Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Rabu
5
Mei '04

Lambang Jakarta yang Tak Terurus


SETELAH dua kali lift di Tugu Monumen Nasional menyengsarakan pengunjungnya, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso akhirnya mengambil sikap tegas. Terhitung mulai hari Rabu (5/5) ini, Tugu Monas akan ditutup untuk umum selama satu bulan penuh.SEORANG ibu terlihat asyik menikmati semilirnya embusan angin di puncak Tugu Monas. Matanya sesekali menatap hamparan rumah di bawah yang terlihat kecil. Putrinya, Rani (27), mengatakan, ibunya baru pertama kali ini mengunjungi Monas.

“Ibu saya baru saja datang dari Manado. Katanya kalau ke Jakarta pengen sekali melihat Monas. Selama ini kan hanya melihat di televisi saja,” kata karyawan sebuah restoran Jepang di Mangga Dua itu.

Cerita tentang Monas selama ini memang selalu harum. Cerita tentang museumnya, nyala obor yang terbuat dari perunggu berlapis emas murni seberat 35 kilogram di puncak menara, sejarah berdirinya, hingga taman hijaunya yang sejuk. Banyak warga dari daerah-daerah merasa sayang jika belum mengunjungi Monas saat ke Jakarta.

Beberapa pengunjung asal Pakanbaru, Riau, Selasa kemarin, misalnya, juga menyempatkan diri mampir ke Monas seusai berbelanja di Tanah Abang. Mereka tak peduli bahwa pada hari Minggu lalu lift yang biasa mengantar pengunjung sampai ke puncak Monas pada ketinggian 115 meter tersebut kembali berulah. Hampir 100 orang terjebak di puncak Monas akibat lift itu tiba-tiba rusak. Dan, sebagian besar pengunjung harus dievakuasi melalui tangga darurat.

Memang, pada kenyataannya kemegahan Monas yang didirikan pada 17 Agustus 1961 itu tidak diimbangi dengan pelayanan yang baik oleh pengelolanya.

Boleh dibilang, penyediaan, pengelolaan, serta pemeliharaan sejumlah fasilitas penunjang di sana sangat buruk. Lampu-lampu redup dan kerap padam, lantai kotor, sedangkan dinding monumen kusam. Di luar itu, satu-satunya lift yang hanya berkapasitas 12 orang itu juga sering ngadat.

Kasus macetnya lift pada 23 Maret lalu belum lepas dari ingatan. Waktu itu, akibat listrik padam, sejumlah petugas keamanan Monas dan polisi harus naik-turun menggendong puluhan siswa taman kanak-kanak yang terjebak di puncak menara. “Saya sendiri kebagian tiga anak, jadi naik-turun enam kali. Lemas juga,” kata Sumargono, petugas yang bekerja di Monas sejak tahun 1985.

Anehnya, kemacetan lift kembali terulang, Minggu (2/5). Ratusan pengunjung terjebak di puncak menara. “Ah, macetnya tidak lama kok, cuma satu setengah jam. Waktu itu kan pengunjung banyak sekali dan dorong-dorongan sehingga doorlock menyangkut di kotak sangkar hingga patah,” kata Agus Sudarjo, teknisi dari PT Pilar Multi Sarana Utama yang juga kontraktor pemasangan lift tersebut.

Yang menjadi pertanyaan pengunjung, lift merek Hitachi yang disebut-sebut buatan China itu baru dipasang pada 1 Januari 2004 lalu dengan masa garansi tiga bulan. Anggaran untuk pengadaan lift itu sebesar Rp 1,7 miliar. Lalu ditambah Rp 300 juta lewat Anggaran Belanja Tambahan. Dengan dana sebesar Rp 2 miliar, kok lift masih suka macet?

Mungkin merasa malu, Gubernur Sutiyoso akhirnya angkat bicara. “Saya instruksikan, mulai besok (Rabu, 5/5-Red), lift ditutup selama satu bulan,” katanya kepada wartawan di Balaikota, kemarin.

Tentu saja penutupan itu dimaksudkan untuk melakukan perbaikan agar lift baru itu tidak ngadat melulu.

Selain itu, Sutiyoso juga mengintruksikan agar beberapa sarana keamanan dan kenyamanan Monas dievaluasi, termasuk sistem penerangan.

Gubernur mengatakan, lampu-lampu tangga darurat yang padam akan kembali dibetulkan. Jaringan pengaman di Monas juga akan dipasang.

Anggota Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, Syamsidar Siregar, bahkan kembali mendesak agar Monas dikelola secara satu atap. Sebab, selama ini terlalu banyak instansi yang mengurus obyek wisata yang pernah menjadi kebanggaan Ibu Kota tersebut.

Urusan lampu penerangan, misalnya, dikelola Dinas Pertamanan dan Keindahan Kota serta Penerangan Jalan Umum. Rambu-rambu diurus oleh Dinas Perhubungan dan petugas tramtib dari Kantor Wali Kota Jakarta Pusat. Padahal, ada lembaga lain bernama Unit Pelaksana Teknis yang ada di bawah Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta yang semestinya bertanggung jawab mengelola kawasan Monas.

“Kalau pengelolaannya ramai-ramai begitu, jadinya saling lempar tanggung jawab kalau ada kerusakan atau ketidakberesan,” kata Syamsidar.

Yang juga patut dipertanyakan, anggaran pengelolaan Monas sebenarnya cukup besar. Tahun 2003, misalnya, dianggarkan Rp 12 miliar. Tahun 2004 anggaran telah disetujui sekitar Rp 15 miliar. “Tentu dana itu sangat cukup jika tidak kebanyakan di-mark up,” ujar Syamsidar lagi.

APA boleh buat, Monas makin merana. Cerita dan kesejarahannya yang tersebar ke seluruh Indonesia, bahkan mancanegara, jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Padahal, sesuai dengan ide Presiden I RI, Soekarno, Monas harus mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia, melambangkan api yang berkobar, bersifat dinamis, dan memberikan kesan “bergerak”.

Untuk memilih arsitek saja Soekarno sempat membuat sayembara, dan ternyata hanya menghasilkan pemenang ketiga, yaitu F Silaban, yang bersama Soedarsono kemudian mengajukan rancangan kepada Soekarno. Panitia pembangunan pun sampai dibentuk dua kali. Jumlah dana pembangunan Monas tidak diketahui secara pasti, namun berasal dari sumbangan rakyat dan pampasan perang dari Jepang.

Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia tahun 1990 disebutkan, jauh sebelum dibangun Monas, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1911) pernah membangun semacam Champ de Mars untuk latihan anggota pasukan infanteri di tempat itu. Di sebelah utara dibangun istana tempat tinggal Daendels, yang sekarang menjadi Istana Merdeka.

Dalam “Rencana Pengembangan Taman Monas Tahun 2005″ yang diterbitkan Dinas Tata Kota tahun 1988, digambarkan rencana untuk mengembangkan kawasan Monas sehingga lebih terarah dan komunikatif. Pedagang kaki lima juga tetap dipertahankan.

DALAM pandangan W Wahjuni (57), pemeriksa karcis Monas yang telah bekerja selama 30 tahun, Monas dari dulu sampai sekarang tetap diminati sebagai tempat hiburan rakyat yang murah meriah. Selain mengunjungi museum atau melihat Jakarta dari puncak menara, masyarakat bisa menikmati taman kota untuk sekadar mencari udara segar.

“Memang selama 30 tahun ini, mengelola Monas itu banyak dukanya. Dulu saya menjadi petugas keamanan dan harus setiap hari berhadapan dengan PKL (pedagang kaki lima) dan gelandangan. Sekarang, di saat saya mau pensiun, Desember tahun ini, malah ada lift macet segala. Semoga ke depan karyawan lain dapat merasakan perbaikan-perbaikan,” kata Wahjuni.

Slamet Subianto, petugas loket, mengatakan, pengunjung Monas di hari libur bisa mencapai 1.000-1.500 per hari dan di hari kerja mencapai 100-200 sehari. “Monas selalu ramai. Bahkan, ada turis yang sehari bisa empat kali datang,” katanya.

Mudah-mudahan saja waktu satu bulan ini betul-betul bermanfaat untuk perbaikan. Jangan sampai liftnya macet melulu. Malu kan, mengurus lift saja kok tak bisa…. (IVV/PIN)

Sumber: (IVV/PIN), Harian Kompas


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Warga RW 22 Kel. Cibeureum Ancam Mengadu ke DPRD Jabar
Artikel selanjutnya :
   » » Caleg akan dicoret dari anggota Dewan