naipospos dan mendapatkan ‘huta’ yang bukan dari marga Naipospos dan bertemu dengan seseorang yang bertanya “Apa kalian mau jiarah?” Pada saat itu pohon2 pinus bergelimpangan dan sudah hampir habis ditebangi, kecuali yang persis di kaki Dolok Imun masih terlihat tumbuh subur. Sekilas saya bertanya “Siapa yang menebangi tusam2 ini?” “Tusam2 ini dijual pengurus Naipospos” katanya. Saya sangat meyakini semua pohon tusam yang ada didataran kaki Dolok Imun sudah punah.

    Dua tahun lalu saya pulang kampung ke Sipoholon dan mendengar deru chainsaw dan truk2 derek meluluh lantakkan pohon2 tusam yang katanya dijual seharga Rp150 – 250 ribu per pohon. Kemudian saya tawarkan untuk menanam kembali dengan jati yang berumur 15 tahun bisa panen, bahkan tawaran bibit gratis tanpa uang tanam, namun mereka tak menyambut karena katanya pemerintah akan beri bibit gratis dan uang tanam. Memang taragis….

    Saya tau tusam2 ini ditanami generasi ompung saya sekitar 40 tahunan lalu dan mereka seenaknya saja menebangi tanpa ada keinginan untuk menanam kembali? Saya coba memberi saran kalkulatif bahwa pohon jati berumur 15 tahun sudah bisa panen dan menghasilkan kayu sekitar 1,7 m3 dengan harga Rp 2 jutaan dibanding pinus 40 tahun hanya dihargai Rp 150 ribu saja. Mereka tidak menggubris karena beranggapan bahwa lebih baik mereka menunggu bibit pinus gratis dan uang tanamnya karena 15 tahun lagi mungkin mereka sudah mati. Demikianlah kata mereka…. Sungguh sangat egois menganggap mereka tak punya anak cucu lagi.

    Sumatran Pine (tusam) memang harus dilestarikan, tetapi saya pesimis bila hanya berharap kepada masyarakat seperti pola pikir yang dikampung saya sana. Ajakan dan himbauan kepada dongan pangaranto tidak berujung sambutan bahkan cibiran dan sinisme mengarah kepada tuduhan kebodohan bila harus membuang uang di bonapasogit….. Tragis & Dilematis.

  3. Tanggapan Marlon Nababan:

    Mendengar nama Tusam (Pinus) saya jadi teringat saat-saat memasak di huta. Koq dari Tusam (pinus) dihubungkan dengan memasak…emang nyambung ya ? ya nyambung dong !Apakah anda sekalian mengenal “Galak-Galak” ?apakah anda pernah melihatnya ? apakah anda pernah melihat pemakaiannya di huta ? saya yakin diantara kita pasti mengenalnya.
    Galak-galak sering sekali dipakai oleh rumah-tangga sebagai “bahan bakar” memasak. Cukup dengan menyuluhnya dengan korek api, setelah terbakar masukkan ke tumpukan kayu pembakaran yang telah disusun sedemikian rupa di “tataring”. Tunggu sekitar 1 menit, maka api akan menyebar dan timbullah api yang digunakan untuk memasak.
    Galak-galak diperoleh dari pohon Tusam (pinus). Bagaimana cara memperolehnya ? gampang-gampang sulit ! tapi biasanya Tusam yang bisa digunakan sebagai galak-galak itu adalah tusam yang mempunyai resin yang tinggi. Biasanya resin yang tinggi itu terkonsentrasi pada satu bagian dari pohon tusam, biasanya tidak jauh dari pangkal. Bagian yang terkonsentrasi resin yang tinggi itu biasanya berwarna merah (merah apa warnanya ya…..merah yang berminyak…ha…ha…ha). Nah, dengan mengikis pohon pinus yang memiliki resin yang terkonsentrasi itu, maka diperolehlah galak-galak yang mampu sebagai pengganti minyak tanah untuk membakar kayu bakar dalam suatu rumah tangga.
    Itu adalah salah satu manfaat sederhana dari pohon tusam, manfaat yang lebih besar sudah dijelaskan di atas.
    Nah, dari situ kita dapat menyimpulkan, bahwa sangat berharganya pohon tusam apabila dimanfaatkan secara maksimal. Kegunaan pohon Tusam seperti yang sudah disebutkan tidak melulu hanya sebagai bahan bangunan, tetapi bisa dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan.
    Nah, sekarang yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana kita, apa usaha kita untuk melestarikan pohon ini.
    Saya melihat, bahwa keberadaan Indorayon telah berpengaruh besar terhadap keberadaan komunitas pohon Tusam, khususnya di Tapanuli. Sumber daya pohon tusam yang ada di Tapanuli selama ini telah tersedot ke dalam penggilingan mesin kertasnya Indorayon. Saya tidak menuduh Indorayon melakukan kecurangan dalam memperoleh bahan baku industrinya, tetapi alangkah baiknya apabila Indorayon sebagai perusahaan kertas muncul sebagai pionir, menjadi penggagas pelestarian pohon pinus agar semua pihak, yaitu Indorayon, pemerintah dan masyarakat sama-sama menikmati keuntungan. Dan satu hal lagi yang paling penting, lingkungan selalu terlihat asri.
    Lakukan proses tebang pilih, jangan asal babat saja. Lakukan reboisasi. 1 pohon pinus yang ditebang langsung diganti dengan menanam 2 pohon pinus yang baru. Apa susahnya sih !
    Hidup “galak-galak” ! Tapanuli Bona Pasogitku yang selalu asri ! Merdeka !

    Horas 3x

    Marlon”adi”Nababan/SiNababan Naposo dari Pekanbaru

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.