Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Senin
27
Mar '06

Lobu Sisakkak Perlu Dijadikan Objek Wisata Iman


Perkampungan atau Lobu Sisakkak Desa Dolok Nauli Kec. Adian Koting sudah sangat perlu dijadikan sasaran obyek wisata iman karena ditempat bersejarah itu meninggalnya Pdt. Samuel Munson dan Pdt. Henry Leman Missionaris Kristiani yang kedua mau memasuki daerah Rura Silindung.
Pada tahun 1820 yaitu semasa pemerintahan sementara Bangsa Inggris di Nederlandsch Oast India (NOI), Gereja Baptis Inggris mengirimkan tiga orang Penginjil ke NOI yaitu Pendeta Burton, Ward dan Evans.

Mereka lebih dahulu singgah di Batavia dan dari sana ketiga Pendeta berangkat menuju daerah penginjilan masing-masing seperti Pendeta Evans berangkat menuju daerah Tapanuli Selatan sedangkan Pendeta Burton dan Pendeta Ward berangkat menuju daerah Silindung yang pada waktu itu daerah Silindung masih menganut kepercayaan animisme dan kedua Pendeta itu tiba didaerah Silindung pada tahun 1824. Kedua Pendeta itu menemui masyarakat Silindung dan memulai memberitakan Injil yaitu tentang Hukum Taurat, Kelahiran kembali dan penghakiman. Orang-orang di daerah Silindung menolak kehadiran kedua missionaries Kristen itu, mereka (masyarakat Silindung) memberikan jawaban bahwa mereka memiliki adat istiadat yang dapat mengatur hidup mereka, akan tetapi seandainya ada hal yang dapat membuat mereka kaya raya, tolong diberitahukan mereka akan melaksanakan, ungkap mereka karena masih menganut kepercayaan animisme.

Setelah sepuluh tahun kemudian pada tahun 1833, dua orang Pendeta diberangkatakan oleh Badan Zending Boston ke daerah Rura Silindung karena keberangkatan kedua missionaris yang pertama Pendeta Boston dan Ward dianggap gagal dalam melakukan penginjilan sedangkan yang diberangkatkan yang kedua kali itu adalah Pendeta Samuel Munson dan Pendeta Henry Liman. Tanggal 17 Juni 1634 Samuel Munson dan Henry Liman tiba di Sibolga dan setelah beberapa hari di Sibolga kedua orang Missionaris itu berangkat menuju Rura Silindung bersama penterjemah bahasa.

Tepatnya pada hari Minggu 28 Juni 1834 Samuel Munson dan Henry Liman serta penterjemah bahasa yang diajak dari Sibolga tiba di Lobu Sisakkak dan karena dahsiatnya cerita penjajah Bangsa Belanda yang sudah berada Sibolga yang juga mau menuju Rura Silindung kedua orang berkulit putih itu Samuel Munson dan Henry Liman terpaksa ditahan oleh kelompok masyarakat yang dipimpim Raja Panggalamei anti penjajah Bangsa Belanda di Lubo Sisakkak untuk mendapat penjelasan.
Selama tiga hari berturut-turut Raja Panggalamei mengajukan pertanyaan dengan bahasa Tapanuli tentang tujuan Samuel Munson dan Henry Liman mau memasuki Rura Silindung.

Karena tolok atau penterjemah bahasa yang dibawa dari Sibolga sudah lari terbirit-birit karena takut melihat poster tubuh raja Panggalamei yang tinggi badan lebih dari 2 meter, Samuel Munson dan Henry Liman hanya dapat menjawab ” Dame Ma Dihamu”.
Jawaban itu sangat tidak diterima oleh Raja Panggalamei karena jawaban itu tidak cocok dari orang yang ingin menjajah daerah sendiri karena kedua orang berkulit putih itu diduga penjajah Bangsa Belanda sesuai dengan informasi bahwa cirri-ciri penjajah Bangsa Belanda itu orangnya berkulit putih dan rambut pirang kemerah merahan Karena disamping jawaban Samuel Munson dan Henry Liman tidak dapat dimengerti serta kedua Missionaris Kristiani itu menyerahkan 2 pucuk senjata laras panjang, Raja Panggalamei menduga bahwa penyerahan senjata itu menjadi pelecehan terhadap dirinya sehingga secara spontan Raja Panggalamei langsung mengacungkan pedangnya kepada punggung Samuel Munson dan Henry Liman yang mengakibatkan kedua orang itu meninggal ditempat.
Setelah kedua orang Missionaris Kristiani itu sudah tidak beryawa lagi lalu memenggal lehernya serta menunjukkan kepada raja-raja dan masyarakat di Silindung terutama kepada Turunan Raja-raja Si Opat Pisoran.
Penyerahan Kepala Samuel Munson dan Henry liman adalah untuk membuktikan kinerja Raja Panggalamei sesuai kesepakatan raja raja di Rura Silindung yang memohon agar Raja Panggalamei di tempatkan di Lobu Sisakkak untuk menjaga perbatasan agar sipenjajah Bangsa Belanda tidak memasuki daerah Rura Silindung.

Op Sudan Lumban Tobing selaku Pangatua dan M. Sinambela salah seorang penduduk Lobu Pining yang juga selaku Kepala SD Negeri Tornauli ketika ditemui Bonpas untuk menanyakan kebenaran bahwa Raja Panggalamei setelah membunuh Pendeta Samuel Munson dan Henry Liman lalu dagingnya dimakan oleh Raja Panggalamei dan dibagi bagi kepada masyarakat.
M. Sinambela mengatakan bahwa tentang Raja Panggalamei yang dituduh memakan daging Samuel Munson dan Henry liman hal itu tidak dapat dibuktikakn karena benar tidaknya hingga saat ini belum ada yang dapat mengatakan
Jadi kalau saya ditanya, bahwa Raja Panggalamei dapat dikategorikan adalah seorang pejuang kemerdekaan karena selama Raja Panggalamei masih berdiam di Lobu Sisakkak penjajah Bangsa Belanda tidak dapat memasuki Rura Silindung atau penjajah Bangsa Belanda memasuki Balige dan Siborongborong adalah melalui Barus, Pakkat, Parlilitan, Dolok sanggul hingga Siborongborong.
Drs. TP Nainggolan Kadis Perhubungan dan Pariwisata melalui stafnya Kabid PariwisataM. Sitorus membenarkan bahwa tindakan pembunuhan yang dilakukan kelompok masyarakat yang dipimpin raja Panggalamei terhadap Samuel Monsun dan Henry Liman yang dilakukan di Sisakksak Lobu Pining yang berjarak lebih kurang 20 km dari Kota Tarutung.
Jadi kalau disebut bahwa peristiwa tragis itu bukan di Sisakkak Lobu Pining melainkan di Lobu Sisakkak, kami tidak tau pasti karena sejarah itu adalah ditulis orang dulu.
Kami tetap menerima dari keterangan dari berbagai pihak yang mengerti peristiwa ataupun sejarah daerah karena sejarah maupun budaya adalah salah satu upaya sebagai sumber obyek wisata.

Panjaitan penduduk Sitarealaman desa Banuaji 2 melontarkan tanggapan tentang pembunuhan Munson dan Liman, yang dilakukan Raja Panggalamei di Sisakkak Lobu Pining membantah karena Lubo Pining pada masa itu belum ada perkampungan yang ada adalah Lobu Sisakkak, dan sedangkan pembangunan jalan yang melintasi Lobu Pining adalah dizaman rody paksa.
Teng Monumen Munson dan Liman yang dipajangkan di Lobu Pining II adalah salah tempat peristiwa tragis itu adalah terjadi di Lobu Sisakkak, hanya harus kita ketahui bahwa cerita monumen yang sebenarnya adalah yang dikirimkan oleh Zending dari America Texas ke Pearaja Tarutung untuk dipajangdi Lobu Sisakkak, namun pihak Pearaja Tarutung menyerahkan monumen itu kepada masyarakat Banuaji dan selanjutnya menyuruh Banuaji mengantar ke Lobu Sisakkak.
Karena saat membawa monumen itu adalah lewat sungai hingga Lobu Pining bawah dan berat untuk mengangkut ke Lobu sisakkak lalu monumen itu dipajang di tepi sungai Lobu Pining bawah atau I.

Panjaitan mengharapakan agar Dinas Pariwisata Taput segera turun langsung meninjau ulang tempat kejadian bersejarah itu karena setelah dapat dipastikan tempat bersejarah itu terbunuhnya Pendeta Samuel Munson dan Henry Liman maka jadilah tempat bersejarah sesuai dengan realita sasaran Obyek Wisata Iman antar lintas Sibolga Tarutung.

Sumber : (DS) Bona Pasogit


Ada 3 tanggapan untuk artikel “Lobu Sisakkak Perlu Dijadikan Objek Wisata Iman”

  1. Tanggapan ND Hutabarat:

    NDH:
    ———————————————————–
    Menyambut:
    .
    Bergembira membaca informasi SB.
    Selama masih hayat dikandung badan saya terus usahakan voluntir bercengkerma yang perlu via internat interkontinental meniru SB.
    .
    Salam ! Horas !
    NDH (Pendekan ND Hutabarat).

  2. Tanggapan Christian:

    Untuk memperjelas informasi tersebut, bagaimana kalok dicari data yang sebenarnya dari luar.

    Kami mau minta tolong pak, tanggal berapa lahirnya munsen dan leman ? Kalok bisa sekalianlah biografinya…

    Terima Kasih duluan pak….!

  3. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    Pendeta Samuel Munson dan Henry Liman disatu sisi dan Raja Pangalamei disisi lain merupakan dua sudut pandang dalam satu peristiwa sejarah. Kawasan Lobu Pining dari topografinyapun dapat dikembangkan menjadi kawasan wisata yang dengan sendirinya akan memajukan perekonomian rakyat. Dekat ke kawasan itu GM Panggabean sudah memiliki bangunan megah (mungkin hotel/pesanggerahan?).

    Yang perlu dicatat oleh Pemda TAPUT dan dinas pariwisatanya adalah bahwa Tarutung dengan Rura Silindungnya akan kalah bersaing dengan kabupaten sekitarnya terutama untuk kegiatan pusat perekonomian. Kita sudah sepakat menyambut gembira lahirnya ‘Propinsi Batak’ yang akan memicu kegiatan perekonomian disetiap kabupaten. Siborongborong dan Balige tentu akan lebih berpotensi sebagai pusat kegiatan bisnis sementara Pemda Taput sudah harus mempersiapkan Silindung menjadi kawasan wisata dan menjadi tempat peristirahatan ‘pebisnis’ yang memang sangat berpotensi. Kalau boleh digambarkan masterplan-nya sebagai berikut:

    Pebisnis yang datang dari Medan, Jakarta, Singapura, Malaysia mendarat di Silangit untuk berbisnis di Siborongborong dan Balige lalu booking hotel di Silindung. Dari Hotwater spring di Sipoholon dibuat moda transportasi air melalui Aek Sigeaon sampai ke pusat kota Tarutung lalu pengunjung berwisata ke Aek Soda dan Lobupining, kemudian berlanjut wisata doa ke Siatas Barita Salip kasih dan setelah mendapat berkat dari Tuhan, mereka mampir berwisata Agro di Sipoholon sambil membawa oleh2 buah yang menyehatkan. Kalangan pebisnis akan berulang-ulang berkunjung karena keinginan jasmani mereka berbisnis terpenuhi, terpenuhi pula rohani mereka dan pulang dengan sehat walafiat memakan buah2an Sipoholon.

    Kalau Pemda Taput tidak memiliki masterplan seperti yang digambarkan, maka Rura Silindung akan menjadi Rura Silondong, karena akses Sibolga tak ada yang menarik, sementara akses Aek Latong penderitaan, harapan besar pengunjung adalah dari akses Tobasa dan Humbang, maka bila tidak…. Rura Silindung Nauli akan berubah menjadi ‘Rura Silindung Nalilu’.

    Berpikir tentu akan dapat meng-indah-kan semuanya, tetapi tak berbuat tentu akan me-melarat-kan rakyatnya. Horas

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.