Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Rabu
25
Jan '06

Gubernur Sumatera Selatan - Kunjungi Desa-desa untuk Serap Aspirasi


“…Jangan engkau dustai hati
Bila memang sudah tak cinta lagi
Percuma bila terus bersama
Pastikan terpisah…”

Rabu, 18 Januari 2006 lalu, salah satu lagu hit grup band Raja, Tulus, berkumandang di Desa Suka Damai, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Namun, kali ini yang menyanyikan lagu tersebut bukanlah vokalis Raja, Ian Kasela, melainkan Gubernur Sumsel, Ir Syahrial Oesman. Grup band asal Kalimantan itu memang merupakan salah satu band favorit orang nomor satu di Sumsel ini.

Bait demi bait lagu tersebut dinyanyikan suami dari Maphilinda ini dengan merdu. Tiba pada bait terakhir, Gubernur Syahrial mengajak semua yang hadir di acara sosialisasi lumbung pangan dan penggunaan briket batu bara itu menyanyikan lagu tersebut bersama-sama.

Suasana balai pertemuan desa yang berjarak sekitar 27 kilometer dari bakal pelabuhan samudera Tanjung Api-Api itu kemudian menjadi semakin hangat, manakala sebagian anak baru gede (ABG) yang baru saja melakukan atraksi marching band ikut bernyanyi. Tak peduli cuaca panas, Syahrial larut dalam suasana yang jauh dari kesan protokoler itu.

Menyatu dengan masyarakat seperti ini memang merupakan pemandangan yang tidak asing, manakala Gubernur Syahrial melakukan kunjungan kerja ke desa-desa, atau ibu kota kecamatan-kecamatan yang ada di Sumsel.

Dalam catatan Suara Karya, sejak awal pemerintahannya sebagai Gubernur Sumsel, Syahrial Oesman memang kerap meluangkan waktunya turun ke desa-desa. Misalnya, di awal pemerintahannya pada 21 Januari 2004 lalu, Syahrial berkunjung ke Desa Campang Tiga Ilir, Kecamatan Campang Tiga, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur.

Mendatangi desa-desa atau minimal ibu kota kecamatan memang menjadi komitmen Syahrial sejak awal. Dirinya memasang target, hingga akhir 2006 bisa mengunjungi seluruh kecamatan yang ada di Sumsel.

Ini sesuai dengan kebijakan yang dikeluarkan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, bahwa para pejabat jangan hanya bisa nongkrong saja, tapi harus mendekati masyarakat sedekat-dekatnya sehingga dapat merasakan denyut keinginan mereka.

Kunjungan Syahrial ke daerah-daerah ini sebetulnya tidak hanya karena panggilan tugas sesuai dengan imbauan Presiden. Namun sudah sejak jauh-jauh hari sebelum imbauan itu muncul Syahrial sudah melakukannya dalam kurun waktu dua tahun terakhir sejak dirinya menjabat sebagai Gubernur Sumsel.

Berkunjung dengan segala agenda yang telah disiapkan seperti memberi bantuan, menyerahkan anggaran pembangunan desa (APBDes) atau agenda penting lainnya, dengan tujuan bisa melihat langsung kehidupan masyarakat di daerah ini, merupakan satu dari kegiatan Syahrial Oesman, gubernur sipil pertama di era otonomi daerah.

Saat kunjungan ke desa-desa, seperti sudah menjadi ciri khasnya Syahrial melakukan ramah-tamah, dengan lapisan masyarakat. Ia mengimbau agar sikap seperti ini diikuti juga oleh para bawahannya.

“Pejabat di daerah dari level paling atas hingga ke level paling bawah jangan hanya bisa nongkrong di belakang meja. Tapi juga harus terjun langsung ke masyarakat agar bisa mengenal persoalan maupun keinginan masyarakat sehigga kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan sesuai dengan keinginan masyarakat,” katanya.

Dalam catatan Suara Karya setidaknya sudah lebih dari 80 kecamatan yang ada di Sumsel yang sudah dikunjungi Syahrial. Ia menargetkan dapat menyelesaikan kunjungan ke seluruh kecamatan di Sumsel yang berjumlah 147 kecamatan pada akhir tahun 2006 ini.

Yang pasti, setiap kunjungan Syahrial tidak lupa melaksanakan beberapa kegiatan seperti pencanangan implementasi lumbung pangan untuk tingkat kabupaten/kota, sosialisasi pemakaian briket batubara, dan penyerahan bantuan gubernur.

Bukan Basa-basi

Tak salah penilaian banyak pihak jika Gubernur Syahrial Oesman disebut pemimpin yang merakyat. Kedekatannya dengan rakyat ini tidak sekadar kamuflase atau berbasa-basi di setiap daerah yang dikunjunginya Syahrial tidak pernah lupa mendekati warga. Tidak cuma bersalaman, namun Syahrial menyempatkan diri berbincang-bincang untuk menyerap aspirasi apa yang menjadi kemauan masyarakat.

Menutup tahun 2005 lalu, Syahrial mengunjungi desa Wana Mukti, Kecamatan Pulau Rimau, Kabupaten Banyuasin.

Di desa ini, Syahrial selain melakukan acara rutin, juga berjanji akan melakukan perbaikan terhadap jalan ke kecamatan ini. Ia mengungkapkan keprihatinannya atas kerusakan jalan, karena sepanjang 40 kilometer jalan di daerah ini memang dalam kondisi rusak parah. Bahkan empat jembatan yang dilaluinya dalam kondisi rusak parah dan tidak layak dilalui kendaraan.

Warga di sana amat mendambakan jalan dan jembatan itu segera diperbaiki. “Kami sangat mengharapkan perbaikan jalan ini, Pak,” kata tokoh masyarakat setempat, Baharuddin Humaidi. Mendengar itu Syahrial pun menjanjikan perbaikan jalan ini melalui suntikan dana APBN 2006.

Karena kedekatannya dengan masyarakat, baru-baru ini Syahrial memperoleh gelar kehormatan dari perantau Sulawesi Selatan. Dalam acara Tudang Sipulung (musyawarah bersama) Syahrial mendapat gelar Daeng Massenge. Gelar ini diberikan untuk seorang pemimpin yang unggul, bijaksana dan memiliki motivasi tinggi melaksanakan pembangunan demi kepentingan rakyat.

Sementara tokoh masyarakat Batak Sontang HB Silaban mengungkapkan kedekatan Syahrial tanpa pandang bulu, suku, daerah atau para perantau. “Saya lihat dia tidak membedakan pribumi atau perantau serta perhatiannya terhadap semua agama yang dianut masyarakat,” katanya.

Silaban menyatakan rasa salutnya manakala melihat Syahrial yang mau turun langsung seperti melihat pengamanan perayaan Natal 2005 lalu. Pengurus gereja Huria Kristen Batak Protentan (HKBP) ini menghimbau agar semua kepala daerah bisa membaur kepada semua pemeluk agama dan suku. Dia berharap apa yang dilakukan Gubernur Syahrial dapat menjadi contoh bagi kepala daerah lainnya.

Sementara salah satu tokoh pendidik dari Universitas Sriwijaya, Palembang, Erika Buchari mengatakan Syahrial merupakan tipe pemimpin yang masih memiliki ikatan primodial yang tinggi. Erika berharap kedekatan Syahrial dengan masyarakat akan tetap dipertahankan dan lebih ditingkatkan lagi pada masa mendatang. Pendekatan dengan pola turun ke bawah memang sangat efektif bagi seorang pemimpin, apalagi di era otonomi daerah. Jangan sampai ada pemimpin yang justru tidak dikenal rakyatnya.

Hal yang paling menonjol dari Gubernur Syahrial, menurut Erika, gayanya yang khas, jauh dari protokoler. Gaya itu memang tidak dimiliki oleh pemimpin-pemimpin lain, dan ini harus tetap dipertahankan Syahrial, agar dia memperoleh predikat gubernur di hati rakyat, the governor of the people heart,” katanya.

Sumber : (Ida Syahrul) Suara Karya


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.