Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Senin
21
Nov '05

Saintis dan Peraih Nobel


Tidak semua saintis atau ilmuwan bisa menjadi peraih Nobel. Tapi tak berarti peraih Nobel lebih cerdas dan tahu segalanya ketimbang ilmuwan yang tidak mendapatkan penghargaan itu. Berulang kali dan beberapa kesempatan Douglas Dean Osheroff, peraih Hadiah Nobel Bidang Fisika pada 1996, menegaskan pendapatnya itu.

Oseroff datang ke Indonesia pada akhir pekan lalu untuk memenuhi undangan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dalam menyambut pencanangan Tahun Indonesia untuk Ilmu Pengetahuan 2005-2006. Pada Pertemuan Ilmuwan Indonesia Abad Ke-21, yang berlangsung pada 18-19 November 2005, itu, isu mengenai haruskah peneliti memperoleh Hadiah Nobel mencuat jadi perbincangan.

Sebagian besar kalangan ilmuwan dalam pertemuan itu mengatakan bahwa penghargaan (seperti Hadiah Nobel) bukan tujuan utama seorang ilmuwan dalam karier penelitiannya. Profesor Pantur Silaban, PhD, dari Laboratorium Fisika Teoritis Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung, yang menjadi pembicara khusus pada pertemuan itu, adalah salah satu yang tegas menentangnya. Ia malah mengatakan, orang yang mengejar penghargaan untuk kepopuleran diri termasuk “satanic people”.

“Lakukan penelitian dengan baik, penghargaan akan datang dengan sendirinya,” kata Pantur. Visi Indonesia meraih Hadiah Nobel pada 2020 pernah dilontarkan Profesor Yohanes Surya, PhD, yang kini guru besar fisika di Universitas Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah. Sekitar 2002, Yohanes memunculkan ide ini dengan cara mengirim pelajar Indonesia yang berprestasi ke universitas terkenal di dunia untuk langsung dididik oleh profesor di universitas itu–yang merupakan peraih Nobel–maka pada 2020 akan ada orang Indonesia yang menjadi co-winner Nobel Prize.

Osheroff ternyata pernah mengajar salah satu mahasiswa strata satu Indonesia di Stanford University. Mahasiswa itu, Evelyn Mintarno, merupakan anggota Tim Olimpiade Fisika Indonesia yang dibimbing oleh Yohanes Surya sehingga meraih medali perunggu di Olimpiade Fisika Internasional ke-22 pada 2002 di Denpasar, Bali. “Ia anak yang pintar. Tak ada alasan yang menghalangi dia untuk mendapatkan Nobel suatu saat nanti,” tutur Osheroff ketika ditanyai pendapatnya tentang Evelyn. Namun, Osheroff agak terkejut dengan target waktu yang ditetapkan Yohanes, yang berarti 15 tahun sejak hari ini.

“Dalam sejarah Hadiah Nobel, paling cepat 17 tahun bagi seorang ilmuwan dapat diakui hasil penelitiannya oleh panitia Hadiah Nobel. Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman dalam sambutan pembukaan pertemuan itu mengatakan bahwa ada tiga hal yang dapat disumbangkan seorang peneliti. “Bagus kalau bisa melakukan ketiga-tiganya. Tapi, jika hanya bisa satu saja, jadilah yang terbaik,” kata Kusmayanto.

Sumber : (DOD | TJANDRA) Koran Tempo


Ada 2 tanggapan untuk artikel “Saintis dan Peraih Nobel”

  1. Tanggapan Saroha Sihite:

    website ini sangat bagus didalamnya banyak ilmu pengetahuan, tapi mungkin masih sedikit orang yang mau membuka web ini. Kebetulan saya masih baru kali ini membuka web ini jadi menurut saya sangat bagus mudah-mudahan makin bagus!

  2. Tanggapan yahya asngari:

    sy mencari data lengkat peraih nobel, dari awal sampai terbaru, namun saya blm menemukan.
    Trims kasih
    Yahya Asngari
    www.nusagama.blogspot.com

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.