Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Kamis
6
Apr '06

Dari mesir ke Batak dengan Horas


INI gurau Bing Slamet, orang pop, pada suatu pertunjukan berlucu-lucu, “Horas Bah, habis beras makan gabah.” Setelah itu gurauan ini meluas, ditirukan oleh siapa saja yang mengira dengannya menjadi lucu. Tetapi, juga sekitar ikhtiar orang pop, horas dinyanyikannya, dan meluas pula ke tengah khalayak. Yang mencipta Titiek Puspa, yang menyanyi Euis Darliah. Kali ini horas disampaikan kepada orang terkasih.

Diantero negari, rasanya tiada padan kata yang dalamnya mengandung arti kekariban serta harapan sejahtera seperti kata horas yang merupakan cara sapa orang Batak. Itu sebabnya ada usul melazimkan horas untuk pemakai bahasa Indonesia umumnya. W.J.S Poerwadarminta memasukannya dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, tetapi entah kenapa Anton M. Moeliono mengeluarkannya dari Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Dari mana datangnya kata horas, menarik diselidik. Setengah orang percaya, sapaan ini berasal dari mesir. Paling tidak, barangkali Dada Meuraxa hanya mengutak-atik matuk akan hal itu dalam bukunya yang lumayan tebal, Sejarah Kebudayaan Sumatera (Firman Hasmar, Medan, 1974). Tetapi, apa yang dikemukannya cukup membuat orang terpancing. Di situ ia menulis, “Apakah ada hubungan kebudayaan Batak dengan zaman Mesir purba?” Jawabnya sendiri tanpa ragu, “Berat dugaan kita tentulah ada.” Lalu dengan yakin pula ia simpulkan, “Ucapan ‘horas’ ini sudah sejak ribuan tahun dikenal oleh suku Batak umumnya.”

Bagaimana cara menghitung jumlah “ribuan” tahun tersebut, tidak dijelaskan dengan perincian yang meyakinkan. Namun, cara ia menyimpulkan horas sebagai sapaan yang ada hubungannya dengan pemujaan kepada horas sebagai sapaan yang ada hubungannya dengan pemujaan kepada Horus, dewa Mesir, agaknya menarik. Katanya, semboyan horas dilakukan orang Batak, meniru kebiasaan nenek-moyangnya yang berasal dari Mesir.

Lebih jauh ditulisnya, di zaman yang “ribuan” tahun lalu itu, pelaut-pelaut Funisia datang ke Tanah Batak, berlabuh di Barus, Muara Soma, Lubo Tua, dan Opir, dalam rangka mencari emas atas perintah raja yang Nabi Sulaiman. Jika betul begitu, maka haruslah dihitung bahwa zaman pemerintahan Sulaiman terjadi sekitar 1.000 tahun SM. Setelah itu, timbul pertanyaan, apakah mungkinterjalin hubungan diplomatik antara Mesir dan Israel (di mana Sulaiman merupakan raja ketiga setelah Saul dan Daud) sementara nenek-moyang mereka dari Isak, Yakub, sampai Musa punya masalah dengan Firaun? (hubungan itu baru terjalin pada abad ke-20, dan itu pun atas rekayasa bekas petani kacang yang kebetulan berkantor di Gedung Putih, melalui proyeknya Camp David).

Kendati demikian data sejarah memperlihatkan bahwa di Tanah Batak zaman lampau telah berkembang mazhab Nasrani yang berasal dari Mesir. Mazhab yang dimaksud adalah Nisturiyah, atau dalam pustaka Barat disebut Nestorian, dari nama Nestorius, patriarkh yang dikucilkan oleh Sri Paus Celestinus ke Mesir karena pandangan-pandangan teologisnya tentang dianggap menguncangkan dan membahayakan kerukunan. Persekutuan gerejawinya itulah yang berdiri di daerah sekitar Tanah Batak pada abad ke-12, dan data tentangnya ditulis oleh seorang musafir Arab dari Fanshur.

Dari catatan Shaykh Abu Saleh al Armini, musafir dari Fanshur tersebut, melalui buku Tadhkur fiha akbar mim al kanais wal adyar, diperoleh keterangan bahwa di Barus telah berdiri sebuah gereja mazhab Nisturiyah bernama Saidat al Adhara al Thaharat Marta Miryam. (Publikasi tentang, ini antara lain, dimuat di majalah Basis, Mei 1969, hlm 262).

Kecenderungan setengah orang menganggap telah terjadi silang budaya Mesir di Tanah Batak, dihubungkan pula oleh adanya sarkofagi (makam model keranda batu) dengan mayat yang dibalsem seperti kebiasaan kuna bangsa Mesir untuk raja-rajanya. Keranda batu yang dihubungkan dengan piramida di Mesir itu terlihat, khususnya, di Samosir, Lumban Suhisuhi, Sagala, Hutarihit, Binangborta, dan Pansur. Menyausul kemudian pendapat bahwa Samosir dalam bahasa Batak berarti seperti mesir, dan Toba, dari thabba, bahasa Mesir yang artinya ‘terobati’, atau taiba, bahasa Mesir yang artinya ‚letih’. Tak pelak lagi silang pendapat pun berkembang.

Sekarang coba kita lihat, sampai di mana jauh bahasa Batak melintas dalam bahasa Indonesia, mengingat jumlah pesastra dari lingkungan kebudayaan Batak, sejak zaman sebelum Pujangga Baru, diawali oleh Merari Siregar (Azab dan Sengsara), cukup banyak menentukan peta sastra Indonesia. Setelah itu, sekian jumlah dari kelas yang berwibawa juga berangkat dari akar bdaya Batak-suatu bentuk budaya yang diingat kedibyaannya oleh istiadat hal marga, hal Dalihan Natolu (Tiga Tungku Sejerangan), hal Amak do rere, anak do babere (Tikar adalah Pandan, Anak adalah Kemenakan), dan seterusnya-yang dengan sendirinya dapat disimpulkan mempengaruhi citra sastra Indonesia umumnya.

Dari zaman Pujangga Baru sampai sekarang, tercatat beberapa nama penting dari latarbelakang budaya Batak; Sanusi Pane (Puspa Mega), Armijn Pane (Belenggu), Gajus Siagian (Perpisahan), Mochtar Lubis (Maut dan Cinta), Sitor Situmorang (Peta Perjalanan), Iwan Simatupang (Merahnya Merah), J.E. Siahaan (Jika Hujan Turun), Bakri Siregar (Jejak Langkah), Barus Siregar (Busa di Laut Hidup), Sori Siregar (Dosa atas Manusia), Ras Siregar (Terima Kasih), Ashadi Siregar (Gadisku di Masa Lalu), Bokor Hutasuhut (Penakluk Ujung Dunia), Rayani Sriwidodo Lubis (Pada Sebuah Lorong), Poppy Donggo Hutagalung (Hari-hari yang Cerah), termasuk Sondang PN (Mata Hati), dan tentu pengamat-pengamat B. Simorangkir Simandjuntak, J.U. Nasution, M.S. Hutagalung, dan Pamusuk Eneste, serta penulis-penulis yang mapan di Bandung, Wilson Nadeak, Alinadia Lubis, Uddin Lubis, dan Henry Guntur Tarigan.

Kata-kata bahasa Batak, oleh peran pesastra, kini dibakukan sebagai bahasa Indonesia, antara lain dicatat oleh Sutan Mohammad Zain dalam Kamus Modern Bahasa Indonesia. Di antara kata-kata yang tak disebut di sana adalah yang kebetulan populer dalam pepatah-pepatah Batak, misalnya: bulu (halak lahi ma parjolo, anso andong si suan bulu = Anak laki dululah, agar ada si tanam bulu), jala (Simbora ha di dinding, simbora pandok dok di jala = Timah yang di dinding, timah untuk pemberat jala), ungkap (Sannari hita ungkap ma pangupa, anso mungkap tua dohot hamomora = Kini kita ungkap pengupa, agar timbul tuah kemuliaan), nian (Sai horas kita jana matorkis, sai ginjang muse nian umur = Baik kita semua selamat, baik panjang juga nian umur). Dan seterusnya.

Diambil dari buku “ 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing

Karya : Alif Danya Munsyi.

Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Diketik ulang oleh : Regina Mayasari (Silaban Brotherhood)


Ada 5 tanggapan untuk artikel “Dari mesir ke Batak dengan Horas”

  1. Tanggapan Ivan Silaban:

    Artikel yang sangat bagus, sayang informasi mengenai hubungan sejarah mesir dengan batak tanggung.
    Maaf kalau agak lari dari topik,
    Judul artikelnya telah bagus dan membuat tertarik untuk membaca, tapi paragraph yang membahas hubungan antara sejarah mesir dan batak tidak terlalu banyak infonya. Ini merupakan informasi baru buat saya, karena selama ini, dalam sejarah batak lebih cenderung dihubungkan dengan india atau toraja atau suku di philiphina yang punya karakter seperti orang batak. Bahkan beberapa orang philiphina yang saya kenal, bisa mengerti banyak kata bahasa batak. Atau punya banyak kata yang sama.
    Kembali ke penulisan artikel, mungkin lebih baik paragrap mengenai bahasa batak yang dijadikan bahasa indonesia dibuat dalam artikel sendiri dan bisa diperbanyak contohnya.
    Dan untuk hubungan sejarah mesir dan batak ditambah informasi, bukti2 sejarah yang ada dan kesamaan kata-kata atau asal mula kata.
    Semoga berkenan, hanya tanggapan saat begadang. Maju terus. Horas

  2. Tanggapan Charly Silaban:

    Kalau melihat buku sumber secara keseluruhan, dan sesuai judul dari buku tersebut, lingkup pembicaraan hanyalah seputar bahasa, bukan sejarah.

    Wah kalau Ivan punya artikel keterkaitan antara Batak dan India / Toraja / Filipina, boleh dong di share sama kita-kita :)

  3. Tanggapan freddy sinaga:

    Salam,
    Dulu saya pernah baca buku yang mengupas hubungan batak dengan mesir, tetapi karena saya pikir tidak penting bagi saya (bodohnya daku …) jadi tidak saya simpan dan tempo hari saya sudah berusaha mencari² lagi tapi tidak ketemu. Buku tsb sudah usang/tua tapi isinya mengupas lebih dalam lagi. Yang masih saya ingat adalah bahwa tongkat/tombak di batak sama dengan di mesir (suku di Indonesia tidak ada yang sama dengan Batak). Kemudian kalau tidak salah juga berhubungan dengan Hotentot di Afrika (?) …
    Mohon maaf kalau saya salah karena artikel tsb sudah entah dimana.
    Terimakasih.

  4. Tanggapan Charly Silaban:

    Horas lae Freddy..
    Wah sayang sekali ya.. Mudah2an nanti semakin banyak yang baca artikel ini, semakin banyak pula yang membagi pengetahuan sehubungan dengan topik ini. Agar kiranya benang merah antara Mesir dan Batak dapat terlihat dengan jelas..
    Demikian pula antara Batak dan Batak Palawa di Filipina, serta Batak dengan ras Mongol..
    Ahhh.. kapan nih Batak kita punya arkeolog untuk meneliti hal ini ??

  5. Tanggapan Sondang Mangunsong:

    Menarik juga artikel ini. Saya tidak menyangka, ternyata saya masih “bersaudara” dengan orang boss-boss saya yang orang-orang mesir tersebut..

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Revisi Itu Abaikan Keluarga Saya
Artikel selanjutnya :
   » » Presiden Akan Bertemu Serikat Pekerja