Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
29
Apr '05

HIV/AIDS Jadi Persoalan Serius di Papua


Penyakit menular seksual terus menyebar dan tak mungkin dicegah tanpa mengubah perilaku. Penularan virus mematikan yang dikenal sebagai Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immuno-Deficiency Syndrome (AIDS) terus menggiring manusia ke pintu maut. Masyarakat maupun keluarga yang di dalam lingkungannya ada orang dengan HIV/AIDS (ODHA) diminta tidak mengucilkan mereka, apalagi sampai dijauhi.

Sebaliknya ODHA harus diperlakukan sama seperti orang lain, supaya semangat hidupnya tetap stabil.

Hal tersebut diungkapkan Ketua KPAD Provinsi Papua, drh Constan Karma, baru-baru ini, saat mengunjungi klinik Voluntary Counseling and Test (VCT) Rumah Sakit Dok II.

Menurut Constan Karma, walaupun di dalam keluarga itu ada seorang yang mengidap dan terinfeksi HIV/AIDS, tidak serta-merta orang itu akan menularkan HIV/IDS kepada orang lain ataupun orang yang berada di dekatnya. “Sebab penularan HIV/ AIDS itu tidak bisa terjadi hanya dengan sentuhan tubuh atau berdekatan dengan pengidap, melainkan melalui hubungan seks atau lewat transfusi darah, “ujarnya.

“Orang-orang yang mengucilkan ODHA itu mungkin tidak tahu secara pasti bagaimana proses penularan HIV/ AIDS itu terjadi. Yang perlu dilakukan adalah harus tetap menerima keberadaan mereka, seperti anggota masyarakat lainnya tanpa harus ada perlakuan yang diskriminatif,'’ tambahnya.

Di Provinsi Papua, pengidap HIV/AIDS mencapai 1.874 per 31 Maret 2005. Jumlah ini dinilai cukup tinggi dan perlu diperhatikan dengan serius. Sosialisasi bahaya HIV/AIDS harus secara terus-menerus dilakukan, termasuk melakukan kampanye penggunaan kondom bagi masyarakat yang ingin melakukan hubungan seks.

“Sosialisasi bahaya HIV/ AIDS itu sangat perlu dan sasarannya adalah generasi muda. Sebab kelompok ini sangat rentan terhadap penularan HIV/AIDS. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengangkat para relawan muda untuk melakukan penyuluhan mengenai bahaya HIV/AIDS itu, ” ujar Constan.

Upaya membentengi diri agar terhindar dari penyakit mematikan yang hingga kini belum ada obatnya itu bisa dimulai dari lingkungan keluarga. Keluarga ibarat pondasi bangunan. Kalau pondasinya kuat, tentu bangunannya juga kuat. “Apabila dalam keluarga itu kuat, maka masyarakat pun sudah tentu akan kokoh dan tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang merusak tatanan kehidupan,” tegasnya.

Sementara itu, Manajer Kasus HIV/AIDS di VCT RSUD Dok II Siti Soltief mengaku setiap orang yang telah terinfeksi HIV/AIDS selalu saja mendapat perlakuan yan diskriminatif. Mereka biasanya disingkirkan, dicemooh, dan tidak diterima masyarakat. “Padahal mereka juga manusia yang layak mendapat perlindungan dan perhatian. Keluargalah yang harus mengambil peran penting di sini. Jangan sampai perlakuan itu justru menjadi beban psikis yang yang mempengaruhi daya tahan tubuh ODHA,” katanya

Malu

Lebih jauh dikatakan, sejak klinik itu dibuka Agustus 2004, jumlah pasien yang datang ke klinik hingga Maret 2005 mencapai 350 orang. Dari jumlah itu, 70 orang diketahui positif terinfeksi HIV/AIDS. Pasien yang datang untuk memeriksa kesehatannya rata-rata dari golongan menengah ke bawah. Padahal, kalau ditelusuri lebih jauh, justru kalangan menengah ke atas merupakan salah satu kelompok yang rentan atau berisiko tinggi terhadap penularan HIV/AIDS. Tetapi tampaknya mereka masih malu datang ke klinik.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dr Tigor Silaban M KM yang dihubungi Pembaruan, mengatakan untuk menekan dan mencegah laju kasus HIV/AIDS, perlu dukungan dari semua komponen masyarakat.

Pemerintah telah berupaya melakukan segala bentuk tindakan pencegahan terhadap penyakit yang mematikan itu, namun tanpa moral dan pendalaman ajaran agama yang baik, jumlah HIV/ AIDS di Papua akan terus bertambah. Sekarang ini, Kabupaten Merauke berada di urutan teratas dalam jumlah penderita HIV/ AIDS dengan 700 kasus, kemudian disusul Kabupaten Mimika 592 kasus, Kota Jayapura 171 kasus, Kabupaten Sorong 131 kasus, dan Kabupaten Nabire 84 kasus.

Sumber : (ROB/A-16) Suara Pembaruan via InfoPapua.com


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Menakertrans Rasionalisasi Serikat Pekerja
Artikel selanjutnya :
   » » Sekjen: Jadikan Kehadiran Warga HKBP Berkat Bagi Sekitar