Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
11
Des '05

Warga Dusun Sinar Pagi Hidup tanpa Pelayanan Kesehatan


Warga Dusun Sinar Pagi Desa Pamah Kecamatan Tanah Pinem Kabupaten Dairi mengaku merasa terasing di negeri sendiri. Hal itu terungkap saat pertemuan masyarakat dengan Bupati Dairi Dr Master Parulian Tumanggor dan Ketua DPRD Leonard Samosir, Rabu (5/4), di perkampungan yang berada di tengah hutan itu.

Saroha Silaban dan Mutiara boru Silaban, Japiner Tumanggor bersama temannya mengatakan, penduduk jauh dari akses pasar, informasi, pendidikan dan terutama kesehatan.

Diterangkan, untuk menjual hasil pertanian berupa kopi dan kemiri hanya bisa mengandalkan tenaga kuda sebab infrastuktur tidak tersedia. Ongkos kuda sejauh15 kilometer ke pasar Pardomuan Kecamatan Pegagan hilir dikenakan Rp400 per kilogram.

Dari segi produktivitas, hasil tani cukup memuaskan namun kendala besar menghadang selama puluhan tahun. Masyarakat terus terpinggirkan. Otomatis, ketidaktersediaan fasilitas umum khususnya jalan membuat mereka tak menikmati listrik. Hidup dalam kegelapan.

Setidaknya, 200 kepala keluarga hidup tanpa pelayanan kesehatan. Tidak ada bidan desa atau puskesmas pembantu, tandas Saroha. Seiring tidak adanya sentuhan medis, ia menuturkan bahwa pada bulan lalu istrinya meninggal dalam perjalanan ketika ditandu.

Begitu juga persoalan pendidikan, sekolah dasar inpres yang dibangun pemerintah kini sudah reot. Hampir rubuh. Tenaga pendidik tidak cukup, 90 siswa hingga kelas enam hanya diajar oleh 3 orang guru. “Bagaimana kami bisa maju,” ujar Mutiara. Padahal di sisi lain beban pajak (PBB-red) cukup mahal sampai Rp40 ribu.

Japiner mengusulkan, solusi awal atas problem itu adalah dengan memekarkan dusun dan memisahkan diri dari Kecamatan Tanah Pinem. Hal itu didasarkan atas sulitnya komunikasi dan transportasi. Berhubungan ke Desa Pamah butuh waktu satu hari selama perjalanan sebab hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Bersamaan kesulitan akses itu, diterangkan, penduduk tak pernah mengenal pengobatan gratis melalui Askes atau pun beras miskin. Sebaliknya, begabung ke Pegagan Hilir dinilai lebih baik karena sarana relatif menguntungkan walaupun sangat minim.

Bupati berjanji akan merealisasikannya. Tahun ini permukiman tersebut akan dimekarkan menjadi satu desa. Upaya kedua yang ditempuh guna pemberian pelayanan publik adalah menyediakan pustu berikut tenaga medis, Langkah selanjutnya, jalan akan diperkeras.

Sumber : (ssr) Harian Analisa, Sidikkalang (cached)


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.