Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Senin
25
Jul '05

Sumber Pangan Lokal Mampu Menekan Gizi Buruk


Produk pangan lokal Papua berupa umbi-umbian dan sagu mampu menekan kondisi gizi buruk di daerah itu. Hanya saja konsumsi umbi-umbian perlu ditambah produk hewani dan nabati sehingga dapat mengangkat kondisi gizi masyarakat. Sudah saatnya daerah-daerah lain di Indonesia memproduksi makanan lokal seperti umbi-umbian itu dan tidak semata bergantung pada beras.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian Dr Ir Kaman Nainggolan pada sosialisasi hasil Konferensi Dewan Ketahanan Pangan (DKP) Nasional 2004 dan rapat DKP Provinsi Papua di Jayapura, Sabtu (23/7), mengatakan hal ini.

Ketika sejumlah daerah di Indonesia mempersoalkan gizi buruk dan busung lapar, daerah itu tidak mengalami busung lapar dengan kondisi klinis. Namun, umbi-umbian dan sagu tidak menjamin kondisi gizi dan syarat makanan sehat bagi masyarakat.

Total energi di dalam ubi jalar, singkong, talas, sagu, dan pisang hanya mengandung sekitar 163,8 kalori, protein 1,38 gram, lemak 0,32 gram, vitamin A 139,6 mg, dan zat besi hanya 0,96 mg. Karena itu, umbi-umbian ini harus dibarengi dengan protein hewani dan nabati.

”Biasanya masyarakat pegunungan mengonsumsi umbi-umbian dan masyarakat pantai mengonsumsi konsumsi sagu, yang dibarengi dengan sayur-sayur, buah-buahan, ikan, dan daging sehingga dapat mengimbangi kekurangan protein yang ada di dalam umbi-umbian dan sagu. Kebiasaan mengonsumsi makanan lokal bersama sayur, daging, dan ikan ini sudah dilakukan sejak nenek moyang dan tidak ada kesulitan berarti bagi kondisi busung lapar masyarakat,” kata Nainggolan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua dr Tigor Silaban menambahkan, hasil pemantauan yang dilakukan Dinas Kesehatan Papua tahun 2003 menyebutkan, status gizi buruk di kalangan balita hanya 3,7 persen, sementara 14 persen menderita gizi kurang. Potensi terjadi masalah gizi lainnya seperti anemia lebih dari 40 persen dan gangguan akibat kekurangan yodium 12 persen.

Ketersediaan energi pangan di Papua mengalami peningkatan 9,76 persen, dari 2.327 kilo kalori (kkal) per kapita per hari pada 2001 jadi 2.554 kkal per hari pada 2003. Ketersediaan protein pangan pun meningkat 12,73 persen, yakni dari 75,07 gram per kapita per hari pada 2002 menjadi 84,63 gram per kapita per hari tahun 2003 sehingga telah melebihi standar kecukupan, yakni 55 gram per kapita per hari.

Kepala Dinas Pertanian Merauke Ir Bambang Dwiatmoko menyebutkan, di Merauke masih terdapat gizi buruk pada 228 balita sampai Juni.

Sumber : (KOR) Harian Kompas, Jayapura


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Panitia Perayaan HUT RI Ke 60 Kec. Sipoholon Terbentuk
Artikel selanjutnya :
   » » Pabrik Cokelat Dirampok