Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Selasa
30
Agt '05

Romantisme Italia ala Patrizio


Penyanyi Italia ini melantunkan lagu-lagu era1960 dengan aransemen untuk telinga anak muda.

Sembari duduk di sebuah kursi berwarna perak, pria dalam balutan setelan hitam itu tertunduk sejenak untuk kemudian wajah tampannya menatap pengunjung, seraya melantunkan tembang Parla Piu Piano diiringi petikan gitar akustik dan orkestra nan syahdu. Pendar-pendar lilin yang diletakkan di sekeliling panggung memberikan nuansa misterius mengiringi romansa dalam kelopak-kelopak mawar yang ditebarkan di depan panggung dalam suasana temaram.

Lagu soundtrack film Godfather itu menjadi lagu yang paling memberikan ruang eksplorasi bagi suara bariton Patrizio Buanne, penyanyi pendatang baru dari Italia, dalam penampilannya di Nusa Indah, Balai Kartini, Jakarta, Ahad (28/8) malam. Dengan intro musik minimalis, suara dahsyat Patrizio mampu meremangkan bulu kuduk ratusan pengunjung yang hadir.

Namun, Patrizio tak sekadar bersuara dahsyat dan berwajah tampan semata. Pengalaman sekian waktu sebagai presenter televisi di tanah airnya memberikan pengalaman panggung dan daya hibur layaknya Julio Iglesias, sang flamboyan. Laiknya pria-pria Italia yang terkenal karena keromantisannya, selama pertunjukan Patrizio menyempatkan diri menyalami para pengunjung dan mencium tangan para wanita. Tak hanya suasana romantis yang diumbar malam itu, tapi gelak tawa pun kerap kali terdengar dari bibir pengunjung yang disebabkan oleh kata-kata kocak yang dilemparkan pria berusia 26 tahun itu.

Pertunjukannya di Jakarta malam itu merupakan bagian dari tur promosi Patrizio ke Asia untuk memperkenalkan album perdananya bertajuk The Italian. Mirip Michael Bubble, yang mengusung tembang-tembang swing tempo dulu dengan aransemen baru, dalam album ini Patrizio membawakan tembang-tembang romantis era 1950 dan 1960 dengan aransemen yang lebih segar bagi pendengar muda. Album yang digarap selama 18 bulan itu didukung The Royal Philharmonic Orchestra.

Beberapa lagu dalam album tersebut yang dilantunkan dalam pertunjukan itu antara lain A Man without Love, yang ia bawakan pada awal penampilan. Lagu ini dalam albumnya dibuat dua versi. Yang pertama, seluruh lirik ditulis dalam bahasa Inggris. Yang kedua, versi asli, yang ditulis dalam bahasa Inggris dan Italia. Malam itu Patrizio menyanyikan versi aslinya.

Setelah jeda sejenak, pria kelahiran Wina, Austria, ini tampil dari belakang penonton dengan menyanyikan lagu On Evening in Rome. Bila pada penampilan pertama dan kedua ia mengenakan setelan lengkap jas, kemeja dan celana panjang hitam, pada lagu ini ia melepas jasnya, sehingga penampilannya menjadi lebih kasual. Patrizio mengakui bahwa setelan formal yang senantiasa ia kenakan merupakan bentuk apresiasi terhadap penonton. Lagu berikutnya Il Mondo atau The World, single pertama yang klip videonya telah diputar di berbagai televisi. Pertunjukan ini ditutup dengan komposisi Alta Marea, lagu lama yang pernah ditariksuarakan kelompok Crowded House dengan judul Don’t Dream It’s Over.

Pada keseluruhan pertunjukan, selain didukung gitar akustik dan orkestra musik gesek, penampilan Patrizio didukung musik minus one. Penampilan cemerlang malam itu tak hanya dari Patrizio. Sebelum penampilannya, band The Nova dan vokalis Sarah Silaban, dua pendatang baru, tampil. The Nova, band asal Bogor dengan genre retro ini, menyuguhkan single dari album pertamanya, Sunset, dan lagu asal tanah Italia, Tonero. Meski sempat gugup saat membawakan lagu Italia di depan pengunjung yang sebagian besar orang asing, The Nova tampil meyakinkan pada single Sunset.

Namun, yang paling banyak mendapat aplaus pengunjung adalah Sarah Silaban. Vokalis, pianis, sekaligus penulis lagu ini membawakan tiga tembang, yakni Time to Say Goodbye, yang pernah dilantunkan Andrea Bocceli, lalu Everything, dan Juli di Bulan Juni dari albumnya. Tunes vokal Sarah mengingatkan pengunjung pada performa Sarah McLahan.

Sayangnya, pertunjukan malam itu tak didukung sorot lampu yang memadai. Sarah sempat beberapa detik bermain di panggung tanpa nyala lampu sedikit pun. Sementara itu, pada penampilan Patrizio, sorot lampu yang beberapa kali terlalu terang menghilangkan aura romantis dalam pertunjukan itu.

Sumber : (SITA PLANASARI A) Koran Tempo


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.