Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Kamis
1
Jul '04

Nasib Tukang Ledeng - Yang Satu Ditodong, Lainnya Divonis Setengah Miliar


Tukang ledeng alias orang PAM memang sering bernasib sial. Di Medan, pejabat penting PAM pernah dimaki-maki wali kota karena gali –menggali di jalan raya tidak terkoordinasi dengan galian-galian yang dilakukan PLN atau Telkom.

Di Makassar, ada yang patah kaki, terjatuh karena kelelahan bekerja membersihkan lumpur yang terbawa arus banjir di instalasi pengolahan air minum. Di Jakarta Utara, pernah ada yang tubuhnya melepuh karena tiba-tiba terbakar oleh amukan api yang berasal dari lampu petromaks sewaktu melaksanakan tugas.

Bila dikumpul cerita duka mereka, barangkali bisa menjadi bahan untuk sebuah buku yang menarik. Seperti hendak melengkapi kisah-kisah sedih itu, baru-baru ini Pengadilan Negeri Cibinong menjatuhkan vonis denda sebesar Rp 500 juta terhadap Direktur Utama PDAM Kabupaten Bogor Ina Gustina yang digugat oleh warga karena memutuskan sambungan air minum ke rumahnya. Selain itu ia juga diharuskan membayar uang paksa Rp 1 juta per hari jika lalai menyambung kembali aliran air minum ke rumah pelanggan tersebut.

Pemutusan dilakukan karena si pelanggan alpa membayar rekening, dan penyambungan kembali hanya akan dilakukan jika rekening dibayar tambah biaya pemasangan kembali sebesar Rp 150.000. Si pelanggan menolak membayar biaya pemasangan itu dengan alasan PDAM bertindak sewenang-wenang, antara lain melakukan pemutusan tanpa memberikan peringatan terlebih dulu.

Ina Gustina sendiri Kamis (10/6) siang lalu kepada penulis menyatakan akan naik banding. Katanya, PDAM tidak bersedia melakukan penyambungan kembali tanpa yang bersangkutan membayar biaya pemasangan kembali.
”Kami bukannya mau ngotot-ngototan atau arogan. Kami tidak ingin terjadi preseden buruk. Nanti semua pelanggan akan berbuat hal yang sama, nah bagaimana jadinya?” tuturnya

Dia menjelaskan, apa yang dilakukan terhadap si pelanggan sudah sesuai dengan ketentuan seperti yang tertera pada setiap rekening penagihan. ”Hal yang sama kan juga dilakukan PLN dan Telkom jika terjadi keterlambatan melampaui batas waktu yang ditentukan,” katanya membandingkan.
Kasus ini muncul ketika PDAM Kabupaten Bogor tanggal 30 April 2003 memutuskan aliran air ke rumah Ny. Handriyani di Perum Surya Praja, Cibinong. Rumah tersebut disewa oleh Bongbongan Silaban, SH selaku penggugat II, sedangkan Ny. Handriyani sendiri bertindak selaku penggugat I.

Boleh jadi benar untuk waktu-waktu mendatang sepatutnya PDAM atau instansi penyedia layanan masyarakat lainnya mempertimbangkan prosedur tindak pemutusan agar pas dengan alam demokrasi, tetapi yang patut dipertanyakan di sini, kok begitu saja hakim meluluskan tuntutan penggugat.
Misalnya menyangkut asal usul angka Rp 500 juta sebagai ganti rugi immaterial penggugat yang berdalih menanggung malu terhadap tamu karena di rumahnya tidak ada air, dan kehilangan kenikmatan tinggal di rumah, sehingga apabila menyewa kamar hotel harus mengeluarkan Rp 500.000 per hari.

Mudah-mudahan saja turun keputusan yang seadil-adilnya dan yang masuk akal dari pengadilan yang lebih tinggi. Dan sambil menunggu hasil banding, dan boleh jadi kasasi dari Mahkamah Agung bila Pengadilan Tinggi juga tetap mengalahkan PDAM Kabupaten Bogor, ada baiknya kita simak pengalaman tragis lainnya dari seorang tukang ledeng lainnya seperti penah diceritrakan oleh Jim Woodcock, konsultan pada Water and Sanitation Program Bank Dunia di Jakarta kepada penulis. Orang itu bernama Ek Sonn Chan, Direktur Perusahaan Air Minum di Phnom Penh, Kamboja.

Contohi Kamboja
Alkisah belasan tahun silam, perusahaan air minum itu hanya mampu menjangkau 15 persen penduduk kota. Sisanya yang 85 persen ada yang mengupayakan sendiri dari sumur bor dan sebagainya, tetapi tak sedikit yang harus membeli air dari pelanggan air minum tadi, dan dari pedagang khusus seperti yang juga terdapat di Jakarta. Mereka umumnya orang-orang miskin, dan mereka membeli 20 sampai 30 kali lipat dari tarif yang dibayar para pelanggan yang 15 persen itu.

Jadi, si miskin menjadi semakin miskin, dan sulitnya mendapatkan air bersih sangat berhubungan dengan kesejahteraan, yang ujung-ujungnya juga berpengaruh pada tingkat kecerdasan orang.
Sang Direktur sangat prihatin atas hal ini. Maka ia berusaha keras menemui Perdana Menteri Kamboja untuk menjelaskan masalah ini, sekaligus menjanjikan akan berusaha menyediakan air minum yang cukup bagi seluruh penduduk Phnom Penh. Tetapi syaratnya, ia harus leluasa menetapkan tarif yang cukup.

Pendek cerita sang perdana menteri setuju, dan program perluasan pun dilaksanakan sebagai hasil dari kenaikan tarif. Dalam 10 tahun ia berhasil meningkatkan jangkauan pelayanan dari 15 persen menjadi 85 persen, suatu prestasi yang bukan main.
Tetapi suatu hari, karena telah begitu sebal melihat kebanyakan jenderal dan penguasa negara enggan membayar tagihan air minum, ia pun memerintahkan anak buahnya untuk memutus aliran air ke rumah-rumah mereka.

Di Kamboja yang baru lepas dari perang saudara, jenderal cukup ditakuti. Dapat dimaklumi, anak buah Ek Sonn Chan takut. Maka tak ada jalan lain, Ek Sonn Chan sendiri yang turun tangan.
Dalam menjalankan tugasnya itulah seorang pelanggan berpangkat jenderal dengan anak buahnya langsung menodongkan bedil ke kepala Ek Sonn Chan dan melarang melakukan pemutusan. Bukannya gentar, sang direktur bangkit dan berkata, ”Saya tidak takut. Saya tahu Anda tidak akan menembak saya.” Sambil menjelaskan bahwa apa yang dilakukannya adalah demi keadilan dan agar semua orang tanpa kecuali bersedia membayar rekening, ia pun menawarkan untuk membayar rekening air minum sang jenderal selama ini dari sakunya sendiri walaupun katanya ia tidak punya banyak uang. Tetapi diingatkannya agar untuk bulan berikutnya sang jenderal bersedia membayar tagihan.

Happy ending, sang jenderal setuju, dan sejak peristiwa itu orang-orang gede lainnya pun akhirnya bersedia membayar rekening air minum.Dua pengalaman pahit gara-gara pemutusan aliran air tetapi dengan penyelesaian yang berbeda.

Sumber : (victor sihite) Sinar Harapan, Jakarta


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Musik - Awal Yang Indah Dari Tere
Artikel selanjutnya :
   » » Paulus Dituntut 18 Tahun Penjara