Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Senin
19
Sep '05

Monografi Pengembangan Revitalisasi Opera Batak (Januari 2004 - Agustus 2005)


Rekonstruksi dan Inovasi
Konsep semula yang dikonstruk untuk revitalisasi Opera Batak dilakukan dengan tiga segmen, yakni: regenerasi, rekonstruksi, dan inovasi. Target regenerasi itu telah terlaksana melalui kehadiran GOS. Sedangkan rekonstruksi, yang mengandalkan pemain lama, sebenarnya telah mulai diperhatikan sejak GOS mengadakan dua kali pentas. Target rekonstruksi itu berlangsung melalui kerjasama dengan Dra. Ritaony Hutajulu, MA, alumnus dan dosen di jurusan Etnomusikologi USU yang pernah mengadakan penelitian skripsinya tentang musik/vokal Opera Batak. Beliau terdorong kembali untuk terlibat mengajak beberapa mantan atau para pemain Opera Batak terdahulu, apalagi dengan dukungan dana dari Hibah Seni Yayasan Kelola. Bersama dengan beliau teks Guru Saman dipentaskan dua kali di Medan (Pendopo USU dan Taman Budaya Sumatera Utara) pada bulan Juni 2003. Namun target rekonstruksi melalui kerjasama itu tidak mampu hanya melibatkan para pemain lama.

Nuansa pementasan para pemain lama secara murni berlangsung di Balige, 14 Agustus 2004 lalu. Dinas Pariwisata Tobasa mengundang kelompok Dos Roha (pimpinan Marsius Sitohang) untuk mementaskan cerita Siboru Tumbaga. Pembayaran Rp. 12.000.000,- untuk produksi mereka itu dialokasikan dari dana Rp. 50.000.000,- (Limapuluh Juta Rupiah) yang diturunkan Dirjen Kebudayaan Pariwisata RI. Berikut adalah data para pemain lama yang dilibatkan dalam kesempatan itu.

1. Dius Sitohang, lahir tahun 1957 dan mulai beropera 1970 dengan kemampuan memainkan garantung dan odap. Grup yang pernah dimasukinya adalah Grup Dos Roha pimpinan almarhum Dahri Uhum Sitohang. Menjadi pemeran Ronggur dalam program Opera Batak Metropolitan (OBM) yang ditayangkan di TVRI Sumut setiap Senen dan Rabu pukul 14.00 - 14.30 sejak 10 Mei 2004. Aktivitas lainnya sehari-hari sebagai pembuat garantung.

2. Mery Silalahi, lahir di lingkungan aktivitas beropera pada tahun 1962. Ayahnya, Maredan Silalahi, pimpinan Grup Mery Permasi meninggal ketika usianya sekitar delapan tahun sehingga tidak sempat menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar. Pernah bergabung sebagai pemain Grup Ropeda pimpinan Lomo Pandiangan, Grup Serada pimpinan Maruhum Simbolon, Ros Opera, dan Uli Grup pimpinan Daulat Pandiangan. Pemilik Kedai Pamurnas dalam OBM dengan panggilan Nai Ambolas alias Rima Melati. Pertemuannya dengan Dius tahun 1980-an ketika pentas cerita Tiomina Grup Ropeda di Sidikalang dan punya anak sepuluh orang. Sebagai Siboru Tumbaga.

3. Sabam Sitohang, pemain kecapi ini lahir di Palipi tahun 1952 dan sempat tamat Sekolah Dasar. Pernah bergabung di Grup Dos Roha dan Sinta Uli pimpinan Mangumbang Sitohang. Sebagai dongan tubu dalam cerita Siboru Tumbaga (Balige 14 Agustus 2004).

4. Marsius Sitohang, lahir di Palipi 1953 dan bermain Opera Batak sejak usia 15 tahun. Namanya sudah tidak asing lagi di dunia musik Batak dan sudah melanglang ke berbagai negara setelah sempat empat tahun sebagai penarik becak. Grup yang pernah dimasukinya adalah Grup Dos Roha dan Sinta Uli. Di OBM menjadi Voorzitter (pimpinan) di Kantor Tonil Opera Batak dengan nama Pangogap. Sebagai Pangintuai dalam Siboru Tumbaga (Balige 14 Agustus 2004).

5. Edward Sitohang, adik kandung Marsius yang lahir 1956 ini adalah pemain taganing yang juga pernah bergabung di Grup Saut Sinta Uli. Sebagai Ompu Buangga.

6. Martua Sitohang, lahir di Palipi 1948 dan mulai bermain Opera Batak 1962, empat tahun sebelum Grup Dos Roha yang dipimpin ayahnya terdaftar di Tebing (Deli Serdang) 1966. Grup yang pernah dimasukinya adalah Grup Mamapar (berdiri 1955) pimpinan Dahri Uhum Sitohang dan Simanjuntak, KKBI di Rindam Siantar. Dalam OBM menjadi pemeran Guru Salamat. Sebagai Ompu Guasa dalam cerita Siboru Tumbaga (Balige 14 Agustus 2004).

7. Alister Nainggolan, pemain watak kelahiran Pusuk tahun 1936 ini sempat duduk sampai kelas dua SMA. Sebelum memimpin Grup Tiurma Opera (berdiri 1975) pernah bergabung dengan Grup Serindo pimpinan Tilhang Gultom, Grup Serada, dan Grup Serasi. Hampir semua alat musik dalam Opera Batak mampu dimainkannya. Sebagai Fort de Kock dalam OBM. Sebagai Pangintuai dan Parburu dalam cerita Siboru Tumbaga (Balige 14 Agustus 2004).

8. Robert Sitohang, putra Marsius yang lahir di Siantar 1974 ini adalah pemain garantung di OBM dan pernah bergabung di Uli Grup.

9. Lasmer Simarmata, pargonsi kelahiran Samosir 1962 ini adalah pemain sarune di OBM.

10. E. Br. Silaban, kelahiran Sidikalang tahun 1945 ini dulunya hanya penonton Opera Batak. Sudah ikut dalam pentas 20-an cerita. Pernah bergabung pada grup Tilhang Gultom. Sebagai Ina-ina..

11. D. br. Naibaho, lahir 1960 sebagai penari, penyanyi, dan Ina-ina.

12. R. br Sitohang, sebagai penyanyi, penari dan figuran. Lahir 1954.

13. Sampeltek Simbolon, musisi dan pemain sarune ini adalah aktivis Opera Batak terdahulu.

Gambaran dari pementasan mereka menunjukkan ciri dan kekuatan khusus dalam membuat suatu produksi. Cerita Siboru Tumbaga yang mereka mainkan berbeda versinya dengan yang digarap melalui GOS. Demikian dengan kekuatan karakter dan spontanitas permainan yang dapat menjadi bandingan serta pembelajaran khusus bagi beberapa pemain GOS yang hadir pada kesempatan itu.

Sedangkan segmen inovasi semula dibayangkan dapat berlangsung lambat laun setelah regenerasi dan rekonstruksi mulai mandiri secara grup. Hal ini telah dibicarakan dengan Dr. Mauly Purba, ketua Etnomusikologi USU yang terlibat sebagai pemusik ke pementasan di TMII. Namun angan-angan itu tampaknya memerlukan kerjasama dengan Drs. Ben M. Pasaribu, MA, yang mendapat tawaran membuat program Opera Batak Metropolitan di TVRI Sumut. Ajakan terlibat dalam program tersebut menjadi salah satu kemungkinan untuk membangun segmen inovasi dalam revitalisasi. Salah satu unsur inovatif melalui Opera Batak Metropolitan adalah pembuatan cerita-cerita terbaru yang kontekstual dan pemain tamu dari lintas budaya seperti Jawa, Amerika, Melayu, Karo, dan Banjar.

Pentas Keliling Siboru Tumbaga

Pengadaan agenda pentas keliling tidak saja dalam rangka stimulasi bagi calon-calon pemain di GOS. Lebih daripada itu bertujuan memotivasi daerah-daerah basis Opera Batak terdahulu untuk melakukan upaya revitalisasi. Motivasi itu dapat membayangkan munculnya grup-grup terbaru seperti grup Opera Batak terdahulu yang sempat mencapai 30-an jumlahnya. Agenda pentas keliling membawa garapan teks Siboru Tumbaga, teks percontohan pertama yang telah dipentaskan empat kali. Prasyarat itu sekaligus mendapat tambahan akses pendanaan yang diajukan secara pribadi kepada pihak Yayasan Kelola (Jakarta). Dana yang diberikan pihak Yayasan Kelola diasumsikan sebagai bantuan di samping alokasi yang diajukan ke Pemkab Taput. Namun agenda pentas keliling kemudian terlaksana (22 -30 Januari 2005) dengan dana hibah seni, “dana abadi”, dan kerjasama dengan fasilitator (SMK I HKBP Sipoholon, SMKN I Laguboti, dan Aliansi Teater Siantar) serta dukungan dari berbagai jaringan (Habitat Seni Laklak, Mari Foto, Na Denggan, Gorga CafĂ©, Ade Kartika, Ars Dance Theatre, Studio Sanggar Sutera KAM, Sumut Pos, Pos Metro Siantar, Metro Tapanuli, Tobali Travel, Padang Bulan Teater, teman-teman pers dan seniman, Gitar Sipoholon, dan Vafe Gus Entertainment).

Garapan Siboru Tumbaga versi GOS merupakan hasil modifikasi dari pertimbangan subkultur Silindung, upaya sinkronisasi dramaturgi Opera Batak, dan pembatasan durasi tontonan. Di tiga tujuan pentas (Seminarium Sipoholon, Laguboti, dan Siantar) diadakan juga pelatihan dan diskusi sebagai lanjutan berbagi (sharing) dan untuk mendapatkan pemikiran selanjutnya mengembangkan Opera Batak. Antusias peserta pelatihan dan diskusi di setiap tempat tujuan menyambut agenda pentas keliling dengan baik. Tiga siswa (Paido, Faber, dan Chandra) dari SMK I HKBP Sipoholon tertarik mengikuti pentas ke dua tempat berikutnya. Di Laguboti telah dimunculkan Sanggar Pande Nauli dalam kaitannya dengan agenda. Sedangkan di Siantar muncul kerinduan yang sama dari penonton yang jumlahnya boleh dikatakan surplus selama pentas keliling.

Selesai agenda pentas keliling keberadaan GOS sebaiknya dikembalikan kepada masyarakat pendukungnya di Tarutung. Para pemain yang masih ingin terlibat dalam berbagai peluang tidak lagi memiliki sekretariat, tempat latihan, atau pendamping seperti sebelumnya. Namun mereka siap saja jika dipanggil atau minta diikutkan dalam setiap pementasan. Pentas keliling telah menambah dampak lain; bukan saja kepada personil GOS. Namun wacana Opera Batak mulai diperhatikan kembali sebagai objek kajian di Perguruan Tinggi. Dua mahasiswa (Rosmei Siagian dan Kartini Siregar) dari Perguruan Tinggi di Medan (Unimed dan USU) mempersiapkan skripsinya tentang Opera Batak dan Erni Simatupang, mahasiswa pasca sarjana dari STSI Solo juga memilih objek tesisnya dengan Opera Batak.

Pengadaan Pusat Latihan di Siantar

Setelah keberadaan GOS kelihatan tidak bisa dipertahankan, ide mengadakan Pusat Latihan Opera Batak di Siantar dianggap sangat kondusif untuk menghidupkan Opera Batak. Ide tersebut muncul dengan berbagai pertimbangan strategis dan historis. Secara strategis, kota Siantar berada di pertengahan jalur Medan - Tarutung (7 jam perjalanan transport) dan mudah dijangkau dari berbagai tempat seperti Samosir, Tobasa, Humbahas, dan Asahan. Jarak kota Siantar ke Medan 128 Km dan ke Tarutung 158 Km. Kota Siantar terkait secara historis dengan aktivitas Tilhang Gultom, salah seorang pionir Opera Batak yang terkenal ditambah dengan persentasi jumlah sub etnik Toba sebanyak 58 persen.

Faktor-faktor tersebut dianggap telah mendukung secara potensial untuk melaksanakan aktivitas dan program lanjutan tentang Opera Batak dan persiapannya mendirikan lembaga formal seperti akademi seni yang dapat menampung generasi muda dan menjembatani pemain lama yang belum sempat mengorganisir upaya regenerasi.

Pusat Latihan diadakan atas dukungan kerjasama dan koalisi yang terbuka dari dalam dan luar negeri dengan tim kerja lima orang (dua di antaranya personil GOS) untuk sekaligus mempersiapkan salah satu pementasan ke Jakarta 2006 dan Medan 2007, yakni cerita Pulo Batu (Sitor Situmorang).

*Penulis dan Sutradara, tinggal di Medan.

Sumber : (Thompson Hs) Bona Pasogit


Baru ada 1 tanggapan untuk artikel “Monografi Pengembangan Revitalisasi Opera Batak (Januari 2004 - Agustus 2005)”

  1. Tanggapan jahoras nainggolan:

    Saya tidak banyak mengetahui tentang orang orang yang memimpin opera batak,waktu saya masih kecil sering menomton opera tilhang gultom sebagai anak anak pada waktu itu saya menilai opera tilhang gultom sangat cukup diminati orang sebagai hiburan satu satunya yang ada dipedesaan.sayangnya kalua ada opera datang kekampung saya selalu banyak yang gratis tanpa tiket,ya maklum ada aja jagoan kampung yang membawa sanak keluarganya.Maksud saya mana ada usaha yang bisa maju kalau masih ada praktek semacam itu,Sebenarnya opera batak itu bagus untuk dikembangkan melalui orang musisi seperti tilhang gultom

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Gita Gutawa: Titisan Erwin Gutawa Yang Siap Bikin Album
Artikel selanjutnya :
   » » Kisah Para Malim Tanah Batak