Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Rabu
29
Mar '06

Quo Vadis Pengelolaan Danau Toba


Danau Toba merupakan salah satu objek wisata kebanggaan masyarakat Indonesia yang (kebetulan) berada di wilayah Provinsi Sumatera Utara. Ada ribuan atau bahkan jutaan wisatawan setiap tahunnya datang mengunjungi Danau Toba, baik yang berasal dari dalam negeri (domestik) maupun yang datang dari mancanegara. Disamping itu, dalam sejarahnya, Danau Toba menjadi icon Sumatera Utara. Hal ini barangkali berkaitan dengan nilai jual (keunikan) yang sangat tinggi yang dimiliki oleh Danau Toba, khususnya sebagai objek wisata alam. Panorama alamnya, yang hampir tidak ada duanya.

Khusus bagi masyarakat Batak (sub etnis Batak; Toba, Karo, Pakpak, Simalungun), Danau Toba memiliki nilai tersendiri. Karena itu, sejarah masyarakat Batak, adalah sejarah Danau Toba dan sebaliknya. Hal ini disebabkan oleh karena kehidupan masyarakat Batak, memiliki kedekatan yang dalam dengan ekosistem Danau Toba. Maka, bagi masyarakat Batak, fungsi ekosistem Danau Toba sangat penting. Bukan hanya sekedar objek wisata, tetapi juga sekaligus juga sebagai sumber mata pencaharian (pertanian, peternakan, dll) bahkan juga sebagai sarana transportasi dan pengairan. Jadi dengan demikian, ada semacam relasi yang dalam antara masyarakat dan ekosistem Danau Toba.

Kini, keberadaan Danau Toba sudah sangat memprihatinkan. Maka dengan demikian, arti dan fungsi Danau Toba sudah mengalami degradasi. Hal ini terbukti dari beberapa ciri fisik Danau Toba yang sudah berobah. Beban Danau Toba semakin besar. Sesungguhnya jauh sebelum ekosistem Danau Toba mengalami degradasi seperti yang berlangsung sekarang ini, sebenarnya sudah cukup banyak riset dan studi kelayakan berkaitan dengan kelestarian Danau Toba.

Artinya, setiap orang sudah diingatkan supaya peka dalam melakukan berbagai aktivitas di sekitar Danau Toba. Dilihat dari berbagai perfektif, bahwa Danau Toba memiliki karakteristik yang berbeda dari ekosistem lainnya. Misalnya dari segi geografis, iklim (klimatologi), geologi, maupun dari segi kultural masyarakat yang tinggal di sektiar Danau Toba. Dengan demikian, perlakuan dalam pengelolaannyapun harus disesuaikan dengan berbagai keberbedaan tersebut.

Pada aspek hidrologis, Danau Toba merupakan sebuah kawasan Daerah Tangkapan Air-DTA (Catchment Area) raksasa dan sangat vital bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya. Jumlah debit air yang masuk dan yang keluar seimbang, menjadikan kondisi air Danau Toba sangat stabil. Akan tetapi, dengan ulah manusia, keseimbangan ini menjadi terganggu. Akibatnya permukaan air di Danau Toba mengalami fluktuasi.

Kemudian, dilihat dari segi hutan dan vegetasinya Danau Toba juga memiliki ciri tersendiri. Hal ini terlihat dari hutan di sektar Danau Toba yang sangat luas sebagai daerah Tangkapan Air Danau Toba. Dari sekitar 260.154 Ha, kurang lebih 94.196 Ha terdiri dari hutan primer dan sekunder. Sedangkan sisanya adalah daratan kering, lahan terbuka dan rawa.

Luasnya lahan seperti itu kemudian digunakan untuk membangun berbagai industri di sekitar Danau Toba. Kemudian ditambah dengan kondisi terbelakangnya masyarakat di sekitar Danau Toba, serta ditunjang oleh ketersediaan sumber daya untuk industri, membuat para pemilik modal untuk membangun industri di sekitar Danau Toba. Dengan alasan ini ada semacam pembenaran bagi para pemilik modal untuk mengeksploitasi sumber daya Danau Toba.

Berbagai aktivitas pemanfaatan sumber daya alam, ternyata lebih bersifat eksploratif tanpa memperhatikan aspek kesinambungan dan kelestarian alam. Padahal, Danau Toba sangat sensitif bagi berbagai perubahan fisik maupun biotis. Hal ini dibuktikan bahwa dalam beberapa tahun belakangan ini, sesudah kehadiran berbagai macam industri di sekitar Danau Toba, maka dengan kasat mata kita bisa melihat bahwa berbagai bentuk implikasinya telah terjadi di ekosistem Danau Toba.

Danau Toba telah dijadikan sebagai objek bagi pemuasan nafsu keserakahan manusia. Fakta-fakta yang ditemukan mengenai persoalan Danau Toba sesungguhnya bermula dari adanya upaya pengeksploitasian tanpa batas terhadap sumber daya yang ada, baik itu air, lahan maupun hutan di sekitarnya. Hal ini kemudian diperparah dengan datangnya gelombang pembangunan yang sering kurang menghiraukan aspek kelestarian lingkungan.

Selama ini, sebenarnya berbagai program telah dicoba dibuat untuk melestarikan ekosistem Danau Toba. Bahkan organisasi/lembaga pun sudah banyak berdiri dengan berlabelkan “cinta Danau Toba”. Tetapi kenyataannya, kerusakan atau degradasi ekosistem Danau Toba masih terus terjadi. Salah satu contohnya adalah program penanaman sejuta pohon tetapi nyatanya hingga kini, banyak lahan di sekitar Danau Toba yang sudah kritis.

Kemudian, adanya pagelaran Pesta Danau Toba setiap tahunnya, yang pada awalnya untuk menggalakkan pariwisata Danau Toba dengan mengandalkan budaya lokal. Ternyata sudah berobah menjadi ajang hura-hura. Kemudian, program pengembangan ikan, yang ternyata kurang memperhatikan karakteristik Danau Toba. Penanaman eceng gondok yang ternyata lebih menjadi beban baru bagi ekosistem Danau Toba.

Bahkan satu kebijakan pemerintah yang kelihatannya sangat fatal adalah dengan memberi ijin untuk pengoperasian berbagai industri di sekitar Danau Toba. Kehadiran industri ini lebih banyak mendatangkan kerugian dari pada keuntungan bagi masyarakat dan ekosistem Danau Toba. Padahal industri-industri tersebut kelangsungan hidupnya sangat tergantung pada kelestarian ekosistem Danau Toba.

Pemerintah kelihatannya cenderung memiliki orientasi jangka pendek dan sangat pramatis. Sehingga kebijakan yang dikeluarkan banyak hanya memikirkan kepentingan pemilik modal. Sialnya, perhatian pemerintah terhadap Danau Toba dan masyarakat di sekitarnya sangat minim. Akibatnya masyarakat dan ekositem Danau Toba sangat dirugikan. Kerugian yang diderita masyarakat bukan hanya kerugian material, tetapi juga kerugian sosial. Misalnya dengan adanya kematian ikan mas dalam jumlah besar, yang baru pertama terjadi dalam sejarah Danau Toba. Hal ini tentu membuat masyarakat sangat terpukul. Terlepas dari apa faktor penyebabnya, tetapi yang pasti masyarakat telah merugi.

Kerugian lain adalah bahwa dengan kebijakan pengelolaan Danau Toba yang kurang memperhatikan budaya lokal, telah menjadikan masyarakat di sekitar Danau Toba mulai terpengaruh dan mulai meninggalkan kearifan lokal. Kerugian sosial telah terjadi. Disinilah kita melihat bahwa tidak adanya grand design dari pemerintah tentang pengelolaan Danau Toba. Bahkan masyarakat juga kurang dilibatkan di dalamnya.

Kini, Danau Toba sudah diambang kepunahan. Salah satu bukti nyata adalah kematian ratusan ton ikan mas yang dipelihara dalam Keranda Jala Apung (KJA) di perairan Danau Toba. Kematian ikan mas tersebut menjadi dasar pijakan bagi orang-orang yang peduli kepada kelestarian Danau Toba untuk mengatakan bahwa ekosistem Danau Toba sekarang ini sedang krisis. Sejarah Danau Toba adalah sejarah “penderitaan”. Riwayat Danau Toba adalah riwayat yang dipenuhi dengan berbagai permasalahan.

Kondisi Danau Toba sekarang ini sudah kritis. Untuk dibutuhkan langkah konkrit dan komprehensif dalam penanganannya. Dalam konteks ini, peran dan tanggung jawab pemerintah daerah (yang ada di sekitar Danau Toba) sangat dibutuhkan. Pemerintah dituntut untuk mengeluarkan kebijakan berpihak pada masyarakat dan kelestarian Danau Toba. Untuk kehadiran industri-industri di sekitar Danau Toba harus dievaluasi secara kritis.

Disamping itu, masyarakat (khususnya yang tinggal di sekitar Danau Toba) diminta untuk secara sadar mengkritisi setiap perlakuan yang datang dari luar yang pada akhirnya membawa dampak bagi kehidupannya. Kepada setiap masyarakat yang ada kaitannya dengan ekosistem Danau Toba atau yang peduli dengan masa depan Danau Toba, baik yang berada di sekitar Danau Toba maupun perantau untuk secara bersama-sama membangun kembali ekosistem Danau Toba. Termasuk dengan mengedepankan nilai-nilai dan norma-norma lokal harus dihidupkan kembali untuk kepentingan masyarakat dan kelestarian ekosistem Danau Toba.

Penulis : Oscar Siagian

Sumber : Harian SIB


Baru ada 1 tanggapan untuk artikel “Quo Vadis Pengelolaan Danau Toba”

  1. Tanggapan willmen46:

    horas….thanx y untuk informasinya…
    sangat bagus…ini bisa jadi materi saya
    karena ada rencana untuk membuat blogs atau website mengenai tanah batak…karena saya adalah anak suku batak..
    horas…
    willmen tb panjaitan

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.