Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Senin
21
Feb '05

Obat Penghambat AIDS Tertimbun di Jayapura


Banyak obat antiretro virus tertimbun di gudang obat di Jayapura. Pihak pemerintah kabupaten/kota sangat sulit diajak bekerja sama oleh pemerintah provinsi untuk menyalurkannya. Padahal, obat itu harus disampaikan kepada para penderita HIV/AIDS guna menghambat mata rantai penularan virus kepada orang lain.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua dr Tigor Silaban kepada pers di Jayapura, Minggu (20/2). Tahun 2004 dari target pemberian antiretro virus (ARV) sebanyak 500 ODHA (orang dengan HIV/AIDS) hanya tercapai 94 orang-17 dari Jayapura, Merauke 52 orang, dan Sorong 25 orang. Target tidak tercapai karena beberapa kendala, seperti kekurangan tenaga perawat pendamping, penderita tidak telaten mengonsumsi obat, dan sejumlah syarat lain yang harus dipenuhi ODHA.

“Obat ini tidak sembarang dikonsumsi karena akan terjadi resistansi jika salah dikonsumsi. Jadi, tidak begitu saja dibagikan kepada pasien seperti jenis obat lain. Tetapi yang jelas, ARV telah disepakati Badan Kesehatan Dunia sebagai salah satu obat yang dinilai lebih efektif menghambat virus HIV, bukan menyembuhkan,” kata Tigor menjelaskan.

Dia tidak menyebutkan jumlah obat ARV yang masih tertimbun di Jayapura. Batas kedaluwarsa obat tersebut adalah September 2005. Padahal, obat itu sudah disubsidi pemerintah Rp 400.000 per bulan per pasien.

Ketua Kelompok Kerja Penanggulangan HIV/AIDS Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dok II Jayapura dr Samuel Baso SpIn menambahkan, Agustus 2004 telah diresmikan klinik konseling untuk menyebarkan penggunaan ARV kepada pasien HIV/AIDS.

Sejak klinik konseling dan tes sukarela HIV/AIDS itu dibuka, rata-rata setiap bulan sekitar 40 orang datang untuk konseling, tetapi tidak semua bersedia dites. Sejak klinik dibuka, telah ditemukan sekitar 30-72 penderita.

Akibat otonomi daerah, pemerintah kabupaten/kota sangat sulit diajak bekerja sama untuk menyalurkan obat tersebut. “Akan kita apakan obat-obat itu kalau tidak dikonsumsi,” ujar Samuel.

Dia menegaskan, hingga saat ini belum ada obat khusus untuk menyembuhkan virus HIV, sementara ARV digunakan untuk menghambat virus HIV yang paling efektif. Ditambahkan, salah sekali jika ada yang mengklaim sari buah merah dapat menghilangkan virus HIV. Menurutnya, buah merah hanya bermanfaat sebagai suplemen.

Sumber : (kor) Harian Kompas,Jayapura


Baru ada 1 tanggapan untuk artikel “Obat Penghambat AIDS Tertimbun di Jayapura”

  1. Tanggapan tien:

    Mengapa sampai masih banyak obat yang tertimbun di jayapura? apabila masih kurang tenaga perawat pendamping megapa tidak di lakukan training bagi para perawat? bagaimana dengan obat yang sudah kadarluarsa? berarti pemerinta mengalami kerugiankan? kenapa sampai hal ini bisa terjadi? bagaimana dengan sistem yangh ada? dalam menyusun program sudah di targetkan akan jumlah obat dengan jumlah pasien. Hal ini sangat di sayangkan sehingga penderita tidak berkurang tetapi semakin meningkat

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Pengobatan Pasien HIV/AIDS di Papua Ditingkatkan
Artikel selanjutnya :
   » » Korban Tsunami Asal Aceh Terlantar Di Sidikalang