Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
15
Apr '05

15.000 Warga Nias Eksodus


Sejak munculnya isu Pulau Nias akan tenggelam, sudah sekitar 15.000 warganya yang melakukan eksodus ke luar dari pulau tersebut. Sejak sekitar tiga hari pascagempa berkekuatan 8,7 skala Richter, 28 Maret lalu, ribuan warga eksodus ke luar pulau. Bupati Nias Binahati B Baeha, Kamis (14/4), menyebutkan, warga eksodus karena takut terjadi bencana susulan.

Binahati menegaskan, isu tentang akan tenggelamnya Pulau Nias sama sekali salah. Dia mengharapkan warga yang sudah telanjur eksodus kembali lagi ke Nias.

“Jumlah warga yang telah keluar dari Pulau Nias sekitar 15.000 orang. Mereka keluar dengan menggunakan kapal dari sejumlah pelabuhan di Nias ke berbagai daerah,” ujarnya.

Bupati Nias membantah jumlah warga Nias yang eksodus mencapai ratusan ribu orang. Jumlah penduduk seluruh Nias saat ini sekitar 700.000 jiwa.

Mengutip data yang dikumpulkan Satuan Koordinator Pelaksana (Satkorlak) Penanggulangan Bencana Nias, sejak tiga hari pascagempa hingga saat ini hanya sekitar 15.000 warga Nias yang telah keluar dari pulau tersebut. Data itu didapat dari kapal-kapal yang melayari jalur Pulau Nias-daratan Sumatera.

Menurut Binahati, warga yang sudah telanjur eksodus tidak perlu takut kembali ke Nias. “Kami harap warga tidak perlu takut untuk kembali karena Nias tidak akan tenggelam,” ujarnya.

Dikatakan, tidak semua warga yang keluar dari Nias karena ketakutan. Ada sebagian di antaranya yang keluar karena diminta oleh keluarga yang selama ini tinggal di luar Pulau Nias.

Hingga memasuki minggu ketiga pascagempa, warga yang sebelumnya eksodus sebagian sudah mulai kembali lagi ke Nias. Satkorlak Penanggulangan Bencana Nias mencatat, setidaknya sudah sekitar 2.000 warga yang kembali.

Masih gelap

Sampai pekan ketiga pascagempa, sebagian Pulau Nias masih gelap. Di Kabupaten Nias empat kecamatan yang masih gelap, yakni Kecamatan Alasa, Lahewa, Lotu, dan Lölöfitu Moi. Sementara itu, di Kabupaten Nias Selatan seluruh wilayah kecamatan masih gelap gulita, kecuali kantor-kantor pemerintahan di Kecamatan Teluk Dalam, ibu kota Kabupaten Nias Selatan.

Menurut Sekretaris Satkorlak Provinsi Sumatera Utara Edy Aman Saragih di Gunung Sitoli, Kamis, untuk penerangan di Kecamatan Teluk Dalam dikirimkan satu genset berkekuatan 1.000 kilowatt, sedangkan kecamatan-kecamatan di luar Teluk Dalam masih dalam keadaan gelap.

Berdasarkan pemantauan Kompas, Kabupaten Nias Selatan masih gelap gulita pada waktu malam. Untuk penerangan, warga menggunakan lampu teplok minyak tanah yang digantung di dinding ataupun ditaruh di atas meja. Di Kecamatan Teluk Dalam kantor-kantor pemerintahan sudah mendapat aliran listrik dari genset.

Menurut Sahrir, Kepala Bagian Distribusi PLN Ranting 6 Gunung Sitoli, di wilayah Gunung Sitoli kecamatan yang masih belum mendapat listrik adalah Kecamatan Alasa, Lahewa, Lotu, dan Lölöfitu Moi. Sedangkan Kecamatan Afulu memang belum terjangkau aliran listrik.

Di Kecamatan Hiliduho sebagian sudah mendapat listrik, namun sebagian lagi masih gelap. Keempat kecamatan tersebut masih sulit dijangkau karena akses jalan ke sana buruk sehingga mobil derek PLN tidak bisa mencapai wilayah itu.

Tiang listrik dan trafo

Berdasarkan data PLN Ranting 6 Gunung Sitoli, dampak dari gempa mengakibatkan 42 trafo di kawasan itu berjatuhan, masing-masing 23 di wilayah Gunung Sitoli, enam di Gidö, empat di Tuhemberua, enam di Lahewa, dan tiga di Alasa. Sementara itu, 355 tiang listrik tumbang atau miring, antara lain di Lahewa 189 tiang yang tumbang dan 87 tiang di Gunung Sitoli. Puluhan kilometer jaringan tegangan menengah juga mengalami kerusakan.

Hingga saat ini PLN terus memperbaiki trafo-trafo yang rusak di Kabupaten Nias. Sebanyak 124 trafo sudah bisa berfungsi, dan pelanggan yang listriknya sudah menyala sebanyak 10.353 rumah. Jaringan tegangan menengah yang sudah diperbaiki sepanjang 164,2 kilometer sirkuit (KMS) dan jaringan tegangan rendah yang sudah diperbaiki sepanjang 188,45 KMS.

Khusus untuk Kabupaten Nias Selatan, menurut Kepala Seksi Operasi Distribusi PLN Cabang Sibolga David Silaban, telah dikirimkan genset berkekuatan 1.000 KW yang akan ditempatkan di PLTT Tanjung Moawö, sekitar empat kilometer dari kota Teluk Dalam. Genset besar itu diperkirakan siap beroperasi dalam 7-10 hari ke depan. Untuk menangani kerusakan instalasi listrik di Pulau Nias, PLN mendatangkan para petugas dari berbagai daerah seperti dari Sibolga, Medan, dan Sulawesi Utara.

Sumber : (RAY/VIN) Harian Kompas, Gunung Sitoli


Baru ada 1 tanggapan untuk artikel “15.000 Warga Nias Eksodus”

  1. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    Sejak diissukan artikel ini mulai Apr.05 tak satupun pengunjung yang menanggapi seolah tragedi yang mengancam Nias bukan bahasan yang perlu dipikirkan? Bukan maksud untuk mem-’belah luka lama’ bahwa Nias sejak ‘Abad Keterbukaan’ yaitu sejak mulai masuknya bangsa Eropah ke Indies khususnya Sumatra bagian Utara bahkan abad2 sebelumnya, Nias telah tereksploitasi dimulai dari perbudakan2 oleh bangsa2 asing. Hanya sedikit catatan sejarah bahwa kerajaan2 sekitar yang melindungi mereka dari hegemoni bangsa asing. Bencana katasropis Tsunami di tahun ‘04 dengan ratio destruktif yang sama dgn daerah lainnya terkesan hanya mendapat upaya penanggulangan yang relatif kecil, walaupun belakangan ada terdengar para pemborong dari daerah Aceh yang sudah settle menanggulangi Aceh ikut juga berpartisipasi sekarang ini dalam konteks bisnis.

    Ada sejumlah etnis Nias yang berasal dari leluhur bangsa Batak (bukan semua) walaupun pada awal abad keterbukaannya mereka mengesankan naungannya kepada bangsa Batak yang lebih besar demi untuk mencegah kepunahan budaya dan komunitasnya. Pemikiran cemerlang leluhur Nias ini tentu sudah menunjukkan hasil pada belakangan ini bahwa masyarakatnya sudah mau menunjukkan identitas leluhurnya. Budaya megalitik yang menurut beberapa sejarawan sudah berusia 30 s/d 50 ribu tahun tentu memperkaya keberagaman budaya khususnya di Sumatra Utara.

    Kalau pandangan spiritual mengatakan P.Nias terbentuk dari terlempar dan tertancapnya puncak gunung Toba yang meletus 75000 tahun lalu, maka citra satelit untuk pemetaannya memang menunjukkan kemiripannya, dan bila dikaitkan dengan budaya Atlantis yang diceritakan oleh Plato tentang kawasan yang berlumpur memang demikianlah topografi P.Nias pada jaman dahulu kala. Yang terpenting bahwa masyarakat Nias tetap eksis dari berbagai tantangan alam dan berani memulai mencari jatidiri adalah penyumbang kekayaan budaya. Yahowu talifuse.

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Radio Komunitas: Peluang Meningkatkan Pelayanan HKBP
Artikel selanjutnya :
   » » Giliran Tahanan Polres Jaktim Kabur