Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
29
Jan '05

Widodo Silaban dan Indah Tobing Senang Jadi Keluarga Batak


Musik tradisional Batak pada Pesta Bona TaonMUSIK TIUP - Tidak hanya musik tradisional Batak, gondang juga digunakan pada Pesta Bona Taon, seperti dibawakan oleh salah satu grup musik.

WIDODO diberi marga Silaban. Dia sering dikagumi orang. Setiap kali ada pesta Batak, partangiangan atau arisan marga, upacara kematian keluarga, atau Pesta Bona Taon Sihombing atau Silaban, ia bersama istrinya selalu hadir.

Tak sekadar duduk diam, tapi suami Ny Ida boru Sihombing ini sangat aktif. Kadang ia menerima tamu, kadang dia ikut manortor atau kadang memberi sambutan dengan logat Jawa yang masih kental.

Sering orang memberi julukan kepadanya “lebih Batak dari orang Batak”. Biasanya ia hanya tersenyum dijuluki seperti itu dan tetap menikmati posisinya sebagai bagian dari tata adat Batak Dalihan Natolu apabila ada upacara adat atau Pesta Bona Taon.

Sama halnya dengan Indah Irawati. Setiap ada pertemuan keluarga besar Tobing, ia pun tidak hanya tinggal diam. Selalu aktif berkenalan dan martorombo dengan saudara-saudara pihak suami.

Bahkan, karyawati swasta ini pun kadang kala dalam posisinya sebagai boru ikut memberikan sambutan memakai Bahasa Indonesia. “Saya memang senang dengan budaya Batak. Dalam banyak hal, banyak tradisi orang Batak yang positif yang tidak ada dalam budaya saya,” kata wanita asal Jawa Tengah ini.

Pesta Bona Taon memang salah satu kegemaran Indah karena bisa bertemu dengan keluarga besar Tobing yang jumlahnya se-Jabodetabek mencapai ribuan bahkan puluhan ribu orang.

Saking banyaknya marga Silaban dan keturunannya di Jakarta, menurut Widodo Silaban, Pesta Bona Taon itu sebaiknya dibuat empat tahun sekali saja se-Jabodetabek, tapi per wilayah, seperti Depok bolehlah setahun sekali.

Ada positif dan negatifnya perkumpulan seperti itu. “Akan negatif kalau terlalu banyak hura-huranya. Pastilah ada hal-hal yang tidak sesuai dengan hati nurani, namun saya bisa menyesuaikan diri. Akan positif kalau dipakai sebagai wadah persekutuan, reuni, atau silaturahmi dan tolong-menolong,” kata karyawan Lembaga Alkitab Indonesia itu.

Ia menyebut, di Depok marga Silaban ada 30 kepala keluarga sedangkan marga Sihombing ada sekitar 100 kepala keluarga. Perkumpulan ini juga menyiapkan santunan untuk anak-anak yang tidak mampu.

Pesta Bona Taon merupakan tradisi orang Batak di perantauan. Setiap marga Batak memiliki perkumpulan tersendiri. Frekuensi pertemuannya variatif, namun yang pasti biasanya setiap mengawali tahun ada pertemuan besar.

Pertemuan sebulan sekali biasanya dilakukan dalam kumpulan yang lebih kecil, misalnya hanya satu kakek (ompung).

Beberapa tahun lalu “Pakpahan Dohot Boruna Bere Ompung Soe Mbangon” yang jumlahnya di Jabodetabek kini sudah mencapai 200 kepala keluarga (400-an orang) mengadakan Pesta Bona Taon di Gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan.

Seperti biasanya, acara diawali dengan kebaktian syukur dan doa untuk kehidupan yang akan datang. Kira-kira doanya seperti ini, “Ale Tuhan Debata, pasu-pasu ma sude hami Keluarga Pakpahan dohot boruna mandalani taon baru on” (Ya Tuhan Allah, berkatilah kami Keluarga Besar Pakpahan dalam menjalani tahun yang baru ini).

Pada acara itu, menurut Helena Pakpahan boru Sitorus, diadakan acara gondang dan manortor (menari). Biasanya, yang manortor lebih dahulu adalah semua yang bermarga Pakpahan beserta isterinya masing-masing, kemudian perempuan boru Pakpahan bersama suami masing-masing. Setelah orang tua, barulah giliran naposobulung (para remaja) dan anak-anak. Selama manortor biasanya yang lain menyelipkan uang sebagai tanda kasih.

“Jumlah uang itu bervariasi, mulai seribu rupiah sampai seratus ribu, bergantung pada yang memberi. Kalau yang menari ada dua ratus orang, kan harus menyediakan uang lumayan banyak. Tapi biasanya yang dikasih sesuai pilihan masing-masing begitu juga jumlah uangnya,” kata Helena, yang tahun lalu sempat menjadi caleg (calon anggota legislatif) untuk DPRD Tingkat II Sukmajaya, Depok.

Untuk biaya pesta, setiap anggota perkumpulan membayar iuran tiap bulan Rp 5.000. Di samping itu, diadakan pula arisan dengan biaya Rp 20.000/bulan.

“Tidak semua ikut arisan, paling sekitar 80-an keluarga. Itu hanya tambahan acara saja. Dalam masalah khusus, seperti ada anggota marga yang meninggal, biasanya kami akan mengadakan lis sumbangan sukarela. Begitu pula kalau ada keluarga yang perlu dibantu, kita akan mencari dana dengan mengadakan lelang,” kata Helena.

Pada acara kekerabatan itu, anak-anak pun diberi hadiah apabila juara kelas. Pesta Bona Taon memang untuk semua anggota keluarga. Door prize pun tak ketinggalan di gelar di akhir acara, biar para anggota tidak cepat-cepat pulang. Horas ma hita sude!

Sumber : (R-8) Suara Pembaruan (29 Jan 2005, Kolom Budaya)


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.