Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
25
Sep '05

Meliput Pertemuan 175 Kepala Negara di New York


SBY Pergi, Peserta Sidang Tinggal Separo
Layout tempat sidang umum PBB di New York mirip ruang sidang gedung DPR/MPR Senayan. Perbedaannya, pakaian peserta sidang lebih beragam. Mulai yang berumbai-rumbai sampai rok cekak.

Yang saya bayangkan sebelumnya tentang konferensi tingkat tinggi (KTT) di PBB yang megah dan sangat serius ternyata berbeda jauh dari yang saya saksikan langsung di New York. KTT yang bernama resmi High Level Plenary Meeting atau yang dikenal luas dengan sebutan Sidang Umum PBB tersebut ternyata begitu-begitu saja. Mirip suasana Sidang Umum MPR di Senayan yang bisa kita lihat lewat TV itu.

Bahkan, suasana sidang wakil-wakil rakyat kita yang sering diolok-olok pemalas tersebut ternyata masih lebih baik, minimal dilihat dari jumlah kehadiran serta kerapian berpakaian.

Ketua Komisi I DPR RI Theo L. Sambuaga pasti bisa merasakan suasana tersebut. Hari itu, Jumat 16 September, dia sudah datang pagi-pagi ketika General Assembly Hall -ruang sidang PBB- yang berkapasitas sekitar 750 orang tersebut masih sepi. Sidang dijadwalkan dimulai pukul 09.00.

Ketika Theo memasuki ruangan pada pukul 08.15, peserta yang hadir baru 16 orang. Itu pun masih mondar-mandir. Theo langsung duduk di kursi di deretan kesembilan dari depan. Beberapa menit kemudian, datang Mensekab Sudi Silalahi. Disusul, Menko Perekonomian Aburizal Bakri dan Menlu Hassan Wirajuda yang duduk dekat Theo.

Presiden SBY datang beserta rombongan kecil pada pukul 08.45 dan langsung ke meja kecil di deretan kedelapan. SBY membuka naskah pidatonya. Dari jauh saya melihat dia membolak-balik kertas, kemudian memberi coretan-coretan. Sudi Silalahi sesekali mendekat dan berbicara dengan SBY. Aburizal dan Hassan duduk manis di belakangnya.

Satu deret di ruang sidang tersebut berisi sekitar 35 kursi. Delegasi Indonesia yang pada hari itu presidennya mendapatkan giliran berpidato memperoleh “jatah” 10 kursi. Yakni, lima kursi di barisan kedelapan dan lima kursi di baris kesembilan. Ketika pimpinan membuka sidang delegasi, yang hadir baru sekitar 150 orang.

Selama hampir dua jam mata saya menjelajahi ruang sidang yang bentuknya juga sangat mirip ruang sidang paripurna gedung DPR/MPR di Senayan tersebut. Pemred RCTI M. Arief Suditomo yang duduk di samping kanan saya berkomentar, “Saya kira, Bung Karno dulu pernah mengajak Ir Silaban ke tempat ini. Dan, dia mendapatkan inspirasi dari gedung ini.”

“Saya kira meniru, bukan dapat inspirasi,” ujar saya. Ir F. Silaban adalah arsitek pembangunan gedung DPR/MPR.

Ruang dalam gedung itu ditata dengan kesan sederhana. Tidak ada aksesori gedung yang mencolok, kecuali logo PBB berukuran sedang dan berwarna dominan biru yang sekaligus menjadi back-drop panggung pimpinan.

Di kanan kiri lambang itu ada monitor besar berukuran 150 inci. Meja dan kursi-kursinya berwarna dominan biru muda. Dindingnya berwarna putih dengan hanya satu lukisan abstrak di dinding kiri dan satu lagi di dinding kanan.

Ruang tersebut berbentuk agak oval. Di panggung pimpinan sidang, lantainya sedikit lebih tinggi daripada lantai utama. Ruang utamanya berhadapan langsung dengan meja pimpinan. Di kanan kiri ruang utama ada ruang sayap yang diisi kursi menghadap ruang utama. Di sayap (kiri) itulah Ibu Negara Ny Ani Yodhoyono ikut mendengarkan pidato SBY didampingi beberapa staf kepresidenan.

Di atas sayap kanan dan kiri ada balkon tempat para kamerawan mengambil gambar. Balkon belakang ditempati sekitar 150 wartawan tulis dan undangan-undangan lainnya.

Dan, pada Jumat itu, 125 orang di antara 150 orang yang memenuhi balkon belakang adalah orang Indonesia. Mereka adalah wartawan, anggota delegasi dan staf kepresidenan, staf protokoler Deplu, para diplomat dari Perwakilan Tetap RI di New York, dan sepertinya juga ibu-ibu “PKK” dari KBRI serta KJRI.

Suasana tak banyak berubah ketika sidang sudah dimulai dengan acara pokok pidato kepala negara. Terus terang saya tidak mencatat presiden mana yang mendapatkan giliran pertama berpidato hari itu. Saya kira, pidato-pidatoan belum dimulai karena peserta sedang juga belum tenang. Di sana-sini masih terdengar orang berbicara.

Apalagi, sidang tersebut tidak menggunakan sound system yang keras. Peserta baru bisa mendengar jelas suara pimpinan dan peserta sidang kalau memakai earphone.

Petugas PBB yang melayani kebutuhan persidangan juga terlihat sangat santai. Saat sidang sedang berlangsung, mereka masih mondar-mandir di ruangan membagi-bagikan naskah. Anggota delegasi berhilir mudik keluar masuk ruangan.

Yang juga menarik, petugas-petugas wanitanya ternyata berpakaian bebas dan tidak harus rapi. Demikian juga dengan anggota delegasi wanitanya. Ada yang berpakaian berwarna-warni penuh rumbai. Ada yang berbaju pesta mirip pengantin. Ada yang mengenakan rok seksi jauh di atas lutut. Serta, ada yang hanya sedikit menutup dada. Tampaknya, tak banyak yang peduli.

SBY mendapatkan giliran pidato yang keempat. Jarum jam menunjuk pukul 09.40 saat presiden Indonesia berpostur tubuh “Eropa” itu keluar ruangan di balik meja pimpinan dan menuju podium. Di kanan kiri podium agak ke belakang berdiri dua petugas keamanan PBB berbaju dinas abu-abu. Saat itu, peserta sidang yang hadir sekitar 350 orang. Itu merupakan jumlah yang besar dibandingkan saat kepala negara lain berpidato yang hanya dihadiri 150 orang.

Seperti biasa, SBY selalu mengawali pidatonya dengan ucapan bismillahi-rahmaanirrahiim. Selalu. Di tempat mana pun dan di hadapan siapa pun, dia selalui mengawali dengan kalimat yang berarti “dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang” tersebut. Setelah itu, bla bla bla, dia berbicara menggunakan bahasa Inggris yang sering mengagumkan orang asing yang mendengarnya. Konon, bahasa Inggris SBY tergolong excellent.

Kalimat kedua yang diucapkan SBY dalam pidatonya, “Saya datang ke tempat ini berbicara atas nama 220 juta rakyat yang memilih saya menjadi presiden melalui pemilihan presiden secara langsung yang pertama di Indonesia.” Kalimat berikutnya, “Saya juga membawa pesan 4,6 miliar penduduk Asia-Afrika yang disampaikan melalui perwakilannya dalam Forum Kerja Sama Asia-Afrika di Jakarta pada April lalu.”

Ketika SBY menyebut kata Afrika, saya melihat beberapa orang delegasi dari Ghana, Gabon, dan Nicaragua bertepuk tangan. Tapi, mungkin karena tidak disambut yang lain, tepuk tangan itu berhenti.

Pidato SBY mudah disimak lewat earphone dan monitor TV karena yang diucapkan (dengan bahasa Inggris) sama dengan gerak bibirnya di TV. Berbeda dari kepala negara yang berpidato dengan bahasa asli negaranya. Sebab, suara yang terdengar (suara terjemahan) berbeda dari ucapannya.

Seperti presiden dari negara lain, SBY hanya mendapatkan jatah berpidato selama lima menit. Tepat waktu. Sesuai teks, tak menyimpang dari dua halaman naskah yang sudah disiapkannya. Gaya pidatonya lugas. Bahasa tubuhnya wajar. Tak banyak menggerakkan tangan atau mengerutkan wajah, misalnya.

Pidato SBY selesai ketika lampu merah di podium -tanda habisnya waktu- menyala. Jangan berharap ada tepuk tangan meriah. Pidato Presiden Venezuela Hugo Chaves yang meluap-luap dan menuding-nuding AS saja tak mendapatkan aplaus seperti itu.

Ruang sidang langsung sepi sepeninggal SBY. Mungkin jumlah peserta tinggal separonya. SBY harus cepat-cepat ke acara lain. Pagi itu juga dia ditunggu sejawatnya PM Australia John Howard dan PM Belanda Jan Balkenende di lobi lantai II. Setelah itu, SBY harus segera kembali ke hotel.

Kali ini, dia siap diceramahi khatib salat Jumat dai muda kelahiran Sulawesi Selatan yang kini menjadi imam besar Masjid Islamic Cultural Centre di New York, Syamsi Alie.

Sumber : (H. Margiono) Jawa Pos, New York


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » ‘People just want to pray’
Artikel selanjutnya :
   » » Pengurus KPN [Koperasi Pegawai Negeri] SMAN 1 Binjai Diganti Mendadak