Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
26
Jun '05

Penghormatan Pemakaman Adat Batak


Seminar Upacara Adat Batak Dalihan Na Tolu untuk Pemakaman Partuat Ni Natua Tua

Meski jauh dari kampung halaman, bukan berarti orang-orang Batak di Semarang lupa asal usulnya. Mereka tetap berusaha melestarikan adat-istiadat Batak Dalihan Na Tolu (DNT) yang diwariskan leluhur.

Salah satunya, upacara pemakaman partuat ni natua tua (pemakaman bagi orang tua usia lanjut) sebagai bentuk penghormatan terhadap almarhum.

Dalam adat Batak DNT ini, terdapat beberapa tingkatan pemakaman berdasar regenerasi almarhum. Almarhum akan dikatakan sempurna bila meninggal dengan memiliki nini (cicit dari anak laki-laki) atau nano (cicit dari anak perempuan).

Menurut HP Panggabean SH MS, tokoh adat Batak, upacara yang disebut mate saur matua bulung ini, merupakan upacara adat batak yang paling tinggi nilainya. Pasalnya, proses persiapan pelaksanaan dan upacara penutupannya akan dihadiri semua unsur DNT dari berbagai penjuru daerah, diikuti ruhut-ruhut paradaton yang sangat kompleks dan melelahkan.

‘’Akibat pengaruh modernisasi, upacara pemakaman yang didahului upacara adat partuat ni natua tua di tano parserakan (kota-kota perantauan) mulai bergeser,'’ katanya dalam Seminar Upacara Adat Batak Dalihan Na Tolu untuk Pemakaman Partuat Ni Natua Tua di gedung pertemuan Museum Ronggowarsito, Sabtu (25/6).

Seminar ini untuk menyosialisasikan pelestarian adat Batak bagi kaum perantau dan mengenalkannya bagi generasi Batak yang lahir di tanah rantau. Menurut dia terjadinya pergeseran ini dapat juga disebabkan kurang adanya pemahaman warga perantauan terhadap upacara ini.

Hakikatnya, jelas dia, upacara ini berkaitan dengan filosofi peradaban bangsa Batak. ‘’Ruhut-ruhut paradaton untuk pemakaman didahului berbagai persiapan yang harus diikuti utusan dari unsur Dalihan Na Tolu dengan pembiayaan yang tinggi. Hal ini dilakukan untuk memberi penghormatan tertinggi kepada orang yang meninggal,'’ terangnya.

Wesly Manurung, ketua panitia seminar mengungkapkan, pelaksanaan upacara itu sebenarnya bertujuan sebagai ungkapan kerinduan (pangkirimon) dan memohon karunia Tuhan bagi semua keturunan si meninggal.

Sumber : (mhr-33v) Suara Merdeka, Semarang


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.