Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
17
Jun '05

Dari Tilhang ke Puccini


HINGGA pertengahan 1970-an masih dapat ditonton sampai di kota-kota kabupaten di Sumatera Utara sebuah bentuk kesenian bernama opera Batak. Menggelar tenda sebagai atap dan terpal yang dijadikan dinding di tanah lapang, lalu mendirikan panggung sederhana di dalamnya, bertahan berhari-hari bahkan berminggu-minggu di suatu tempat, lalu pindah ke tempat lain setelah kehabisan penonton.< p>

Saya tidak tahu apakah penyanyi Johnson Hutagalung, yang lahir dan besar di Tarutung kemudian tinggal di Jakarta, masih sempat menikmati opera Batak. Yang pasti, bintang radio dan televisi jenis seriosa ini cukup akrab dengan aria-aria yang berasal dari opera-opera entah buatan komponis Italia, Austria, Jerman, entah Perancis. Hampir pasti, soprano Diani Rinarti Sitompul yang blasteran Batak-Jawa dan tidak pernah bermukim di bona pinasa ayahnya itu, demikian juga pianis Christina Sidjabat yang lahir dan besar di luar Sumatera Utara meski ayah-ibunya tertungkus lumus dengan adat Batak yang pekat, tidak mengenal lagu-lagu opera Batak, apalagi menontonnya.

Pertengahan Mei lalu ketiga musikus Batak ini, ditambah soprano Margarisje LE Makikui, mengadakan pertunjukan Opera Arias, From Mozart to Puccini di Jakarta. Inilah pergelaran pertama duet penggagas Diani-Christina di sektor lagu-lagu opera setelah berkali-kali mencoba konser paduan suara dan berencana secara berkala mengumandangkan aria- aria opera ke langit Jakarta, Yogyakarta, dan Bali.

Bahwa Diani-Christina memilih aria opera, bukan tembang puitik yang menjadi penanda kelompok Binu D Sukaman dan Iswargia Sudarno, tentulah dimaksud sebagai bagian dari keinginan musikus- musikus Indonesia menawarkan hidangan lain dari menu musik klasik Barat yang terdiri dari berbaris-baris sajian itu. Namun, juga saya pikir ada kaitannya dengan meme kepenyanyian orang Batak yang beberapa generasi terpajan dengan opera Batak. Maksud saya, bernyanyi sambil berlakon dalam suatu kisah sebagai latar barangkali sudah inheren pada orang-orang Batak yang dianugerahi suara-suara operatik.

Dengan bingkai optik seperti inilah saya memasuki ruang pertunjukan Goethe Haus, tempat Opera Arias, From Mozart to Puccini ini dipentaskan. Pilihan-pilihan arianya cukup cerdas dilakukan. Hampir semua akrab dengan telinga penggemar opera, hampir semua dari jenis yang melodius. Sebut misalnya Voi che sapete dari Le Nozze di Figaro (WA Mozart), Un bel di vedremo dari Madama Butterfly (G Puccini), L’amour est un oiseau rebelle dari Carmen (G Bizet), Casta Diva dari Norma (V Bellini), atau O mio babbino caro dari Gianni Schicchi (G Puccini).

Sembilan belas aria dibawakan ketiga penyanyi itu. Di beberapa nomor ada usaha menyesuaikan kostum dengan peran-peran yang dituntut aria- aria itu, demikian pula perlengkapan seperti seloki-seloki anggur dalam L’amour est un oiseau rebelle atau kursi di beberapa aria. Lakon juga mendapat perhatian dalam beberapa adegan, seperti usaha Johnson bermesra-mesra dengan Diani. Yang tak digarap adalah latar panggung. Dibiarkan saja piano besar sendiri di pinggir panggung dan kain hitam penutup dinding. Segi seni rupa sama-sekali tidak ditangani.

YANG menggembirakan adalah Diani Sitompul. Soprano ini dengan baik sekali membawakan semua aria yang menjadi bagiannya. Hampir-hampir saya tidak percaya dengan pendengaran sendiri ketika ia membawakan L’amour est un oiseau rebelle dengan suara ber-acting. Bunyi berlakon dalam aria ini sebelumnya hanya pernah saya temukan pada dua artis dunia. Pertama dari diva Maria Callas, kedua dari pemain biolin jelita Anne-Sophie Mutter.

Selain suara berlakonnya, Diani juga pelakon dalam denotasinya yang paling purba. Karakter suaranya dengan mudah menyesuaikan diri dengan karakter yang dituntut aria yang diperdengarkannya. Tidak berlebihan mengatakan ia bisa didaftarkan dalam database penyanyi operatik dari Indonesia ke pasar bisnis pertunjukan opera kota-kota dunia.

Sebaliknya, Johnson dengan suara tenornya yang memukau harus lebih sering berdamai dengan panggung, dengan lakon yang dituntut, dengan bahasa yang mengartikulasikan lirik-lirik aria. Salah satu inersia yang melekat pada Johnson Hutagalung, yang saya amati sejak dia berlaga dalam Pemilihan Bintang Radio dan Televisi Tingkat Nasional pada akhir 1980-an, adalah kecanggungannya di panggung menghadap penonton. Sampai sekarang ini belum dikalahkannya. Inersia ini hanya dapat ditumpas dengan mengeliminasi budaya EGP (emangnya gue pikirin) kebanyakan orang Batak yang tampaknya masih melekat pada seorang Johnson dalam bab “bahasa tubuh” ini. Sekali memutuskan menerjuni aria-aria opera berarti kesediaan belajar lakon. Tentu Johnson tidak perlu berguru pada Ari Tulang, tapi saya pikir sesekali ia boleh mencoba mendaftar ke IKJ untuk kursus misalnya, katakanlah pada Didi Petet.

Nasihat terakhir tentulah menyangkut pelafalan lirik-lirik dari beraneka bahasa. Sejak Mozart mencoba bahasa Jerman -mungkin ini semangat yang diturunkan Martin Luther- mendampingi bahasa Italia untuk lirik-lirik opera, banyak karya opera yang ditulis dalam berbagai bahasa. Johnson malam itu terkesan masih melafalkan lirik-lirik Jerman dan Perancis dengan aksen Italia. Jika ini semua dapat dikikis, tidak salah mengharapkan Johnson sebagai batu bata yang kita perlukan mendirikan lagi bangunan opera di Indonesia, setelah hilang dari yang pernah dibangun Catherina J Leimena.

Margarisje Lucij Elisabeth Makikui, yang diajak Diani-Christina dalam konser ini setelah 17 tahun tak lagi bernyanyi di panggung, malam itu juga terkesan tidak siap menyanyikan aria opera. Menjuarai Pemilihan Bintang Radio dan Televisi tahun 1979 dan lulus dari Jurusan Vokal Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, Margarisje memperlakukan “panggung opera” hanya sebatas pentas seriosa yang kaku di studio-studio RRI dan TVRI.

Berdoa tentu penting untuk persiapan nyanyi di panggung, tetapi terutama yang diperlukan adalah latihan yang intens untuk mendapatkan jiwa sebuah nyanyian.

Opera Aria, From Mozart to Puccini ini memang kelihatan sekali dipersiapkan duet Diani dan Christina. Keduanya tampil prima. Piano Christina mampu menggantikan orkestra yang seharusnya pengiring aria-aria opera itu. Diadakan di tiga kota (Jakarta, 21 Mei; Sanur, 28 Mei; Yogyakarta, 10 Juni) rangkaian konser ini merupakan babak pertama dari aria-aria opera yang akan ditampilkan di waktu-waktu mendatang.

Tampaknya orang semacam Linda Sitinjak perlu dilibatkan, selain mencari penyanyi-penyanyi baru dan mengaktifkan wajah- wajah lama dari perbendaharaan Bintang Radio dan Televisi seperti Bornok Hutauruk serta penyanyi tenor dan bas yang terbenam dengan kesibukan rutin di luar kesenian.

Sumber : (Salomo Simanungkalit) Harian Kompas


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » 93 Karyawan PT. Tatmora Keracunan
Artikel selanjutnya :
   » » Keracunan di PT Tandom Sori Masuk Kejadian Luar Biasa