Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Kamis
2
Sep '04

Prof. Pantur Silaban, PhD.: Hukum Alam Ajarkan Jangan Korupsi


HAL-hal rumit bisa dijelaskannya dengan lugas. Bahkan terkadang diselingi humor-humor segar yang membuat ratusan peserta kuliah populer Fisika di Jurusan Fisika Departemen MIPA, ITB, Bandung, Senin (30/8) tetap duduk ‘manis’ di bangku kuliah yang cukup berjejal hingga rela berdiri di depan pintu ruangan. Di panggung, seorang fisikawan tengah menjelaskan topik bahasan berjudul “Umur Alam Semesta”.

Pria itulah Prof. Pantur Silaban, PhD., yang dengan penuh semangat menjelaskan mengenai umur alam semesta. Selingan humor mampu meringankan dan membawa suasana hadirin dari berbagai kalangan untuk tetap duduk dalam ruangan yang memiliki barisan kursi berjenjang seperti di studio bioskop.

Bahkan Rektor ITB, Dr. Kusmayanto Kadiman sempat melontarkan sebutan penghibur kepada Prof. Silaban, di akhir acara. “Semula kami sempat mewanti-wanti agar materi yang disampaikan tidak terlalu ‘berat’. Tapi ternyata, beliau memang seorang entertainer yang bisa menghibur semua dengan paparan Fisikanya,” ujar Kusmayanto.

Dalam pemaparannya, pria kelahiran Sidikalang, Tapanuli Utara, 11 November 1937 menjelaskan alam semesta mulai terbentuk dan berkembang ketika terjadi dentuman besar (big bang) pada hitungan waktu Planck, t = 10-43 detik. Saat itu belum ada materi, melainkan energi yang sangat besar dan memancarkan radiasi. Suhu saat itu mencapai 1032 Kelvin, namun diameter alam semesta baru sebesar 10-3 cm.

Dalam perjalanan waktu, alam semesta terus mengembang dan bertambah besar dan ditunjukkan dengan perbesaran diameter alam semesta. Sementara suhu terus menurun hingga kini berada pada kisaran 30 Kelvin (sekira -270,150 Celsius) di umurnya yang mencapai 1010 tahun atau 10 miliar tahun. Dan alam semesta masih dalam perjalanan menuju perkembangan optimal. Maka, Prof. Silaban secara berkelakar saat menjawab pertanyaan seorang guru SMU, menyarankan jangan takut untuk berinvestasi. “Kalau mau investasi sekarang saja. Jangan takut,” ujarnya.

Keasyikannya menerangkan tentang umur alam semesta, terkadang membuat Silaban secara tidak sadar menggunakan peranti sorot berlampu (penunjuk) gambar seakan-akan corong mike. Hal itu membuat hadirin tersenyum-senyum. Ia kemudian meletakkan alat sorot ke dalam saku jasnya.

Ketika ditemui usai pemaparannya, Silaban kepada “Cakrawala” mengatakan, “Antara waktu 10-43 detik hingga 200 detik merupakan dominasi radiasi. Setelah itu baru muncul dominasi materi.” Namun ia mengakui, sebelum t = 10-43 tidak diketahui apa yang terjadi. Ia juga mengakui tidak tahu sumber energi yang sangat besar sehingga menghasilkan dentuman besar.

“Memang itu berasal dari ledakan energi yang sangat besar. Yang ada (saat itu) radiasi saja. Tapi materi baru dibentuk kemudian. Terbentuknya materi karena adanya perusakan simetris yang menghasilkan masa-masa tertentu, sehingga dapat dijelaskan, mengapa masa elektron sekian, kenapa masa proton sekian,” tutur lulusan Fisika Teoritik dari FMIPA ITB pada 4 April 1964. Kurang dari satu bulan, atau tepatnya 4 April 1964, Silaban muda diangkat menjadi staf pengajar Jurusan Fisika, FMIPA ITB.

Saat disinggung, jika awal alam semesta dari energi, berarti ada sumbernya dan sumber itu berasal dari mana?

“Nah itu kita tidak tahu. Tapi bagaimanapun bisa dihitung. Awalnya ada suhu 1032 kelvin. Awalnya ada singularitas yang memiliki kepadatan (densitas) sangat besar. Jika membahas apa yang terjadi sebelum t = 10-43 detik, akan terjerat pada polemik yang tidak kita mengerti,” jelas Silaban.

Hormati orangtua

Sebagai putra daerah, Silaban mengakui dirinya berasal dari orang tua yang buta huruf. Tapi buta huruf tidak berarti buta akan nilai mata uang. “Orang tua saya tidak bisa belajar membaca, tapi kalau uang Rp 10,00 atau Rp 100,00, tahu mereka,” katanya yang disambut riuh peserta kuliah populernya.

Namun Silaban mengakui kondisinya saat ini tidak terlepas dari hasil didikan orangtuanya. “Bagaimanapun juga orangtua harus dihormati. Apa jadinya kalau kita tidak menghargai orang tua sendiri?” katanya kepada “Cakrawala” pada pertemuan terpisah di ruang kerjanya, Rabu (1/9).

Ayah empat putri ini pernah menjadi dosen di Universitas Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur, Malaysia pada kurun waktu tahun 1974 hingga 1976. Sementara gelar PhD dalam Teori Relativitas Umum diraihnya dari School of Relativity, Department of Physics, Syracuse University, New York, AS pada 12 Juni 1971.

Saat disinggung mula kesukaannya pada ilmu Fisika, pria yang juga keponakan dari arsitek Masjid Istiqlal, (Alm) F. Silaban menuturkan, dirinya menyukai Fisika yang menceritakan hal-hal menarik mengenai perilaku benda dan alam secara keseluruhan. Pada prinsipnya, Silaban mempelajari hal-hal yang disukainya. Maka ia tidak memandang mengandalkan hidup dari hal yang disukainya tersebut. “Saya tidak mau diperbudak oleh hal yang tidak saya sukai meskipun memberikan imbalan besar. I want to be myself,” ujarnya lugas.

Bahkan Fisika mengajarkannya pula mengenai keseimbangan di alam semesta dan membuatnya menyadari lebih banyak lagi fenomena yang tidak dimengerti. “Hukum alam juga mengajarkan manusia jangan korupsi dan jangan serakah. Jadi perilaku korupsi adalah perilaku yang menentang hukum alam,” sebut Silaban.

Ia mencontohkan, Teori Atom Bohr mengajarkan jangan serakah. Ketika elektron hendak berpindah dari satu lapisan orbit ke lapisan orbit berikutnya, ia memerlukan energi tertentu. Tapi jika pasokan energi tersebut berlebih, kelebihannya tetap tidak digunakan. “Elektron tidak serakah, jadi kelebihan energi tidak diambil, karena untuk pindah lagi ke lapisan orbit berikutnya tidak cukup. Tapi kalau korupsi, ada kelebihan dipegang tidak mau dilepas atau dikembalikan,” tuturnya.

Kesederhanaan P. Silaban terlihat dari ruang kerjanya di Jurusan Fisika yang berisikan satu meja kerja berikut kursi, rak yang dipenuhi buku dan sebuah meja bundar berikut tiga kursi kayu untuk menerima tamu. Sebuah papan tulis bertuliskan aneka rumus dan gambar terpampang di salah satu dindingnya.

Guru besar yang tinggal di kompleks dosen ITB di daerah Sangkuriang, Dago menggunakan sedan tua sebagai sarana transportasi. Terkadang untuk bepergian jarak dekat ia memilih menggunakan kendaraan umum (Angkot). “Saya tidak berolah raga, tapi saya rasa cukup dengan berjalan kaki. Kadang-kadang saya memakai Angot dan ada sedikit jalan kaki. Juga kadang-kadang dari rumah ke kampus,” katanya saat disinggung mengenai olah raga yang dijalaninya.

Ia juga tidak merasa besar dengan ilmu yang dimilikinya, karena setiap orang memiliki ilmunya sendiri yang berguna. Silaban mencontohkan penambal ban yang memiliki ilmu menambal. Dirinya tidak akan mampu menambal ban dengan cepat seperti itu. “Saya juga pernah ketinggalan kunci kendaraan di dalam mobil. Tapi seorang ahli kunci cukup beberapa menit untuk membuka pintu mobil. Saya memberikan imbalan sesuai dengan ilmu yang dimilikinya, dan masih lebih murah seandainya saya harus memecahkan kaca untuk mengambil kunci,” katanya.

Itulah Silaban dengan kearifan ilmu Fisika yang membuatnya lebih dekat kepada Sang Pencipta. Semua ilmu dalam pandangannya adalah sama. Tidak ada yang lebih tinggi dari ilmu yang lain. Bahkan ilmu alam mengajarkan keseimbangan dan tidak harus berbuat korupsi. Ah… andaikan koruptor belajar mengenai Teori Atom Bohr.

Sumber : (dikdo/”PR”) Pikiran RakyatFisikanet LIPI


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.