Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
10
Sep '05

Kasus Terbunuhnya Katenni Disidangkan


Kasus pembunuhan terhadap Katteni yang pernah menggemparkan warga Sangkulirang pada media Mei lalu, mulai disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Sangatta Kamis (8/9). Dalam persidangan itu, Jaksa penuntut umum (JPU) Waluyo Hermawan SH berhasil menghadirkan terdakwa di Meja Hijau.

Harmin (21), yang duduk di meja pesakitan saat mengikuti persidangan nampak tidak bersemangat. Kadang jawabannya tidak nyambung dengan hakim. Saat majelis hakim mulai mencecar pertanyaan padanya, terdakwa terlihat sedikit gugup.

Sidang dipimpin Hakim Ketua (HK) Andreas SH, hakim anggota Silaban SH dan Bambang SH berlansung lancar. Di hadapan majelis hakim terdakwa menjelaskan kronologi kasus tersebut dengan tuntas. Menurut Harmin, saat itu tidak ada sedikit pun niatnya untuk membunuh korban yang tak lain adalah tetangganya sendiri.

Hari itu kata terdakwa, ia bersama ayahnya Arifuddin dan adiknya Saharuddin bertiga berboncengan mengendari sepeda motor setelah bekerja seharian di kebun hendak pulang ke rumah. Lalu, dalam perjalanan tiba-tiba laju motornya dihentikan seseorang yang tak lain adalah korban.

Saat itu korban memegang sebilah parang memaki mereka bertiga dan menyuruh ayah korban turun dari motor untuk masuk ke kebun korban melihat jejak Sapi yang diduga milik Ayah terdakwa. Namun, melihat parang korban, ayah terdakwa jadi keder hingga tidak mau mengabulkan permintaan itu.

Mereka pun kemudian tancap gas meninggalkan korban yang masih mengomel. Rupanya, masalahnya bukan hanya selesai sampai di situ. Korban yang merasa diabaikan tidak diam saja melihat korban yang pergi begitu saja, korban lalu mengambil batu dan melempar terdakwa.

Ayah terdakwa yang mengendarai motor akhirnya naik pitam, ia pun menghentikan motornya dan menghampiri korban yang diikuti terdakwa dan adiknya. Melihat mereka datang, korban pun bergegas menghampiri ayah terdakwa dan tanpa ba-bi-bu korban mengayunkan parangnya ke arah ayah terdakwa dan melukai ibu jari, telunjuk dan jari tengahnya. Saat itu ayah korban lalu mundur dan melempar parangnya yang kemudian diambil adik terdakwa.

Saat itu, kata terdakwa kepada Majelis Hakim ia dan adiknya lari, namun korban mengejar mereka dari belakang. Mendengar keterangan ini hakim langsung menyanggah dan mengatakan tidak masuk akal kalau mereka lari meninggalkan ayahnya yang terluka

Terdakwa kemudian dipersilahkan untuk melanjutkan keterangannya. Dan, kata terdakwa darahnya seakan mendidih karena korban memarangi bagian belakangnya begitu pun dengan adiknya. Maka saat korban berbalik hendak memarangi lagi adiknya dengan sigap terdakwa menerjang korban dan langsung tersungkur ke tanah. Secara bergantian terdakwa dan adiknya berulang-ulang menimpas korban hingga tak bernyawa. Atas perbuatan terdakwa, oleh JPU terdakwa diancam pidana pasal 338 KUHP.jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sumber : (*/mes) Kaltim Post, Sangatta


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.