Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Selasa
30
Agt '05

Show Case Patrizio Buanne: Romantisme Sang Duta Besar Cinta


Patrizio BuannePATRIZIO BUANNE? Kamu pasti langsung menerawang panjang, mencoba mengingat-ingat nama yang terdengar aneh ini. Tidak salah memang, karena nama Patrizio mungkin baru terdengar beberapa hari belakangan ini. Namanya memang tak setenar Enrique Iglesias atau Josh Groban misalnya. Padahal, suaranya tak kalah dengan nama-nama yang disebut duluan tadi.

“Gila, sudah orangnya ganteng, suaranya keren banget,” celetuk seorang cewek bernama Agnes. Cewek berambut ikal ini, mungkin hanya satu dari sekian cewek yang berkomentar sama. Maklum saja, pria berdarah Italia ini memang dikenal sebagai sosok penyanyi yang “peduli” dengan romantisme lewat lagu-lagunya.

Agnes bisa berujar seperti itu, lantaran show casenya yang diberi titel An Italian Evening With Patrizio Buanne di Nusa Indah Auditorium Balai Kartini Jakarta, Minggu [28/8/2005] kemarin, betul-betul memanjakan mata dan telinga. Suaranya mengingatkan pada karakter Frank Sinatra atau Perry Como. Sementara sosoknya tampannya, khas Italia yang selama ini kita lihat lewat aksi sepakbolanya di televisi.

Agak mengejutkan ketika antrean penonton memadati gedung pertunjukkan yang baru selesai direnovasi itu. Show case yang digagas The Italian Institute of Culture Jakarta dan Universal Music Indonesia selaku pengedar album Patrizio Buanne di Indonesia itu dipadati oleh sekitar 1000-an penonton. Nyaris setengahnya perempuan.

Mungkin, inilah daya tarik Patrizio. Panggungnya ditata dengan taburan bunga dan nyala lilin disekitar panggung. Tak pelak, kesan romantis langsung terasa ketika masuk ke gedung tersebut. Pertunjukkan tersebut dimulai pukul 20.00 WIB teng.

The Nova, band asal Bogor menjadi pembuka pertama. Band yang sudah merilis album bertitel Novatones ini menyuguhkan musik dan lagu yang tidak rumit. Karakter pop yang sangat kuat –cenderung biasa—disuguhkan oleh The Nova. Lagu pertamanya berjudul Tornero berbahasa Italia. Mencoba “mendekat” dengan Patrizio rupanya, sayangnya lagu pertama ini malah tidak memberi kesan apa-apa. Lagu kedua Sunset diambul dari single pertama album perdananya.

Penampil kedua adalah Sarah Silaban. Penyanyi yang sempat menghilang sekitar dua tahunan ini, membawakan tiga lagu yang salah satunya berbahasa Italia. Lagu pertama Time To Say Goodbye dengan bahasa Italia. Terasa ‘janggal’ saja mendengar Sarah tiba-tiba bernyanyi bahasa Italia, kurang greget. Sarah mulai menemukan bentuknya di lagu kedua Everything. Kekuatan Sarah adalah pada permainan pianonya. Sarah mengakhiri penampilannya dengan hit Juni Di Bulan Juli [JDBJ]. Lagu yang masuk di track mini album terbarunya ini sempat menjadi soundtrack FTV di salah satu televisi swasta.

Penampilan cowok berumur 26 tahun ini diawali dengan video presentasi berisi kegiatan dan aktivitas Patrizio Buanne. Tak lama, karena dengan jas hitam berhiaskan bunga warna merah di sakunya, Patrizio langsung menyambangi penonton dengan lagu A Man Without Love. Entah magis apa yang dilakukannya, nyaris semua penonton terpaku mendengar suaranya [atau melihat wajah gantengnya?]. Apalagi setiap usai menyanyikan satu lagu, cowok bermata hijau ini berbasa-basi sejenak menebar pesona.

Ada enam lagu yang dilantukan, semuanya diambil dari album The Italian yang sedang dipromosikannya. “saya sedang duduk di restoran bersama keluarga, ketika pertama kali mendengar lagu Il Mondo. Saking menikmati, saya sampai meneteskan air mata,” jelasnya ketika akan menyanyikan lagu tersebut.

Patrizio tak sedang berbasa-basi ketika mengatakan akan memberikan hidupnya kepada dunia lewat lagu-lagu cintanya. “Saya bermimpi mengubah dunia menjadi lebih baik lewat lagu,” tegas penyanyi yang mengaku terinspirasi oleh Frank Sinatra.

Rasanya kurang “mengunyah” lagu-lagu romantisnya. Hal itu tampaknya disadari oleh Patrizio. ”Saya berjanji kelak akan menggelar konser yang lebih besar di Jakarta untuk memuaskan penggemar saya,” janjinya di penghujung acara.

Patrizio Buanne adalah salah satu penyanyi dengan talenta besar. Kalau tidak, bagaimana mungkin seorang Gerri Haliwell, mantan personil Spice Girl, memuji penampilannya. Sosoknya tinggi, tidak terlalu putih dan tampan. Suara baritonnya agak terlalu “tua” usianya yang baru 26 tahun.

Sejak umur empat tahun, Patrizio sudah menyanyikan lagu-lagu Neapolitan milik ayahnya. Meski banyak mendengar lagu dari penyanyi-penyanyi sepertiJulio Iglesias, Dean Martin, Elvis Presley, tapi semuanya yang berbahasa Italia. “Lagu Elvis yang saya dengar hanya It’s Now or Never karena mirip dengan lagu Italia berjudul O Sole Mio,” jelasnya.

Ketika umur 17tahun, Patrizio pernah diundang bernyanyi untuk Paus di Polandia. Patrizio saat itu tampil di hadapan sekitar 85 ribu orang yang memadati lapangan. “Pengalaman itu membuat saya mulai mendapat reputasi bagus di Polandia,” katanya.

Album The Italian adalah debut albumnya di kancah internasional. Album ini direkam bersama The Royal Philharmonic Orchestra di Abbey Road dan digarap selama delapan bulan. Dengan karakter sound 60-an dan 50-an, Patrizio tampil dengan spirit kekinian. “Saya adalah dutabesar romantisme,” tegasnya. Tak heran, kalau usai konsernya di Jakarta, antrean minta tandatangannya pun masih panjang. “Saya beruntung sempat dicium, meski harus dipelototin pengawalnya,” kata Yani, seorang rekan wartawan, yang sempat mendapat ciuman di pipi. Alamaaak…..

Sumber : (joko,yans) Tembang.com


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Crooner Without A Tie…
Artikel selanjutnya :
   » » Romantisme Italia ala Patrizio