Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
4
Jun '04

PDAM Bogor Harus Bayar Rp 500 Juta


Digugat Pelanggan

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Bogor dan Ina Agustina, pimpinan PDAM Kabupaten Bogor, secara tanggung renteng harus membayar Rp 500 juta tambah Rp 16,2 juta kepada penggugat yang tak lain adalah pelanggannya.

Demikian putusan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Cibinong yang diketuai hakim Nawawi N dan hakim anggota Florensani Kenderan serta Tri Yuliani, Rabu (2/6).

Selain itu, Ina Agustina dan PDAM Kabupaten Bogor secara tanggung renteng harus membayar uang paksa sebesar Rp 1 juta per hari apabila yang bersangkutan lalai melaksanakan penyambungan kembali instalasi air minum ke rumah Ny Handriyani, penggugat I.

PN Cibinong juga menyatakan Bupati Bogor sebagai tergugat III dan Pemkab Bogor sebagai tergugat IV tunduk kepada putusan PN Cibinong ini.

Perkara ini bermula ketika pihak PDAM Kabupaten Bogor pada 30 April 2003 lalu memutuskan aliran air minum di rumah Ny Handriyani di Perum Surya Praja Permai Blok A-I No 15 Kelurahan Sukahati, Cibinong, Bogor. Rumah itu disewa oleh Bongbongan Silaban SH, penggugat II.

Dalam perkara gugatan itu, tergugat I yaitu Ina Agustina dianggap telah melakukan tindakan yang sangat mengejutkan ketika memutuskan aliran air minum di rumah Ny Handriyani yang saat itu ditempati Bongbongan.

Pasalnya, selama ini tagihan langganan air selalu dibayarkan kepada tergugat I dan tergugat II ketika penagihan disampaikan kepada penggugat. Malahan sehari setelah pemutusan air, penggugat II membayar rekening air sebesar Rp 66.770.

Setelah Bongbongan Silaban SH mensomasi tergugat I untuk melakukan penyambungan kembali instalasi air minum ke rumah Handriyani, menurut anggapan tergugat I pemutusan yang dilakukan sudah sesuai Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Bogor dan bila dilakukan penyambungan kembali maka pelanggan bersangkutan harus membayar Rp 150.000.

Tidak Sesuai Perda

Penggugat I dan II berkeberatan atas tindakan tergugat I karena menilai tindakan tergugat I tidak sesuai dengan Perda Kabupaten Bogor juga tak sesuai dengan kepatutan dan rasa keadilan dalam masyarakat mengingat pemutusan tersebut dilakukan tanpa ada penagihan pembayaran atau peringatan pemutusan instalasi air minum kepada penggugat I dan II.

Melalui Penasihat Hukum Reinhard Situmorang SH dan Jahoras Sinaga SH, penggugat I dan II minta PN Cibinong menyatakan tindakan tergugat I melakukan pemutusan aliran air PDAM sebagai tindakan melawan hukum.

Dalam gugatan itu juga disebutkan, PN Cibinong agar memerintahkan tergugat I untuk menyambung kembali aliran air minum ke rumah penggugat I tanpa syarat, menghukum tergugat I dan II secara tanggung renteng mengganti kerugian yang dialami penggugat II.

Kerugian terhitung sejak 1 Mei 2003 sampai disambungnya kembali instalasi air minum ke rumah penggugat, untuk biaya laundry sebesar Rp 25.000 per hari, keperluan air mandi Rp 10.000 per hari, air minum Rp 10.000 per hari. Jika dihitung selama setahun (2003-2004) maka jumlahnya mencapai Rp 16.200.000.

Kerugian imateriil yang dialami penggugat II yaitu kehilangan kenikmatan serta perasaan tak nyaman karena malu terhadap tamu-tamu dinilai uang sebesar Rp 500 juta.

Dalam gugatan juga disebutkan agar PN Cibinong menghukum tergugat I dan II secara tanggung renteng membayar uang paksa Rp 1 juta per hari jika lalai melaksanakan penyambungan. Seluruh gugatan penggugat I dan II diluluskan PN Cibinong.

Sumber : (HR/A-15) Suara Pembaruan


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Ilmu Kimia Tentukan Masa Depan Manusia
Artikel selanjutnya :
   » » Dinding Keriting Sang Maestro