Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Senin
31
Okt '05

Mayat Nenek Membusuk Tiga Pekan di Rumahnya


Mayatnya diduga dimakan anjing peliharaan.

Warga Kelurahan Mustika Jaya, Bantargebang, Kota Bekasi, digegerkan penemuan mayat seorang nenek, Pipin Supini, 60 tahun, yang sudah membusuk selama tiga pekan dan terpisah dalam beberapa bagian. Potongan daging Supini ditemukan di dalam rumahnya di Blok I/14 Jalan Intan, Perumahan Pondok Timur.

Mayat nenek yang tinggal sendirian itu pertama kali ditemukan adiknya, Nurheni, 58 tahun, Sabtu (29/10) pukul 07.00 WIB. Nurhaeni yang baru saja datang dari Semarang ini memang sengaja mengunjungi Pipin. Kunjungan rutin ini dilakukan sebulan sekali untuk mengantar Pipin–yang sejak 1997 menderita penyakit diabetes–melakukan check up ke rumah sakit.

Ketika tiba di rumah kakaknya, semua pintu dan jendela terkunci rapat dari dalam. Nurheni mengetuk pintu rumah berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Penasaran karena tak ada jawaban, Nurheni membuka pintu menggunakan kunci serep yang selalu disimpan di dalam tasnya.

Begitu pintu terbuka, Nurheni kaget bukan kepalang. Di dalam ruang makan, wanita ini menemukan kakak tercintanya sudah meninggal dunia. “Mayatnya sudah membusuk,” kata Nurheni.

Tragisnya, beberapa bagian tubuh Pipin, terutama lengan dan kaki, sudah terpisah. Pada saat yang bersamaan, Nurheni menemukan tiga ekor anjing jenis doberman kesayangan korban di dalam rumah yang terkunci.

Meski ada dugaan mayat korban dimakan anjing, Kepala Kepolisian Sektor Bantargebang Inspektur Satu Silaban belum bisa memastikan. “Apakah dimakan anjing atau proses pembusukan tiga pekan, masih dalam penyelidikan,” kata Silaban.

Psikolog sosial, Dadang Hawari, menilai, fenomena ini mengarah pada persoalan “wajar” yang mewarnai kehidupan masyarakat kota, seperti di negara-negara Barat. “Menunjukkan masyarakat yang semakin individualistis,” ucap Dadang Hawari di Jakarta kemarin.

“Penemuan mayat setelah beberapa hari dari warga yang tinggal sendirian itu hal yang biasa terjadi di sana (Barat),” ujar Dadang. Budaya individualistis menghilangkan semangat gotong-royong yang membuat seseorang bersikap tak acuh satu sama lain.

Budaya individualistis dapat ditekan dengan sikap proaktif dari para pemuka wilayah atau pemegang otoritas, seperti ketua RT atau RW. Pemimpin wilayah ini harus pandai membuat sistem sehingga tetap ada hubungan antarwarga. “Bentuk panitia untuk menjenguk yang sakit,” Dadang menyarankan.

Sumber : (SISWANTO | YULIAWATI) Koran Tempo


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Tiga Minggu Sendirian, Titin Ditemukan Meninggal
Artikel selanjutnya :
   » » Episode Trilogy Khayalan yang Jadi Nyata