Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
12
Nov '04

Mau Tes Urin “Kok” Nggak Bisa Kencing


“BU, ini botolnya. Saya enggak bisa kencing.” Begitulah yang diungkapkan Mugiyanto (45) sambil mengembalikan sebuah botol kecil laboratorium kepada petugas pemeriksa urine di Terminal Bus Antar Kota Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (11/11) sekitar pukul 12.30.

Pemeriksaan urine gencar dilakukan sebelum bus-bus itu diberangkatkan. Pemeriksaannya cuma sekadar mengetahui, apakah sopir-sopir bus itu menggunakan obat-obatan yang tergolong narkotika. Waktu pemeriksaannya pun cukup singkat, cuma lima menit.

Sambil cengar-cengir dan tertunduk malu, sopir bus antar kota antar provinsi (AKAP) itu mengembalikan botol kecil itu. Ia beberapa kali tampak tersipu karena untuk urusan kencing ternyata ia tidak lancar.
“Susah banget keluarnya nih. Sudah saya tunggu-tunggu sampai saya paksain ngeden, tetap saja air kencingnya enggak keluar-keluar,” ujar Mugiyanto yang mengenakan celana hijau tua seragam perusahaan otobusnya.

Spontan, begitu mendengar penjelasan lelaki asal Klaten, Jawa Tengah, itu ketiga wanita dari Badan Narkotika Nasional senyam-senyum. Jengah. Apalagi melihat tingkah polah Mugiyanto yang menyilangkan kedua tangannya di depan.

“Kok enggak bisa keluar? Bapak puasa enggak?” tanya salah seorang petugas.

Begitu Mugiyanto bilang tidak berpuasa, petugas itu langsung menyuruh, “Coba minum air putih yang banyak dong, biar bisa diperiksa!”

Biar sudah disuruh-suruh, tetap saja Mugiyanto merasa keberatan. Ia mengaku sudah banyak sekali minum air putih, bahkan perutnya sudah terasa kembung.

Petugas pun celingak-celinguk. Geli. Tak bisa lagi memaksa Mugiyanto untuk sekadar kencing. Akhirnya, petugas yang mengenakan sarung tangan khusus itu menanyakan kepada Dokter Irwan Silaban, penanggung jawab posko kesehatan itu.

“Kalau enggak bisa kencing, ya bagaimana bisa diperiksa? Masak sih kencing sedikit saja enggak bisa?” tanya Dokter Irwan.

Mugiyanto menggelengkan kepala. Tidak bisa. Apalagi, dia sudah merasa kesakitan, kalau dipaksakan kencing.

“Kalau enggak bisa keluar, berarti saluran kencingnya ada yang enggak beres tuh,” kata sang dokter.

Karena tidak bisa kencing, surat izin mengemudi Mugiyanto ditahan. Petugas menyerahkannya kepada Kepala Terminal AKAP Stefanus Sarbini untuk memperoleh rekomendasi lanjutan.

Wah, gara-gara enggak bisa kencing, urusannya jadi tambah panjang. Penanggung jawab bus itu dipanggil. Bukan cuma itu, penumpang bus itu pun terpaksa menunggu berjam-jam. Untung busnya pakai AC!

Sumber : (OSA) Harian Kompas


Baru ada 1 tanggapan untuk artikel “Mau Tes Urin “Kok” Nggak Bisa Kencing”

  1. Tanggapan piechan:

    SEI KATSU WA CHARENJI MONO NI SUGO SANAKYA,tenang wae mas

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » INCO [PT International Nickel Indonesia Tbk], Raja Nikel yang Ambisius
Artikel selanjutnya :
   » » Officer killed in traffic accident