Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
20
Nov '05

Pola Kemitraan Pertanian di Simalungun Untungkan Pengusaha dan Petani


Plh Kadis Pertanian Ketahanan Pangan dan Hortikultura Simalungun Ir Efendi Purba bersama Kacabdis Pertanian Kecamatan Bandar Huluan Manaor Silaban, Rabu (16/11) menjelaskan tindak lanjut kerjasama pola kemitraan antara pengusaha sebagai bapak angkat dengan petani dalam upaya meningkatkan produktivitas gabah di Simalungun.

Efendi Purba menyebutkan, yang bersedia menjadi bapak angkat masih 2 orang pengusaha yakni pengusaha Kilang Padi Cahaya dan PT Lumbung Padi Jie Brotehers. Dalam kesepakatan bersama, pengusaha itu menyediakan saprodi (sarana produksi padi) seperti pupuk dan pestisida sehingga para petani terbantu dalam perawatan tanaman padi. Mengamati hasil positif dari kerjasama itu, Dinas Pertanian sendiri, kata Efendi Purba, senantiasa mengembangkan pola kemitraan di Simalungun.

Sementara itu Manaor Silaban mengemukakan, pola kemitraan pengelolaan pertanian merupakan upaya pemberdayaan potensi pengusaha agar peduli dan memperhatikan kepentingan petani. Pola kemitraan ini kelihatannya disambut baik oleh para petani. Di Kecamatan Bandar Huluan sendiri pola kemitraan sudah berlangsung selama dua musim tanam, produktivitas gabah pada umumnya meningkat.

Pengamatan di lapangan menunjukkan, sebelum terbentuknya pola kemitraan produktivitas padi rata-rata 4,5 ton/Ha dan setelah adanya penyediaan saprodi produktivitas meningkat rata-rata 6,2 ton/Ha, peningkatan produktivitas ini dinilai erat kaitannya dengan ketersediaan saprodi. Menurut Manaor Silaban, pengusaha menyediakan pupuk dengan harga kompetitif, misalnya, harga pupuk urea bersubsidi dijual hanya Rp58.000/Zak dengan pembayaran setelah panen. Artinya, pengusaha menyediakan saprodi sesuai dengan permintaan yang diusulkan petani dan transaksi pelunasan pembayaran seluruh biaya dapat dilakukan setelah panen maka dalam hal ini pengusaha telah membantu modal kerja petani.

Pada tahap pertama pola kemitraan ini diperkenalkan luas hamparan yang ditangani hanya 49,12 Ha dengan produktivitas 4,5 ton/Ha dan jumlah peserta 112 KK petani, pada tahap kedua hamparan semakin luas menjadi 100 Ha dengan tingkat produktivitas 6,2 ton/Ha dikelola 198 KK petani. Sedangkan dalam musim tanam 2005-2006 direncanakan sasaran luas hamparan 850 Ha dikelola 1.700 KK petani berada di tiga kecamatan yakni Kecamatan Bandar Huluan, Pematang Bandar dan Bandar, Rata-rata tingkat produktivitas diprakirakan mencapai 7 ton/Ha.

penanganan dan pengelolaan pertanian sawah dengan pola kemitraan di Simalungun, kata Manaor silaban, ternyata saling menguntungkan dua belah pihak antara pengusaha sebagai bapak angkat dan petani. Pengusaha menyediakan saprodi maka petani terhindar dari jeratan para tengkulak yang diduga selalu menawarkan pinjaman uang untuk modal kerja petani dengan sistem ijon.

Sumber : (E11/y) Harian SIB, Simalungun (broken link)


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Indonesian Science Year and 100th Year of Einstein Theory
Artikel selanjutnya :
   » » Saintis dan Peraih Nobel