Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Kamis
24
Jun '04

Menimba Ilmu Dalam Serba Kekurangan



Masalah masih saja menghimpit pendidikan di Jakarta. Begitu pula yang terjadi di Jakarta Barat. Di sana-sini masih terlihat gedung sekolah rusak, mulai dari kerusakan ringan sampai berat. Pemandangannya makin kumuh ketika kursi dan meja belajar di ruangan juga sudah lapuk. Tidak sedikit murid harus berjejalan saat belajar. Ada juga ruangan sekolah yang tak memiliki meja dan kursi sekolah.

Di Jakarta Barat sedikitnya ada 27 gedung sekolah yang rusak berat. Sekolah-sekolah yang rusak tersebut baru diusulkan perbaikannya pada tahun 2005. ‘’Setiap tahun kami menerima daftar sekolah rusak dari beberapa kepala sekolah,'’ ungkap Kasi Gedung Sekolah Jakarta Barat, Saut Silaban.

Kebanyakan murid hanya pasrah menerima kondisi sekolahnya seperti itu. ‘’Dari luar, sekolah saya bagus,'’ ujar Tio, siswa SMP Negeri 45 Cengkareng, Jakarta Barat. Sekolah yang beralamat di Jl Utama Raya ini memang cukup megah, baik gedung maupun lapangan upacaranya. Namun, menurut Tio atap ruangan kelas III kerap kali mengalami kebocoran saat hujan turun.

‘’Kalau atap kelas saya nggak bocor. Yang lantai dua sering bocor,'’ ujar Tio, siswa yang masih kelas I. Ia menunjuk ke lantai dua, ruangan belajar anak kelas III. Selain ruangan yang kerap bocor saat, kamar mandinya juga menyedihkan.

‘’Kamar mandinya tidak terurus dan kotor,'’ tambah Tio. Bau tidak sedap pun sering tercium hingga ke ruangan belajar siswa. Menurut Tio, saat pertama kali masuk teman-temannya harus membayar uang bangunan, seragam, dan kelengkapan fasilitas sebesar Rp 1,2 juta. Namun, karena mendapat keringanan Tio hanya membayar Rp 800 ribu. Uang tersebut tentu cukup besar baginya. Namun, demi kepentingan anaknya, keluarga Tio berusaha keras melunasinya.

Sekolah memang tak memiliki anggaran untuk memperbaiki kerusakan bangunan, apalagi sekolah negeri. Berharap dari dana masyarakat atau orang tua murid juga tidak mungkin. Kalau masyarakat peduli, kondisinya mungkin akan lain. Jalan satu-satunya mengharap bantuan dari pemerintah yang sebenarnya nyaris tak ada atau kalaupun ada tidak cukup untuk memperbaiki keseluruhan kerusakan dan kekurangan-kekurangan tersebut.

Beragam kerusakan yang menimpa gedung sekolah serta kekurangan sarana pendidikan sebenarnya problem usang yang terabaikan pemerintah. Pemerintah daerah pun tak mau disalahkan. Mereka buru-buru menyatakan tak memiliki anggaran untuk itu. Padahal, dana untuk rehabilitasi sekolah pasti sangat besar.

Kondisi memprihatinkan juga terjadi di madrasah tsanawiyah (MTs) di wilayah Kapuk, Cengkareng. ‘’Sekolah itu tidak ada kantinnya,'’ ujar Mae, warga yang tinggal di sekitar MTs Kapuk. Bahkan, siswa sekolah tersebut sering membolos. Ini terjadi karena kurangnya penjagaan dan tidak ada pintu gerbang di sekolah tersebut.

MTs Kapuk lokasinya nyempil dan membuat penghuninya tak leluasa bergerak. Letaknya agak terpencil, jalan keluar-masuk sekolah sempit. Lapangan untuk upacara dan kegiatan di luar sekolah amat terbatas karena lahannya sempit.

Berdasarkan pengamatan Republika, MTs Munawaroh, Cengkareng, juga kondisinya cukup parah. Dinding bangunan sekolah sudah banyak yang terkelupas. Bahkan, sekolah ini tidak memiliki lapangan upacara. Karena tidak memiliki pintu gerbang, saat istirahat murid-murid sekolah tersebut sering berhamburan ke luar sekolah.

‘’Mau bagaimana lagi, ya begini kondisi sekolah kami,'’ ungkap Kepala Sekolah MTs Munawaroh, Haji Rozak. Sekolah tersebut dibangun di atas tanah yang ukurannya pas-pasan. Semula MTs tersebut memang hanya menyediakan sarana pendidikan untuk masyarakat sekitar. Dengan keterbatasan yang ada, sekolah tersebut tetap didirikan dengan satu visi mencerdaskan anak bangsa.

Menurut Rozak, kebanyakan dari anak didiknya dari kalangan tidak mampu. Di antaranya, dari anak-anak pemulung serta anak-anak jalanan yang bertempat tinggal di sekitar lingkungan sekolah. ‘’Justru biaya pembangunan jarang sekali saya minta dari anak-anak,'’ ujar Rozak.

Rozak menyatakan, yayasan yang lebih sering mengusahakan biaya perawatan untuk sarana-prasarana sekolah. Biasanya yayasan mencari dana ke Dinas Pendidikan Dasar, Dinas Sosial, dan Kantor Departemen Agama. ‘’Anak didik kami dikenai SPP sebesar Rp 30 ribu,'’ ujar Rozak.

Bahkan, terkadang siswa didiknya banyak yang menunggak SPP. ‘’Tapi, kalau ditegur, anak-anak malah bolos sekolah,'’ keluh Rozak. Karena itu, yayasan lebih sering mendiamkan siswa yang menunggak SPP.

MTs Al-Huda, Cengkareng, Jakarta Barat, sudah lama merenovasi sekolahnya, tetapi tak selesai-selesai. Akibatnya, proses belajar-mengajar di sekolah tersebut terganggu. Kendalanya juga dana. ‘’Kami menargetkan pembangunan fisik sekolah kami selesai pada akhir tahun 2004,'’ ujar Hermansyah, salah satu staf Yayasan Al-Huda.

Meskipun gedung sekolah sedang dalam proses renovasi, menurut Hermansyah, tak mengganggu proses belajar-mengajar. ‘’Proses belajar mengajar di sekolah kami berjalan lancar,'’ katanya.

Menurut Saut, setiap tahun selalu ada laporan masuk dari kepala sekolah tentang gedung sekolah rusak. Setelah berkoordinasi dengan Sudin Pendidikan Dasar barulah ditentukan sekolah-sekolah yang diprioritaskan untuk diperbaiki.

Tahun 2004 ini ada 97 sekolah di Jakarta Barat yang sedang dalam proses perbaikan. Pada 28 Mei lalu proses pembangunan fisik rehabilitasi beberapa sekolah dimulai. Proses renovasi berat terhadap 13 gedung SMP dan 84 gedung SD. ‘’Rata-rata dana merehab untuk satu sekolah mencapai Rp 500 juta,'’ ujar Saut. Menurutnya, karena keterbatasan dana APBD hanya sekolah dengan kerusakan paling parah yang mendapat prioritas. ‘’Jika kerusakan sudah mengganggu struktur bangunan, sekolah tersebut yang kami prioritaskan,'’ katanya.

Tidak semua anggaran rehabilitasi sekolah berasal dari APBD. Anggaran perbaikan juga berasal dari APBN dan dana swadaya sekolah atau komite sekolah. Saut mengungkapkan, beberapa gedung sekolah di Jakarta sering mengalami kerusakan karena sejak awal konstruksi bangunan sekolah tersebut kurang bagus. ‘’Kualitas konstruksi bangunan rendah,'’ ujarnya. Karena itu, saat ini banyak ditemukan gedung-gedung sekolah yang rusak konstruksi bangunannya.

Saat ini masih ada 84 sekolah dasar yang masih dalam proses perbaikan. Pemkot pada tahun ini mengusulkan perbaikan 17 SD.

Sumber : (c06) Republika Online

[SB] Tags : ,





Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Papua concerned about malaria spread
Artikel selanjutnya :
   » » Masa Panen Penjualan Kebutuhan Sekolah