Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Selasa
31
Agt '04

“Alam Masih Miliaran Tahun, Silakan Terus Berinvestasi”


AJAKAN ini datang bukan dari seorang perencana ekonomi atau keuangan negara, melainkan dari seorang fisikawan Indonesia yang dalam 40 tahun belakangan berkutat dengan teori Relativitas Umum Einstein dan pusparagam tema fisika teori yang berkembang pesat sejak awal abad lalu sampai awal abad ini. Dari repih renik hingga jagat raya, dari kuantum ke supersimetri.

DIALAH Prof Pantur Silaban PhD, yang oleh Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr Kusmayanto Kadiman dan Ketua Departemen Fisika ITB Pepen Arifin PhD didaulat menggelar kuliah umum populer Umur Alam Semesta, Senin (30/8) di ruang kelas Fisika ITB di bilangan Ganesa, Bandung. Disampaikan dalam bahasa awam dengan selingan guyon yang khas Silaban, kuliah ini boleh dibilang memberi inspirasi kepada sekitar 300 orang yang hadir dari pelbagai latar mengenai Alam Semesta dari sudut sejarah kelahiran dan perkembangannya.

Kapasitas duduk ruang kuliah berterap delapan itu sekitar 170 orang. Selebihnya menyemut duduk di lantai, tangga, dan membeludak di mulut pintu sampai nun di luar sana. Duduk di kursi undangan antara lain mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Luhut Pandjaitan dan mantan Rektor ITB Prof Wiranto Arismunandar.

Di bangku lain terlihat ahli geologi Prof MT Zen, Presiden Direktur ESQ Ary Ginanjar Agustian, beberapa dari kalangan agamawan, dan sekian orang guru SMA. Selain itu, tak terhitung alumni ITB dari berbagai jurusan dan kota yang datang spontan, mahasiswa tingkat pertama sampai pascasarjana, hingga awam yang tertarik hadir begitu membaca koran memaklumkan kuliah ini.

Silaban memulai kuliah dengan menganalogikan kelahiran anak manusia dan Alam Semesta. “Kalau seorang anak lahir, yang langsung ditanya adalah kapan, berapa panjangnya, dan berapa beratnya. Tak akan ditanya berapa temperaturnya,” kata Silaban yang disambut tawa gempita seluruh yang hadir.

Alam Semesta lahir 10-43 detik atau 0,000… (sampai 42 buah nol) 1 detik setelah permulaan waktu. Diameternya hanya seperseribu sentimeter. Kecil sekali. Jauh lebih tipisdarititianrambutdibelah tujuh. Namun, energinya 10 19 gigaelektronvolt. Luar biasa besar. Tak ada artinya kekuatan bom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Berbeda dengan data anak lahir, Alam Semesta saat kelahirannya dilaporkan bersuhu 1032 derajat kelvin. Alangkah panasnya. Telur ayam cukup diletakkan 9,46 ribu triliun kilometer dari bayi Alam Semesta ini, ia langsung matang rebus dalam tempo sesingkat-singkatnya: seperseribu detik.

“Sedikit saja lebih dekat diletakkan ke bayi Alam Semesta itu, telur Saudara hangus tak berbekas,” kata guru besar Fisika ITB ini yang disambut dengan tepuk riuh rendah.

Teori yang memungkinkan fisikawan dan kosmolog menelusuri kembali sejarah Alam Semesta sejak kelahirannya 10-43 detik setelah permulaan waktu itu, menurut Silaban, adalah Teori Unifikasi Agung.

Bagaimana kelanjutan Alam Semesta ini kemudian? Dari sebuah bola kecil berdiameter seperseribu sentimeter dengan energi yang maha besar kemudian meledak dan mengembang menjadi kediaman 1011 galaksi, yang masing-masing galaksi terdiri dari 1011 bintang, dan salah satu galaksi itu (Bimasakti) tempat Matahari sebagai salah satu bintang di mana Bumi Manusia mengorbit, di masa depan? Terus mengembangkah atau akan mengisut pada waktu tertentu?

Banyak model kosmologi yang dikemukakan para ahli untuk menjawab pertanyaan ini dari dasawarsa 1910-an sampai sekarang. Namun, ilham dari seluruh model kosmologi relativistik itu, menurut Silaban, adalah model Einstein (1916) yang dimodifikasi dengan temuan Hubble tentang pengembangan Alam Semesta, model de Sitter (1917), dan model Friedman (1922) yang dipandang sebagai model kosmologi yang berada di antara model Einstein dan model de Sitter.

Alam Semesta homogen dan isotropik yang paling sering ditelaah punya struktur geometri yang dinyatakan oleh metrik Robertson-Walker, salah satu pemecahan persamaan Medan Einstein dengan memilih konstanta kosmologi nol. Kelahiran Alam Semesta seperti ini diawali dengan Dentuman Besar yang terjadi 10-43 detik setelah permulaan waktu. Metrik R-W tadi dapat digunakan untuk menghitung kecepatan pengembangan Alam Semesta dan bisa pula menentukan apakah Alam Semesta terbuka, datar, atau tertutup.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Alam Semesta entah itu terbuka, datar, entah tertutup berumur 10 miliar tahun. Dalam kuliah itu Silaban juga menunjukkan bahwa suatu waktu nanti, menurut model kosmologi relativistik, Alam Semesta yang kini masih mengembang akan berhenti mengembang kemudian mengisut sampai mati. Masa kita sekarang belum separuh dari perjalanan panjang sejarah Alam Semesta itu.

“Karena Alam Semesta masih miliaran tahun lagi, silakan terus berinvestasi,” kata doktor bidang Relativitas Umum keluaran Syracuse University, Amerika Serikat (1971), itu, yang disambut dengan tawa riuh.

TANYA jawab mengalir sesudah paparan berdurasi sekitar satu jam itu. MT Zen rupanya ingin tahu apa yang terjadi antara permulaan waktu dengan kelahiran Alam Semesta yang hanya 10-43 detik itu.

Silaban menjawab, memang banyak spekulasi yang menjawab pertanyaan ini. Kalau mau dikelompokkan menjadi dua, yang satu berpendapat bahwa pada waktu yang singkat itu belum berlaku hukum-hukum fisika, yang lain berpendapat sudah berlaku hukum-hukum fisika saat itu. “Tapi, saya bilang hukum fisika dimulai pada saat sama dengan 10-43 detik,” katanya.

Fisikawan Freddy P Zen yang mendalami teori superdawai di Institut Yukawa, Jepang, dan diminta Silaban untuk memberi jawaban tambahan mengatakan, fisikawan Stephen Hawking dari Inggris berpendapat bahwa pada kurun waktu yang singkat itu terjadi fluktuasi kuantum yang spontan. “Hawking mengemukakan keterangan itu pada sebuah pertemuan gerejawi di Roma,” kata Freddy. “Di situ dia mengatakan fluktuasi kuantum yang spontan itu terjadi di mana Tuhan tidak berperan.”

Sepanjang kuliah populer ini Silaban selalu berusaha menghindari persamaan atau rumus fisika. “Saya usahakan memenuhi permintaan rektor ITB untuk menghindari rumus fisika, tetapi kalau angka-angka saya kira kita tidak keberatan sebab hampir semua yang hadir di sini sudah lulus sekolah menengah,” katanya. Satu-satunya rumus yang terpaksa dia tuliskan di papan tulis adalah persamaan metrik Robertson-Walker yang berguna untuk menghitung umur Alam Semesta.

Beberapa peserta dari berbagai latar yang sempat bercakap-cakap dengan Kompas menyatakan kuliah ini dapat diserap dan memberi inspirasi yang menggairahkan untuk mengenal cara kerja Alam Semesta. Rektor ITB Kusmayanto Kadiman mengatakan, biarlah kuliah populer Silaban ini menjadi Dentuman Besar bagi kuliah umum populer berikutnya yang akan diselenggarakan di ITB dalam waktu dekat.

“Saya berencana akan mengundang fisikawan Paul Davies yang menulis buku populer ilmu God and the New Physics berceramah di ITB, kemudian nanti Richard Dawkins tentang evolusi,” kata Kusmayanto.

Davies dan Dawkins dikenal sebagai ilmuwan yang menjadi pembicara publik di televisi Inggris, masing-masing mengenai fisika dan evolusi.

Kuliah populer seperti ini, menurut MT Zen, adalah yang kedua di ITB dalam 30 tahun terakhir. “Yang pertama awal tahun 1970-an ketika saya berceramah di salah satu ruang kuliah umum ITB mengenai filsuf Karl Popper,” katanya kepada Kompas. “ITB harus melanjutkan ini. Kalau kita masih baru punya lima orang yang mampu untuk itu jalan saja. Punya dua orang pun jalan terus.”

Beberapa dosen fisika menyambut baik gagasan Kusmayanto dan MT Zen ini. Untuk membumikan fisika sekaligus menarik minat orang belajar ilmu ini. Barangkali inilah cara ITB untuk menyemaikan rasionalitas kepada publik Indonesia yang terasa makin hilang saja, makin menyusut saja sejak lulusan-lulusan HBS tempo doeloe mewarisinya kepada kita.

Sumber : (Salomo Simanungkalit) Harian Kompas


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.