Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Selasa
9
Nov '04

INCO [PT International Nickel Indonesia Tbk], Raja Nikel yang Ambisius



Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

PENGUKUHAN PERPU NO I Tahun 2004 oleh para wakil rakyat membuat manajemen PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO) tampak optimis mencapai target besar yang dicanangkan untuk lima tahun ke depan. Kebingungan pelaku industri karena Keppres No 41 Tahun 1999, yang melarang aktivitas penambangan di area hutan lindung terurai sudah. Inco pun lebih leluasa menggarap 103.000 hektare area tambang di wilayah hutan lindung, dari total 218.000 hektare yang tertera dalam kontrak karya pertambangan yang dikantonginya.

Keputusan pemerintah ini sekaligus memberi peluang bagi Inco untuk merealisasikan rencana mendongkrak kinerja perusahaan. Tingginya permintaan produk nikel pada tahun-tahun mendatang menjanjikan peluang keuntungan yang besar. Perseroan pun mematok target produksi nikel hingga 200 juta pon matte pada tahun 2009.

Sejumlah program pengembangan telah dipersiapkan untuk mencapai target yang sekilas tampak ambisius itu. Total dana yang dianggarkan untuk mendukung ekspansi hingga tahun 2009 mencapai 250 juta dolar AS.

Proyek pembangunan bendungan ketiga akan menandai ekspansi perusahaan untuk menggapai target. Bendungan akan dibangun di dalam wilayah kontrak karya di Sungai Larona, Desa Karebbe. “Kami yakin bendungan ketiga ini akan meningkatkan kapasitas pembangkit listrik tenaga air untuk mendukung produksi nikel dalam matte tahunan sebesar 200 juta pon pada tahun 2009,” ujar President & Chief Executive Officer Inco, Bing R Tobing.

Jika cepat mendapat restu Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, proyek yang menelan biaya 150 juta dolar ini diperkirakan bisa beroperasi awal tahun 2009. Haryajid Ramelan, head of research Rifan Financindo Sekuritas memperkirakan, kekuatan dana cash Inco yang mencapai Rp 2,2 triliun akan mampu membiayai proyek itu. Apalagi proyek yang akan selesai tahun 2009 merupakan long term investment. “Jadi saya melihat company mampu memenuhi dana proyek tersebut dari internal cash-nya,” papar Haryajid

Menurut hitung-hitungan Inco, selain meningkatkan kapasitas produksi, bendungan ketiga juga akan meningkatkan efisiensi. Bing R. Tobing mengatakan, pihaknya berharap dapat mengurangi biaya tunai produksi sebesar tujuh persen, atau sekitar 0,10 dolar sampai 0,15 dolar per pon, dari posisi saat ini sekitar 1,65 dolar sampai 1,70 dolar per pon. Perseroan juga dapat menurunkan risiko pasok energi listrik pada masa kering dengan meningkatkan kapasitas total pembangkit listrik tenaga air menjadi 365 megawatt dari 275 megawatt.

Rencana ekspansi itu dinilai tepat oleh analis. Franco Sytedjo Widjojo, analis dari Ibas Research mengatakan momennya tepat karena permintaan pasar produk nikel sedang tinggi. Posisi exchange rate atau nilai tukar rupiah terhadap dolar pun dinilai sangat mendukung ekspansi tersebut. Sebagai perusahaan nikel terbesar di Indonesia, kata Franco, Inco tentu menguasai pasar.

Inco menandatangani kontrak karya pertama kali pada tahun 1968. Kontrak kemudian dimodofikasi dan diperpanjang tahun 1996 hingga 2025. Perseroan memulai ekspansi pada tahun 1996 dengan dana sebesar 630 juta dolar. Targetnya meningkatkan kapasitas produksi hingga 50 persen menjadi 150 juta pon, dari biaya rendah nikel dalam matte per tahun. Ekspansi tersebut selesai pada tahun 1999. Dan pada tahun 2003, Inco terbukti dapat melebihi kapasitas produksi yang diinginkan, yaitu 155 juta pon nikel dalam matte.

Masih di tahun 2003, pada bulan Februari manajemen perseroan menandatangani kontrak kerjasama dengan PT Aneka Tambang Tbk (Antam), untuk secara bersama mengembangkan wilayah kontrak di Sulewesi Tenggara. Berdasarkan kontrak itu, Inco bermaksud untuk menambang biji saprolitic dan dikirimkan ke Antam untuk peleburan. Inco berharap pengiriman ke Antam sudah dapat dimulai pada pertengahan 2005.

Pada kuartal pertama 2004, Inco Limited sebagai salah satu pemegang saham, meningkatkan kepemilikannya menjadi 61 persen. Sumitomo Metal Mining menguasai 20 persen saham serta public float dan lainnya sebanyak 19 persen.

Tren Harga

Sesuai namanya, nikel masih menjadi produk andalan Inco. Kinerjanya sangat ditentukan oleh tingkat harga nikel dunia, di samping kapasitas produksi dan kemampuan menekan biaya produksi. Hingga saat ini harga jual nikel masih mengacu kepada Bursa Logam London (LME). Berdasarkan kontak-kontrak jangka panjang perseroan dalam denominasi dolar AS, harga jual nikel dalam matte ditentukan berdasarkan formula dengan patokan harga tunai pada LME.

Namun, Tunggul Silaban, analis dari Ibas Research pesimis bahwa posisi harga jual produk nikel yang sih tinggi akan berlanjut. Alasannya, beberapa perusahaan tambang nikel lain meningkatkan eksplorasi. “Dengan meningkatnya supply, harga pun akan mulai mengalami koreksi,” paparnya.

Pernyataan Tunggul Silaban diperkuat Franco, analis dari perusahaan riset yang sama. Menurutnya, Cina sebagai konsumen terbesar, akan merevisi pertumbuhan GDP (gross domestic product) menyusul kenaikan harga minyak dunia. Hal ini akan akan menekan permintaan Cina atas produk nikel.

Sejauh ini, ekspansi kapasitas Inco selalu berjalan optimal. Setelah pada tahun 2003 dapat mencapai kapasitas produksi 155 juta pon nikel dalam matte, manajemen mematok target 160 juta pon tahun ini. Momen ekspansi yang menguntungkan karena harga nikel dunia sedang menanjak naik. Pada triwulan ketiga 2004, harga nikel naik 55 persen menjadi 10.916 dolar per pon dari 7.037 dolar per ton (3,19 dolar per pon) pada kuartal ketiga 2003.

Alhasil, Inco pun dapat mengumumkan kenaikan laba bersih hampir tiga kali lipat menjadi 82,9 juta dolar (0,08 dolar per saham) dari 28,2 dolar (0,03 dolar per saham). Jika dihitung per sembilan bulan yang berakhir pada September 2004, harga naik menjadi 10.737 dolar per ton (4,87 dolar per pon) dari 6.581 dolar per ton (2,98 dolar per pon) pada periode yang sama tahun

2003. Laba bersih perseroan mencapai 208,9 juta dolar (0,21 dolar per saham) per September 2004, naik dibandingkan 65,0 juta dolar (0,07 dolar per saham pada periode yang sama tahun 2003.

Kas perseroan pun naik tajam menjadi 317,8 juta dolar pada sembilan bulan pertama 2004, dari 175,3 juta dolar pada periode yang sama tahun 2003. Sumbangan kas triwulan ketiga saja mencapai 102,9 juta dolar.

Peningkatan ini terutama disebabkan oleh kenaikan penjualan sebesar 246,8 juta dolar dikurangi kenaikan pembayaran kepada pemasok sebesar 38,7 juta dolar dan pajak sebesar 43,5 juta dolar. Pengeluaran barang modal selama sembilan bulan pertama 2004 meningkat menjadi 58,2 juta dolar dari 24,0 juta dolar pada periode yang sama 2003. Penerimaan arus kas bersih setelah pengeluaran barang modal, pembayaran utang dan pembayaran dividen sebesar 134,6 juta dolar. Angka itu lebih dari dua kali lipat dibanding 61,1 juta dolar pada periode yang sama 2003.

Analis memperkirakan, kinerja Inco tahun 2005 hingga 2006 tidak sespektakuler tahun 2003 dan 2004. Salah satu penyebabnya, eksplosure nikel semakin tinggi, termasuk oleh perusahaan-perusahaan pesaing.

Menurut perhitungan Haryajid, hingga akhir tahun ini, penjualan Inco akan tumbuh sebesar 775 juta dolar atau mencapai 52 persen. Laba kotor Inco akan meningkat 132 persen atau mencapai 381 juta dolar. Sedangkan margin perseroan diperkirakan akan tumbuh hingga 49 persen. Laba usaha diproyeksikan mencapai 368,8 juta dolar dengan margin laba usaha mencapai 47,6 persen.

Inco juga memiliki track record yang baik dalam penyelesaian utang-utangnya. Terakhir, perseroan melakukan pembayaran kembali utangnya pada tanggal 30 September 2004. Dengan demikian, perseroan telah mengurangi saldo utang jangka panjangnya menjadi 115,4 juta dolar.

Sesuai keputusan yang diumumkan Oktober 2004, dewan komisaris Inco telah menyetujui pembagian dividen interim 2004 sebesar 0,0125 dolar per saham. Dividen tersebut akan dibayarkan pada tanggal 25 November 2004 untuk pemegang saham yang tercatat per tanggal 9 November 2004.

Dalam rangka meningkatkan likuiditas saham, sebelumnya perseroan telah menempuh langkah stock split dengan rasio satu saham lama menjadi empat saham baru. Namun langkah tersebut dinilai Tunggul tidak cukup efektif. Menurutnya perseroan tidak bisa mengharapkan peningkatan price to book value seperti tahun-tahun yang lalu yang sempat mencapai 11 kali.

Investor, kata Tunggul, lebih melihat harga nikel sebagai acuan. Karena itu ia memperkirakan kenaikan harga saham perseroan akan lebih alot. “Harga sekarang ini Rp 10.000 per saham, sudah mencapai posisi fair value. Jadi kalau untuk naik lagi agak sulit,” ujarnya.

Pandangan lain dikemukan Haryajid. Meski setelah stock split frekuensi perdagangan saham Inco terus menunjukkan penurunan, namun peluang untuk menguat masih memungkinkan. Alasannya, sektor ini cukup cerah dan perusahaan memiliki kinerja cukup baik. Karena itu ia memperkirakan saham Inco masih akan menjadi buruan investor. “Kami perkirakan hingga akhir tahun, pergerakan saham Inco berkisar Rp 9.000 – Rp 13.000. Rekomendasi atas saham ini, buy on weakness,” papar Haryajid.

Sumber : (Mashud Toarik) Investor (chached)


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Masyarakat Sandaran [Sipoholon] Bertemu Dengan Bupati Taput [Tapanuli Utara]

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Mau Tes Urin “Kok” Nggak Bisa Kencing