Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
31
Okt '04

Wajah Masjid: Refleksi Nilai Pluralis


Masjid, yang sejak masa Nabi Muhammad SAW menjadi pusat kegiatan masyarakat bahkan pusat peradaban umat Islam, memiliki makna universal. Tidak adanya aturan baku dalam mengatur langgam maupun bentuk arsitektur masjid, memberikan kebebasan kepada umat dalam mengapresiasikan wajah masjid sesuai budaya setempat.

Indonesia, negara berpenduduk mayoritas beragama Islam terbesar di dunia, telah berhasil menghadirkan arsitektur masjid yang menggambarkan nilai universal dengan beragam bentuk. Ini disebabkan oleh beragamnya budaya di bumi Nusantara.

Kentalnya tipologi ruang dari budaya setempat pada masjid di masa awal penyebaran agama Islam, tidak lepas dari pemanfaatan konsep ruang kosmos yang ada pada kebanyakan tipologi rumah di Nusantara.

Seperti diketahui, rumah adalah mikro-kosmos (jagad kecil) yang merupakan refleksi dari dunia sebagai makro-kosmos (jagad besar). Atap menggambarkan langit/surga dan ruang di bawahnya sebagai dunia tempat manusia berkehidupan dan bagian paling bawah dari rumah (pondasi) sebagai dunia bawah/neraka (Architecture, Indonesian Heritage: 1998).

Tipologi masjid
Masjid di Nusantara memiliki bentuk atap sangat menonjol karena bagian dari ritual budaya setempat yang menandakan tempat suci untuk beribadah. Bentuk atap yang bertumpuk pun juga representasi dari langit/surga yang bertingkat-tingkat. Bandingkan dengan Candi Borobudur, yang berundak menuju ruang kehampaan di bagian paling atas.

Bagian paling penting dari masjid adalah ruang utama untuk tempat beribadah, belajar, maupun kegiatan sosial masyarakat lainnya. Ruang di bawah atap inilah sebagai mikro-kosmos representasi dari dunia tempat manusia hidup dan berinteraksi. Faktor iklim dan budaya membuat tipologi ruang utama kebanyakan masjid di Nusantara bersifat terbuka, tanpa dinding.

Ciri lain pada ruang utama ini adalah adanya ruang mihrab, tempat Imam memimpin sholat dan memberikan khotbah. Mihrab juga pemberi arah kiblat. Bagian ini biasanya disatukan dengan bidang dinding masif di sepanjang sisi arah kiblat ruang utama. Ini juga membantu para umat berkonsentrasi dalam beribadah.

Pemanfaatan tipologi “pendopo” sebagai ruang utama merupakan solusi cerdas dalam menghadirkan fungsi masjid yang lebih profan (M Ichsan HN, Masjid2000). Ini juga demokratis karena di sinilah para pemimpin bertemu dengan umatnya dalam menyelesaikan berbagai masalah bersama di masyarakat secara terbuka.

Ruang terbuka di luar bangunan ruang utama masjid biasanya sengaja dihadirkan untuk memberikan fleksibilitas pada pemakaian ruang ibadah. Ruang terbuka yang biasa dikemas sebagai inner-courtyard ini bermanfaat pada perayaan tertentu ketika umat akan berdatangan lebih ramai dari biasanya.

Menara di sisi masjid lebih berfungsi sebagai tempat orang ber-adzan untuk memanggil dan memberitahu umat telah masuknya waktu shalat. Kehadirannya saat ini cenderung hanya sebagai simbol karena teknologi pengeras suara yang sudah berkembang tidak mengharuskan orang untuk ber-adzan di atas menara lagi.

Sejak dulu, lokasi masjid selalu menempati posisi strategis pada sebuah komunitas masyarakat (peradaban). Dalam tipologi “alun-alun” pun, tempat ibadah ini dihadirkan pada salah satu sisi ruang terbuka tersebut. Dan dalam kawasan tertentu, tidak jarang ia berfungsi pula sebagai community center.

Wajah masa kini
Saat ini, pendirian masjid berkembang sangat pesat dan memiliki wajah arsitektur yang semakin beragam dengan majunya sistem arus informasi yang berkembang. Sudah banyak masjid yang berpatokan pada gaya arsitektur Timur Tengah, tempat agama Islam berasal. Tampilannya tentu berbeda dengan budaya dan iklim di bumi Nusantara.

Tapi, di sisi lain kehadiran wajah masjid bernafaskan budaya lokal yang dipadukan dengan gaya arsitektur terbaru (kontemporer) pun bermunculan kembali. Masjid Istiqlal di Jakarta Pusat, yang dibuat oleh arsitek F. Silaban pada dekade 1960an, misalnya, memiliki posisi yang sangat dekat dengan titik nol (Monas) Kota Jakarta.

Tengok saja. Wajah bangunannya sangat kental dengan gaya arsitektur modern yang tegas, lugas, dan tetap elegan. Berbeda dengan masjid lain, ruang utama yang cukup besar skalanya ini tidak terlalu terbuka. Hanya ada pencahayaan dari lubang-lubang sempit pada kulit bangunan. Hal ini menghadirkan ruang ibadah yang kondusif untuk beribadah (kontempelasi) karena terasa lebih sakral dan khusyuk.

Masjid Universitas Indonesia (UI) Depok hadir sekitar dekade 1980an di tengah keterbatasan sebuah campus design guidelines. Langgam arsitektur tradisional dicoba oleh arsitek Triatno Y. Harjoko dengan membuat sebuah bangunan ibadah yang memiliki tipologi masjid nusantara, tapi memakai teknologi konstruksi terbaru pada masa itu. Sehingga menghasilkan ruang utama tanpa empat kolom di tengah.

Yang menarik, ada inner-courtyard untuk menambah fleksibilitas ruang dan tidak ada menara. Pengeras suara hanya ditempelkan pada bagian atas dari susunan atap yang bertumpuk.

Begitu pula Masjid Pondok Indah, Jakarta Selatan. Masjid yang letaknya di gerbang masuk kawasan perumahan elit Pondok Indah dari arah Utara ini dibuat pada awal 1990an oleh arsitek Ismail Sofyan dan Irsal Said. Mereka mencoba memadukan bentuk atap piramid tapi tidak bertumpuk sehingga memberikan nafas kesederhanaan. Ruang utama tanpa kolom juga menambah fleksibilitas ruang dalam.

Seperti Masjid Istiqlal, masjid Pondok Indah juga terdiri dari dua lantai. Lantai atas berfungsi sebagai ruang utama dan lantai bawah sebagai ruang penunjang atau ruang serba guna.

Lain halnya Masjid Trisakti yang lahir (awal dekade 2000an) dari sayembara rancangan di kalangan tertutup akademia. Arsitek Jeffry Sandy dan Sukendro Sukendar Priyoso, sebagai pemenang, dinilai berhasil menghadirkan sebuah wajah masjid dengan semangat arsitektur kontemporer masa kini. Berbentuk kubus sederhana, transparan, tanpa dinding, dan kubah di tengah konteks lingkungan komunitas heterogen dan mayoritas non-muslim.

Pemanfaatan lantai dasar yang sengaja lebih rendah dari permukaan tanah mampu memberikan privasi tersendiri sebagai ruang terbuka mahasiswa dan mulai lantai atasnya digunakan untuk ruang utama shalat dilengkapi lantai mezaninne sebagai tambahan.

Masjid berawal dari sebuah shelter (pendopo) sederhana untuk tempat ibadah dan berkumpul, hingga percampuran dengan langgam arsitektur budaya agama sebelumnya (Hindu - Budha). Kemudian, berlanjut dengan masuknya budaya Timur Tengah dengan kubah (atap bawang) dan akhirnya kembali hadir pada upaya pencarian langgam wajah sebuah masjid yang sesuai dengan kultur setempat dan masa kini.

Keinginan berekspresi yang berbeda itu telah memberikan semangat bergulirnya perubahan menuju kemajuan. Hadirnya beragam wajah masjid juga tidak lepas dari kebebasan umat merefleksikan makna beribadah dalam balutan budaya lokal. Ini juga memberikan nilai keterbukaan dan pluralis yang seharusnya juga dipahami umat Islam bersama umat lain dalam kehidupan bermasyarakat dengan damai, harmonis, dan tetap dinamis.
Oleh: Aditya W. Fitrianto
# Arsitek, pemerhati pusaka kota dan arsitektur di Jakarta

Sumber : Koran Tempo 


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Bangunan Hemat Energi: Rancangan Pasif dan Aktif
Artikel selanjutnya :
   » » “Sitti Djaoerah”: Yang Hilang dan Terlupakan?