Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
14
Mei '05

Dewan Bahas Raperda RTRW di Hotel


Panitia khusus (pansus) Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DPRD Surabaya membahas raperda di hotel berbintang. Sebanyak 12 anggota pansus, dikabarkan menginap di hotel JW Marriot. Bahkan pemkot menyewa dua ruang di hotel tersebut, yakni ruang Java Room di lantai III dan satu ruang lagi untuk makan.

Ke-12 anggota pansus ini diketuai Agustine Poulina, anggota FPDIP DPRD Surabaya. Menurut rencana, para wakil rakyat tersebut menginap sejak kemarin, selama tiga hari berturut-turut. Pembahasan Raperda RTRW juga melibatkan sejumlah dinas terkait, seperti Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko), Dinas Tata Kota, Dinas Banjir, dan Bagian Bina Pembangunan.

Pembahasan raperda di hotel itu diduga sengaja dilakukan agar tidak terekpos media. Dugaan itu semakin kuat ketika seorang reporter JTV, Didik Madani, yang bermaksud meliput pembahasan raperda itu diusir mentah-mentah oleh Togar Silaban, Kepala Bidang Fisik dan Prasarana Bappeko Surabaya.

Menurut Didik, begitu datang ke lokasi, acara masih belum dimulai. Ia pun sempat mengambil gambar beberapa anggota dewan maupun pejabat Pemkot Surabaya, saat makan siang maupun sedang absen. Selain Agustine, saat itu juga tampak M Jabir, Arifli Junaedi maupun M Zahrus Faisal dan anggota pansus lainnya.

‘’Saat saya datang, Pak Togar sempat melihat saya dan kemudian masuk ke ruangan makan,'’ ujar Didik. Beberapa saat kemudian, Togar mendatangi Didik dan mengusirnya agar keluardari lokasi. Alasannya, pembahasan raperda tersebut tertutup untuk umum.

Bahkan, kata Didik, Togar sempat mengatakan bahwa dirinya tidak punya norma dan etika. Sebab, meski tidak diundang tetap meliput kegiatan ini. Meski demikian, Didik tetap berupaya mewawancarai Togar. ‘’Tapi dia (Togar -red) bilang tidak tahu apa-apa dan tidak bertanggung jawab atas apa yang saya liput,'’ tutur Didik.

Pengusiran oleh Togar ini sempat menjadi tontonan undangan yang hadir. Tak berapa lama kemudian, Didik diusir oleh pihak keamanan hotel. ‘’Di lorong pun saya tidak boleh dan disuruh keluar,'’ cetusnya. Didik menambahkan, meski Agustine sempat menyatakan bahwa pembahasan ini terbuka dan bisa diliput, namun Titin–panggilan sehari-hari Agustine Pouline–sempat terkejut dengan kedatangannya.

Ditemui terpisah, Anggota Komisi A DPRD Surabaya Krisnadi Nasution SH MHum mengatakan, meskipun tidak tergabung dalam Pansus Raperda RTRW, pihaknya akan terus mengawal proses perancangan perda ini. Pasalnya, dari salinan rancangan perda yang didapatkannya ia melihat ada beberapa kejanggalan dan harus disempurnakan.

Dalam salah satu pasal raperda yang tengah dibahas, kata dia, disebutkan bahwa sebelum pemkot menetapan RTRW harus minta persetujuan dari warga. Dengan adanya pasal ini, menurut dia, masyarakat jelas mendapatkan porsi keadilan yang cukup.

Pada pasal yang lain, lanjut kader PDIP ini, tercantum juga pasal yang isinya menguntungkan pemerintah kota. Pasal itu antara lain menyebutkan, apabila warga tidak setuju terutama dalam hal jumlah kompensasi, pemkot diberi kewenangan untuk tetap melakukan penetapan. Warga juga harus memenuhi ketetapan tersebut, jika tidak puas bisa mengajukan keberatan ke pengadilan.

‘’Ini yang nggak benar. Mau tidak mau mereka akan menyerahkan begitu saja tanahnya dan enggan melanjutkan perkara ke pengadilan. Raperda ini belum sepenuhnya berpihak pada masyarakat. Ini yang semestinya dicermati. Dan ini akan kami kawal terus,'’ tandas dekan fakultas hukum Universitas 17 Agustus ini.
Sumber : (edo/arz) Republika Online, Surabaya


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Rapat RTRW [Rencana Tata Ruang dan Wilayah] di Hotel Bintang Lima
Artikel selanjutnya :
   » » Wartawan Surabaya Berunjuk rasa