Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
30
Jan '04

1.857 Warga Pegunungan Bintang Diserang Disentri


38 Diantaranya Meninggal Dunia (Diduga Akibat Keracunan Daging Babi)

Ini betul-betul berita mengejutkan. Jika di pusat-pusat kota hiruk-pikuk dengan Caleg (Calon Legislatif), maka tidak demikian bagi warga Pegunungan Bintang (Papua), khususnya Distrik Borme. Warga di sana ternyata bergelut dengan penyakit yang disebut disentri. Kabarnya, di distrik tersebut khususnya di 10 desa, sedikitnya 1.857 (Seribu Delapan Ratus Lima Puluh Tujuh) orang terserang wabah tersebut. Bahkan 38 orang diantaranya dilaporkan telah meninggal dunia. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dr. Tigor Silaban, MKM, saat dikomfirmasi juga membenarkan kejadian itu. Bahkan dirinya mengaku telah melakukan pertemuan dengan Kepala Puskesmas setempat (Puskesmas Borme) untuk membicarakan kasus itu.

Menurutnya, dari laporan yang diterima menyatakan bahwa meningkatnya kasus disentri itu diketahui sejak 20 hari pasca pesta adat yang digelar di daerah itu yakni pada 25 Desember 2003. Gejala serangan wabah itu antara lain, berak lebih dari tiga kali sehari, keluar lendir/darah saat berak dan muntah-muntah. “Menurut informasi Kepala Puskesmas yang bersangkutan, menjelaskan dimungkinkan bahwa jumlah daging babi itu sangat banyak, sehingga disimpan dalam bentuk digantung maupun dipanasi dalam waktu tertentu,” jelasnya kepada Cenderawasih Pos saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin.

Dikatakan Tigor Silaban, dari hasil pertemuan yang dilakukan oleh Kepala Puskesmas Borme, keseimpulan sementara penyebab wabah yang akan mengancam penduduk 11.820 itu mengarah pada keracunan makanan yang diidentifikasi berasal dari satu sumber yaitu daging babi yang terkontaminasi oleh bakteri Shigella atau Staphylloccus karena penyimpanan yang tidak hygienis. Sementara untuk penduduk yang terserang maupun meninggal semua golongan umum. Secara epidemologi apabila dikaitkan dengan kasus sebelumnya, lanjut Tigor Silaban, kejadian tersebut belum bisa dikatakan sebagai kejadian luar biasa/wabah. Pasalnya untuk sementara tidak ada data pembanding. Namun jika dilihat dari waktu dan angka serangan cukup tinggi yaitu CFR = 2,04% dan angka estimasi 15,7% yang lebih tinggi dari batas CFR KLB nasional (CFR=1,5% dan IR= 10%), maka kejadian tersebut tergolong kejadian luar biasa.

Ditegaskan, bila memang terbukti disebabkan karena keracunan makanan yang berasal dari satu sumber, maka trend penyakit dan kematian tersebut akan menurun dengan sendirinya dalam waktu yang tidak lama. Untuk mengantisipasi wabah itu semakin besar, menurut Tigor, pihaknya telah mengambil langkah-langkah dengan memberikan bantuan jenis obat-obatan tertentu yang dibutukan mengingat pengiriman dari Wamena lebih sulit. Selain itu, pihaknya juga telah memberikan dana bantuan pada petugas Puskesmas Borme dan melakukan monitoring serta evaluasi lebih lanjut. Demikian pula dengan persiapan tenaga yang akan bekerja sewaktu-waktu untuk melakukan investigasi lebih lanjut.

Sumber : (ito) Papua Press Agency


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Ijazah Paket C akan Diusut
Artikel selanjutnya :
   » » Enam Warga Digigit Anjing Gila