Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Rabu
11
Feb '04

Pemerintahan di Nabire Masih Lumpuh


“Yang penting secepatnya memulihkan aliran listrik dulu.”

Roda pemerintahan di Nabire, Papua, hingga kemarin belum berjalan. Bupati Kabupaten Nabire Anselmus Petrus Youw mengaku tak bisa berbuat apa-apa, karena sejumlah gedung kantor dinas pemerintahan rusak parah akibat gempa yang terjadi pekan lalu itu. “Untuk sementara, pelayanan pemerintah masih terhenti, karena listrik belum juga menyala,” ujarnya ketika dihubungi Tempo News Room kemarin di Nabire.

Akibat padamnya listrik itu, menurut dia, semua jaringan komunikasi dari dan ke kota Nabire menjadi lumpuh. Youw meminta pemerintah provinsi dan pusat memperhatikan problem kelangkaan listrik ini. Sebab, banyak korban gempa yang kini dirawat di Rumah Sakit Nabire tidak mendapat perawatan optimal karena banyak alat medis yang hanya dapat berfungsi dengan tenaga listrik.

Gempa pertama yang mengguncang Nabire dengan kekuatan 6,91 skala Richter terjadi Jumat (6/2) pekan lalu. Bencana ini meruntuhkan ratusan bangunan, memutuskan sejumlah jalan dan jembatan, merusak jaringan listrik dan telepon, serta fasilitas umum lainnya. Gempa susulan sehari kemudian memperparah keadaan ini.

Untuk memperbaiki bangunan fisik yang rusak berat, Youw mengaku, Pemerintah Daerah Nabire tak memiliki cukup dana. “Kami berharap para menteri yang telah mengunjungi masyarakat di Nabire benar-benar dapat memperjuangkannya di pusat,” ucapnya.

Bukan hanya pemerintahan yang tak berfungsi, proses belajar-mengajar pun masih terhenti, karena rusaknya gedung sekolah. Banyak sekolah yang terpaksa meliburkan murid-muridnya. Para murid sekolah di daerah itu kini hanya bisa berkeliaran dan membantu orangtua mereka di rumah. Salah satu orangtua murid di Nabire, Agustina Douw, mengatakan, dirinya rugi karena anaknya terpaksa libur. Dia berharap pemerintah segera mengantisipasi hal ini.

Dari Jakarta diberitakan, PLN akan segera mengirimkan generator dari Sulawesi Selatan ke Nabire. Kendati demikian, PLN memperkirakan, paling cepat listrik baru seminggu lagi. Direktur Utama PT PLN Eddie Widiono mengatakan, aliran listrik ke instalasi penting, seperti kantor-kantor pemerintah, akan menjadi prioritas.

Eddie belum bisa menyebutkan nilai kerugian yang diderita perusahaannya. “Yang penting, secepatnya memulihkan aliran listrik dulu,” katanya. Menurut dia, yang sekarang dilakukan pihaknya adalah memanfaatkan kemampuan yang ada di Nabire, misalnya dengan memakai travo yang ada.

Sementara itu, Departemen Sosial menilai bantuan makanan bagi korban gempa sudah mencukupi. Kendati demikian, departemen ini telah mempersiapkan kebutuhan makanan untuk dua minggu ke depan terhitung mulai 10 Februari.

Demikian keterangan pers Direktur Bantuan Sosial Korban Bencana Alam Purnomo Sidik yang diterima Tempo News Room kemarin. Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah pun mengatakan, departemennya telah menyerahkan bantuan uang Rp 200 juta. Departemen Sosial memahami angkutan ke Nabire sangat sulit. Karena itu, mereka akan memanfaatkan alat angkut milik TNI.

Adapun Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Jusuf Kalla mengungkapkan, bantuan logistik dari pemerintah akan diambil dari Badan Urusan Logistik (Bulog). “Kita buka gudang Bulog, kita kirim makanan ke sana. Jadi, tidak ada masalah,” ujarnya.

Sementara itu, bantuan dari Departemen Kesehatan berupa alat infus, gips, dan beberapa jenis obat-obatan lainnya telah sampai di Nabire. Bantuan ini dikirim melalui Brigade Siaga Bencana dari Makassar dan langsung didrop ke Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Biak Numfor, salah satu tempat perawatan bagi korban gempa.

Salah seorang dokter dari Brigade Siaga Bencana, Muhammad Ali Hasti, mengatakan, selain obat-obatan, Departemen Kesehatan juga sudah mengirim dua dokter ahli bedah, satu ahli kebidanan, dan satu lagi dokter umum ke Nabire. “Sehingga diharapkan perawatan di Nabire lebih tertangani,” ujarnya.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tigor Silaban, saat ini bangunan Rumah Sakit di Nabire rusak parah, sehingga semua pasien terpaksa dirawat di luar gedung dengan menggunakan tenda darurat. Dia khawatir, penyakit diare ataupun malaria akan menyerang dengan cepat. “Misalnya saja jika hujan turun, tenda-tenda bisa roboh dan lokasi penampungan pasien itu bisa tergenang air dan mengakibatkan timbulnya berbagai macam penyakit yang akan diderita para korban pascabencana,” ujarnya. Karena itu, dia berharap bangunan untuk perawatan yang layak segera dibuat.

Sumber : (marselus dou/lita/nafi/ulfah/retno/cunding) Koran Tempo, Nabire


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Lagi, Gempa Susulan 38 Kali
Artikel selanjutnya :
   » » Puskesmas Keliling di Jayapura