Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
5
Jun '04

Dinding Keriting Sang Maestro


Ikatan Arsitek Indonesia menobatkan empat maestro. Dunia arsitektur butuh pahlawan. Sayangnya, mereka asing bagi generasi penerusnya.

GEDUNG Sapta Pesona sudah bertahun-tahun berdiri megah di Jalan Medan Merdeka, Jakarta. Tak banyak yang tahu siapa perancangnya, termasuk di komunitas arsitek. Ketika nama Robi Sularto (almarhum) disebut, Ahmad Djuhara, aktivis dari kelompok Arsitek Muda Indonesia, mengerutkan kening.

Lulusan Universitas Parahyangan, Bandung, tahun 1991 ini mengaku asing dengan nama tersebut. “Karya-karyanya tidak terdokumentasikan,” kata Djuhara, yang pernah melakukan terobosan menciptakan rumah baja. Selama ini, nama Robi memang tersembunyi di balik bayang-bayang Atelier 6, salah satu biro arsitek papan atas di Jakarta

Makanya, ketika Ikatan Arsitek Indonesia menobatkan Robi Sularto sebagai salah satu maestro, Ahmad Djuhara hanya melongo. Toh, ia tak berniat menggugat. “Dunia arsitektur memang butuh pahlawan yang bisa menjadi model atau panutan,” katanya kepada Gatra. Ia berharap, para “sesepuh” arsitektur meluangkan waktu untuk menyusun buku. “Buku yang mereka susun bisa jadi sejarah kontekstual bagi generasi mendatang.”

Penobatan Robi sebagai maestro dilakukan lewat buku biru bertajuk Karya Arsitek Indonesia, yang menghiasi rak-rak toko buku sejak April lalu. Selain dia, nama lain yang mendapat predikat serupa adalah Friedrich Silaban, Y.B. Mangunwidjaya (almarhum), dan Ahmad Noe’man. Rangkaian karya yang dihasilkan oleh keempatnya masuk kategori sempurna.

Dalam kenangan Yuswadi Saliya, Robi Sularto adalah satu dari sedikit arsitek yang mendalami arsitektur prasejarah dan vernacular. Ia dianggap sebagai pelopor penggalian nilai-nilai tradisional asli Indonesia untuk diterapkan kembali dalam perancangan bangunan gedung modern. “Robi memiliki perbendaharaan bentuk yang sangat variatif dan imajinatif,” kata Yuswadi, salah satu partner Robi di biro Atelier 6.

Salah satunya, Gedung Sapta Pesona. Gedung itu adalah sari imajinatif dari seni pahat batu dan objek berbentuk lingga. Biasanya, lingga selalu dibuat bersama tumpuannya. Dalam desain gedung ini, tumpuan tersebut berwujud dua sayap diagonal yang berundak-undak.

Setiap sudut yang tercipta dari undakan kedua sayap ini dibuat tumpul dan diolah sedemikian rupa hingga menjadi tepian bersudut banyak. Bagian-bagian yang tumpul seperti ditakik sehingga menimbulkan lubang-lubang tempat jendela disematkan. Hal ini dilakukan Robi sebagai simbol seni pahat batu.

Menurut Yuswadi, Robi yang lulus dari ITB tahun 1967 selalu tergoda membuat dinding berkelok-kelok. “Dia tidak dapat menahan diri untuk membuat dinding yang keriting,” Yuswadi mengenang. Meski sering berdebat soal desain, Yuswadi mengakui, Robi konsisten sejak awal mengeksplorasi nilai-nilai budaya dalam desainnya yang modern.

Pendapat ini diamini oleh Adhie Moersid, arsitek senior yang juga kolega Robi di Atelier. “Pemahamannya terhadap arsitektur vernacular Indonesia selalu mengilhami bangunan-bangunannya,” kata Adhie. Karena itu, meski terselubung nama besar Atelier 6, Robi tak kehilangan identitas personalnya.

Pencapaian Robi dalam mengeksplorasi simbol-simbol budaya berbeda dengan arsitek Ahmad Noe’man, senior mereka. Menurut Adhie maupun Yuswadi, Noe’man sangat tekun mendalami makna dan hakikat yang terkandung dalam ajaran agama Islam untuk dijadikan pedoman dalam perancangan masjid berikut lingkungannya. Sejumlah masjid, baik di Indonesia maupun di luar negeri, adalah hasil karya Noe’man.

Masjid Salman ITB adalah masterpiece-nya. Arsitek angkatan 1948 ITB ini tidak lagi menggunakan bentuk kubah sebagaimana lazimnya masjid konvensional. “Salman adalah masjid pertama di Indonesia yang tidak memakai kubah,” kata Yuswadi.

Noe’man menganggap kubah hanyalah produk budaya untuk menyiasati bentang bangunan yang panjang dan massif. Noe’man kemudian berijtihad dengan membuat atap masjid seperti perahu, yang sebenarnya merupakan simbolisasi tangan menangkup seperti mereka yang sedang berdoa.

Noe’man juga merealisasikan hadis yang menyatakan tidak boleh ada tiang yang menghalangi orang beribadah, Interior masjid yang diresmikan pada Mei 1972 itu sederhana, lapang, dan tidak mengganggu kekhusyukan ibadah.

Selain Salman, Ahmad Noe’man pernah dipercaya mendesain Masjid Istiqlal Indonesia di Municipality Novi Grad, region Otoka Meander di kota Sarajevo, Bosnia. Masjid megah berukuran 30 x 30 meter dan memiliki tiga lantai itu juga sarat dengan aturan tempat ibadah yang tercantum dalam Al-Quran.

Mesjid lain karya Noe’man adalah Masjid Al-Markaz Al-Islami di Makassar. Arsitektur masjid yang dibangun di area seluas 10 hektare itu cukup khas. Al-Markaz merupakan pengembangan dari arsitektur Masjid Katangka di Kabupaten Gowa, masjid tertua di Sulawesi Selatan yang dibangun pada 1687 oleh Raja Sultan Alauddin. Ia adalah raja yang pertama kali memeluk agama Islam di daerah itu.

Baik Adhie maupun Yuswadi menganggap karya Noe’man setelah Salman justru tak lagi berkarakter. Menurut Yuswadi, Al-Markaz di Makassar hanyut dalam kesenangan ornamen. “Jika melihat Salman sebagai karya Kang Noe’man, Al-Markaz seperti karya orang lain,” kata Yuswadi.

Penilai ini disepakati generasi arsitek yang lebih muda. Ahmad Djuhara, misalnya, mengaku tak begitu paham dengan konsep Noe’man dalam berkarya. Tapi, melihat sejumlah rancangannya, ia berkesimpulan bahwa Noe’man tak lagi punya pemikiran orisinal setajam saat menghasilkan Masjid Salman ITB.

Sebagai seorang arsitek, menurut Djuhara, Noe’man punya peluang sangat besar untuk menghasilkan karya-karya yang berkarakter. “Sayang, sejak Salman, beliau kehilangan identitas,” katanya. Identitas karya justru didapatkan Djuhara pada karya-karya Friedrich Silaban.

Arsitek yang dikenal sebagai F. Silaban ini adalah pelopor dalam pencarian ekspresi arsitektur modern yang beradaptasi terhadap iklim tropis lembap di Indonesia. F. Silaban sangat bergairah menyiasati kondisi alam karena menganggap hal itu sebagai tantangan yang harus dijelajahi.

Setiap kali merancang, F. Silaban siap dengan setumpuk data mengenai besar bayangan matahari dan karakteristik curah hujan sepanjang tahun. Karya-karya dia umumnya berbentuk dasar kubus. Istiqlal, misalnya, berbentuk dasar kubus yang dinding luarnya disusun berupa grid-grid kotak (semacam rongga) penahan cahaya matahari.

Ciri khas seperti ini terlihat di bangunan lama Bank Indonesia. Selain grid berbentuk kotak, Silaban biasa menyusun bidang-bidang secara vertikal, yang fungsinya sama sebagai pelindung dari sengatan cahaya matahari. Ini terlihat pada desain rumah tinggalnya sendiri.

Bentuk dasar rumah ini adalah empat persegi panjang. Di sisi memanjang ini tersusun bidang-bidang vertikal dalam posisi menyisir. Karyanya ini merupakan kesimpulan dari data-data statistik dan ambisinya menyiasati kondisi tropis.

Tapi F. Silaban mungkin hanya akan dikenang ketika orang menyaksikan Istiqlal atau gedung lama Bank Indonesia. Lain halnya dengan Yusuf Bilyarta Mangunwidjaya. Pria yang akrab di panggil Romo Mangun ini adalah pelopor pendekatan lapangan dalam perancangan bangunan dan lingkungan binaan masyarakat marjinal.

Dia tak hanya dikenal sebagai arsitek, melainkan juga guru dan aktivis kemanusiaan. Keahliannya sebagai arsitek seringkali jadi jembatan perjuangannya bagi kemanusiaan. Misalnya perbaikan rumah dan tempat tinggal kaum tersisih yang berada di pinggir Sungai Code, Yogyakarta, beberapa tahun silam.

“Ketika Romo mogok makan karena Kali Code, sejak itulah saya tertarik dengan sosok beliau,” kata Erwinthon Napitupulu, arsitek lulusan ITB, kepada Hestri Utami dari Gatra. Selang seminggu setelah Romo Mangun meninggal pada 10 Februari 1999, Erwin mulai mengumpulkan karya-karya arsitek lulusan TH Aachen tahun 1966 itu. Baik itu dalam bentuk karya tulis, sketsa, maupun foto-foto.

Erwin tertarik dengan karya Romo Mangun yang biasa disebut wastu. Wastu adalah arsitektur yang menyesuaikan dengan daerah sekitar. Menurut dia, karya-karya tersebut adalah ekspresi kemerdekaan Romo. “Beliau tidak pernah didikte oleh struktur konsumen dan produsen,” kata Erwin.

Kompleks Sendangsono salah satu contohnya. Petirahan bagi umat Nasrani ini terbuat dari konstruksi kayu yang berlandaskan fondasi batu alam. Konstruksi utamanya adalah sebuah segitiga runcing mirip huruf A kembar. Dalam proses pembangunannya, kompleks ini dilaksanakan tanpa gambar kerja.

Penyelesaiannya dibuat berdasarkan pengamatan Romo Mangun terhadap lokasi setempat. Sketsa-sketsa yang dibuatnya pun “freehand”, tanpa meja, penggaris, ataupun mesin gambar. Kondisi tanah, lanskap, dan rona lingkungan awal hampir tak berubah dengan adanya gugusan kompleks ini. Setiap massa bangunan ditempatkan di lokasi dan posisi tertentu dengan memanfaatkan kondisi tanah.

Warisan yang ditinggalkan Romo yang meninggal pada 10 Februari 1999 tidak hanya karya arsitektur, melainkan juga karya-karya tulis. Sebagian dibukukan dalam Impian dari Yogyakarta (Penerbit Kompas, 2003). Karena itulah, Romo yang lahir pada 6 Mei 1929 di Ambarawa, Magelang, Jawa Tengah, paling dikenal di antara para arsitek generasi muda sekarang dibandingkan dengan ketiga maestro lainnya.

Penulis : Asmayani Kusrini

Sumber :  akurini.blogspot.com


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » PDAM Bogor Harus Bayar Rp 500 Juta
Artikel selanjutnya :
   » » 27 Gedung Sekolah di Jakbar Rusak Berat