Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Senin
27
Mar '06

“Anakhonhi Do Hamoraon Diau” dan Orang Tua Masa Kini


Oleh : Pawen Sihombing, SH

Lewat lagu “Anakhonhi do Hamoraon di Au” karya komponis Nahum Situmorang. Beliau pernah bercerita lewat tulisan yang dibuat oleh Bulman Harianja, BA mengatakan suatu hari Nahum situmorang mitu (minumtuak) disebuah pakter tuak di Medan, secara tak terduga sahabat Nahum datang ke Pakter Tuak tersebut. Ketika mata mereka bertemu pandang, suasana harupun menyelimuti hati kedua bersahabat itu. Mereka berpelukan maklum sudah puluhan tahun tak pernah berjumpa.

Usai melepaskan rasa rindu dan kembali duduk berhadapan, Nahum Situmorang baru sadar bahwa sahabatnya itu membawa seorang anak kecil di Pakter Tuak. Setelah tahu anak kecil itu adalah anak sahabatnya, Nahum bertanya, mengapa anak sekecil itu dibawa ke Pakter Tuak. Oleh sahabatnya dijawab ” Boha bahenon puang, Anakhonhi do hamoraon diau”. (terjemahan bebas : Bagaimana tidak teman, Anakku adalah kekayaan bagiku). Mendengar jawaban sahabatnya, Nahum Situmorang terkesima, lalu secara berulang-ulang menyebut : “Anakhonhi do hamoraon diau, Anakhonhi do hamoraon diau”.

Ironis memang, Nahum Situmorang yang sepanjang hayatnya tidak pernah berumah tangga, mampu mengekpresikan perjuangan orang tua yang banting tulang baik siang maupun malam mencari nafkah, demi memperjuangankan anaknya untuk kelak dapat mengangkat harkat dan martabat keluarga melalui pendidikan yang setinggi-tingginya sebatas kemapuan lewat lagu “Anakhonhi do hamoraoan diau”. Kita kutip refreinnya : Hugogope mansari, arian nang botari, laho pasingkolahon gelleng hi, ai ikkon do singkola, satimbo-timbona, sintap ni natolap gogonghi. Anak menjadi salah satu kekayaan bagi orangtua berlaku universal artinya bangsa mana pun dibelahan bumi ini pasti menginginkan kehadiran anak, baik laki-laki maupun perempuan ditengah keluarga sebagai generasi penerus dan pewaris. Cita- cita dan Primadona Orang Batak
Pada umumnya orang Batak selalu mendambakan 3 hal yakni “Hamoraon (kekayaan materi), Hagabeon (Beranak pinak) dan Hasangapon (pangkat, Jabatan dan Kedudukan).
Ketiga cita- cita diatas, yang paling utama adalah “Hagabeon”, karena walaupun tidak kaya dan terpandang, hagabeon dapat merangkul keduanya dalam konteks “Anakhonhi do hamoraon diau”. Menghindari “Jolma Napunu”, pasangan suami sitri berupaya mencari anak dari kalangan keluarga melalui adopsi lewat pengadilan ataupun adat (paampehon marga).

Cara lain yang ditempuh untuk memperoleh keturunan , semisal istri ternyata mandul, suami diizinkan kawin dengan perempuan lain dan sesudah memperoleh anak, suami akan kembali kepada istrinya atau jika istri ternyata mansul, suami kawin lagi dengan perempuan lain dan menceraikan isterinya atau jika isteri yang pertama. Hal ini sudah jelas bertentangan dengan apa yang telah mereka ikrarkan ketika menerima pemberkatan pernikahan digereja.
Dari beberapa contoh yang disebutkan diatas, terbukti hagabeon menjadi primadona bagi orang batak, walaupun hamoiraon dan hasangapon juga termasuk cita-cita orang batak secara umum.

Peranan Orang Tua Tempo Dulu

Di era 50-60 peranan orang tua dalam membesarkan, mendidik dan mengayomi anak-anaknya dinilai lebih berhasil. Tingkat kepatuhan anak terhadap nasehat orang tuanya cukup teruji. Hal ini dimungkinkan sebab orang tua memberikan perhatian penuh kepada anak-anaknya yang memberi petuah dan nasehat, mana yang pantas dilakukan dan mana yang patut dihindari.

Dulu orang tua (Ibu) memberikan makan bayinya adalah dengan cara “marmeme” yakni nasi lebih dahulu dikunyah-kunyah ibu hingga lumat, kemudian dimasukkan langsung kemulut anaknya. Menurut beberapa orang tua cara ini berdampak hubungan batin ibu dan anak sangat erat. Sekarang seiring kemajuan zaman nasi bayi sudah digiling berupa tepung yang dapat dibeli ditoko serta mengunyahnya kepada sianak memakai sendok. Dari satu sisi memakai sendok dapat diterima sebab bila memakai mulut (dimeme) orang tua yang mengidap penyakit anaknya akan tertular.

Soal menyusukan anak, dulu anak disusui hingga umur 2 tahun(ASI) sekarang umumnya 3 bulan, sudah dipisahkan bahkan ada ibu yang tak mau menyusukan anaknya, demi kepentingan si Ayah. Pentingnya pendidikan melalui jalur formal sekolah, si anak setiap pagi akan “manastas nambur” (menerobos embun pagi) karena jarak tempat tinggal dengan sekolah relatif jauh dan belum adanya transport. Siswa ketika itu sangat hormat kepada gurunya, walaupun dimarahi disekolah, mereka takkan mengadu kepada orang tua dan jika ini terjadi malah sianak yang dibentak-bentak orang tua, orang tuanya bukan seperti sekarang banyak orang tua yang langsung mendatangi guru untuk menghardik, bila perlu memberi “bogem mentah” kepada sang guru. Kondisi kepribadian orang tua dan anak otomatis mampu menghantarkan sianak hingga kesekolah nasatimbo-timbona sesuai kemampuan orangtuanya yang secara umum ketika itu hingga tingkat SD, SLTP, dan SLTA (jarak hingga ke tingkat Sarjana).

Peranan Orang Tua Masa Kini Yang Munafik

Frekwensi pembekalan orang tua kepada anak tentang budi pekerti, agama, sifat tolong menolong, peduli dengan orang lain, adat istiadat, kepatuhan pada guru, jauh menurun disbanding tempo dulu karena orang tua disibuki dengan tugas dan profesi yang bermuara kepada materi sehingga anak sering terlupakan, mereka terhenti pada syair lagu “hugogope mansari, arian nang bodari”. Dengan kesibukan yang sehari-harinya dalam hugogope mansari, maka perhatian kepada anak akan berkurang sehingga anak sering terabaikan dan akhirnya terjun kedalam dunia kegelapan akibat tidak ada kontrol dari orang tuanya.

Pembangkangan anak atas nasehat dan perintah orang tua itu berakar dari orang tua sendiri yang munafik. Orang tua melarang anaknya bermain judi padahal dia penjudi, dilarang minum alcohol padahal dia pemabuk. Disuruh ke gereja, orang tua tidak pernah kegereja dan sebagainya. Kekurangan komunikasi ditengah keluarga akibat kesibukan orang tua memberi peluang bagi sianak untuk berbuat sesuka hati tanpa ada yang mengontrol. Tak perlu heran jika terjadi tawuran antar pelajar, anak masuk tempat maksiat menjadi narkobais terlibat skandal seks dan lain- lain.

Akhirnya dengan kontrol yang baik dari orang tua dan selalu memberikan contoh yang baik bagi anak dan disokong lagi dengan aikkon do sikkola do satimbo-timbona. Maka jadilah orang Batak sebagai orang yang terpandang di negara ini karena selalu mengingat falsafah dalihan natolu “manat mardongan tubu somba marhula- hula dan elek maboru”. Anakhonhido hamoraon di au …………….”. horas , horas, horas !

Sumber : Bona Pasogit


Ada 3 tanggapan untuk artikel ““Anakhonhi Do Hamoraon Diau” dan Orang Tua Masa Kini”

  1. Tanggapan agustina sihombing:

    hai ito ku pawen apa kabar? masih ingat gak waktu kost di kompeks kowilhan kam. durian he….he………..

  2. Tanggapan Arta Tobing:

    mauliate amang..
    soalnya amang udah nulis artikel tentang “anakhoni do naburju”..
    gara-gara artikel amang aku bisa nyelesein tugas marguruku..

  3. Tanggapan Arta Tobing:

    maaf amang aku salah nulis judul artikelnya amang..
    maksudku tadi “Anakhonhi do hamoraon diau”..
    maaf ya amang..
    muliate..
    horas..!!

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Ngatiadji Akan Diganti
Artikel selanjutnya :
   » » 60 Juta Lebih Rakyat Indonesia Bergantung di Sektor Transportasi