Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
7
Jan '05

Bentrokan Warnai Eksekusi Tanah Cibeureum


Bentrokan CibeureumBentrok warga dengan aparat mewarnai eksekusi paksa tanah seluas 2,9 ha di RW 22 Kel. Cibeureum, Kec. Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Kamis (6/1). Sejumlah warga dan pedagang yang menempati tanah tersebut menolak eksekusi yang dilakukan Pengadilan Negeri (PN) Bale Bandung. Akibat bentrokan itu, seorang warga terpaksa diamankan petugas Polres Cimahi.

Pantauan “PR” di lapangan, eksekusi dimulai sekira pukul 7.30 WIB, diawali dengan pembacaan Keputusan PN Bale Bandung No 04/EKS.G/2004/PN.BB.DEL Jo. No. 46/PDT.EKS/2004/PUT/PN.BDG tanggal 3 November 2004 yang ditandatangani Wakil Ketua PN Bale Bandung, M. Yahya Barlian, S.H. Keputusan itu dibacakan langsung oleh Panitera PN Bale Bandung, Ny. Hj. U. Yuniati, S.H., C.N.

Pelaksanaan eksekusi sendiri dipimpin Juru Sita PN Bale Bandung, Jojo Witarjo, dengan pengamanan ketat 446 petugas Polres Cimahi, Polsek, Kodim 0609, Satuan Brimob Polda Jabar, Denpom dan Satpol PP Cimahi, serta dua unit mobil pemadam kebakaran Kota Cimahi. Petugas pun tampak dilengkapi dua unit rantis (kendaraan taktis) dan beberapa anjing pelacak.

Sebelum terjadi eksekusi, sekira pukul 5.00 WIB, puluhan warga mulai berorasi di depan Jln. Raya Cibeureum. Sambil membawa berbagai spanduk, mereka mengecam aparat, pengadilan, pemerintah, dan kuasa hukum pemohon eksekusi. Warga juga membakar ban-ban bekas di sekitar Jln. Raya Cibeureum, tepatnya di seberang SPBU dan percetakan Advent Cibeureum. Meski api berhasil dipadamkan petugas pemadam kebakaran Kota Cimahi, bekas karet terbakar telah membuat jalan di sekitarnya menjadi kotor.

Akibat pembakaran ban dan kerumunan massa di sekitar Cibeureum, arus lalu lintas sepanjang Jln. Raya Cibeureum mulai dari batas Kota Bandung - Cimahi hingga Jln. Raya Cimindi, Cilember, macet total. Bahkan, sejumlah angkutan kota terpaksa balik arah agar tidak terjebak macet. Akibatnya, ratusan penumpang yang akan menuju Cimahi terpaksa berjalan kaki hingga sekitar Cimindi.

Eksekusi jalan terus

Warga yang menempati areal seluas 2,9 ha itu menuntut eksekusi ditunda, karena mereka merasa berhak mempertahankan rumah dan hartanya. Mereka juga meminta pengadilan dan aparat menarik diri serta menyingkirkan dua unit beko dari kawasan tersebut.

Permintaan itu disampaikan perwakilan warga, Dudung, Raman Saragih, H. Silaban, dan Edi serta kuasa hukum warga, Effendi Saman, S.H., kepada Juru Sita, Jojo Witarjo dan Kabag Operasional Polres Cimahi, AKP Hadi Syafriadin, S.I.K.

Tidak mendapat tanggapan, mereka akhirnya minta waktu selama seminggu untuk mengeluarkan barang-barang dan membongkar sendiri rumahnya agar materialnya bisa mereka manfaatkan kembali. Namun, keinginan itu pun ditolak petugas. Bahkan, warga diultimatum segera mengosongkan rumahnya, karena eksekusi harus berakhir hingga pukul 12.00 WIB.

Menyikapi hal itu, warga tetap bertahan. Ketika beko memasuki areal yang disengketakan, dengan membawa tongkat dan bambu warga berusaha menahan petugas. Akibatnya, sempat terjadi saling dorong. Namun, karena jumlah penduduk tidak seimbang dengan aparat, mereka pun akhirnya terdorong. Bahkan, Ny. Dudung yang nekat duduk dan tidur di depan beko, akhirnya diangkat paksa petugas.

Teriak dan tangis pun meledak mengiringi pelaksanaan pembongkaran rumah-rumah warga dan puluhan kios yang berada di sana. Salah seorang warga, Silaban dan beberapa orang anggota keluarganya yang berusaha mempertahankan rumah mereka, sempat bentrok dengan aparat. Silaban akhirnya diamankan petugas. Pembongkaran pun terus berjalan. Satu demi satu dari 14 rumah warga dan 35 kios akhirnya dirobohkan petugas, kecuali sebuah masjid dan gereja masih tetap dibiarkan berdiri.

Karena harus segera dikosongkan, warga pun terpaksa segera mengeluarkan barang-barang miliknya. Namun, sebagian warga kebingungan akan pindah ke mana, karena tidak memiliki rumah lain.

Menurut Juru Sita Pengganti PN Bale Bandung, Aep Yaman, warga yang belum memiliki tempat tinggal pengganti akan ditampung di dua rumah yang sudah dikontrak oleh pemohon eksekusi selama dua bulan di RW 23, Cibeureum. Untuk mengangkut barang-barang milik warga pun sudah disediakan 14 truk. Namun pantauan “PR” di lapangan, hingga sore kemarin, masih ada warga yang kebingungan akan pindah ke mana. Informasi soal adanya penampungan pun tidak pernah mereka dengar.

Sumber : (B-45/A-106) Pikiran Rakyat, Cimahi


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.