Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
31
Okt '03

Ranah Minang Diserang Kesurupan


WAJAH Desi Afriana tiba-tiba memucat. Tubuh wanita berusia 18 tahun itu berangsur-angsur lunglai. Keringat dingin keluar dari kedua telapak tangannya. Setengah jam kemudian, mahasiswi semester V Jurusan Agrobisnis Politeknik Pertanian (Politani) Universitas Andalas di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, itu tak sadarkan diri.

Tentu saja, para penghuni asrama putri di Tanjung Pati, Kabupaten Limapuluh Kota itu panik. Lima mahasiswi teman Desi mengambil posisi di sekeliling tubuh yang sebentar-sebentar memberontak itu. Meski matanya terpejam, tangan dan kakinya tak mau diam. Sesekali meronta dengan kuat. Beberapa mahasiswa mencoba ikut menangani.

Seorang dari mereka mengusapkan telapak tangan kanannya ke mata dan wajah Desi. Tak berhasil. Desi malah meronta lebih kuat. Seorang yang lain, sembari mulutnya komat-kamit, menyorongkan tasbih tepat di hadapan mata Desi yang masih tertutup. Juga nihil. Malah, rontaannya kian menguat. Kedua tangannya terlepas dari pegangan kawan-kawannya. Tasbih itu ditepis Desi.

“Ini belum seberapa,” ujar Meri Riswani, teman Desi, sesama penghuni Tanjung Pati. Menurut Meri, sejak pertama kali terjangkit kesurupan pada September 2002, kondisi Desi tak stabil. Ia kadang terlihat sehat walafiat, baik mental maupun fisik. Tapi, pada kali lain, Desi terlihat pucat, lemah, pingsan, dan kesurupan. “Biasanya Desi meracau menyebut-nyebut Yesus, Bunda Maria, dan selalu marah kalau diberi tasbih atau dibacakan ayat-ayat Al-Quran,” kata Meri.

Sebelumnya, kepada GATRA, Desi mengaku bahwa hal terakhir yang diingat adalah tubuhnya seperti dibimbing seseorang untuk memasuki halaman sebuah gereja. Lalu ada visualisasi seperti sosok pendeta yang membimbingnya memasuki altar gereja. “Setelah itu, saya tak ingat apa-apa lagi,” tutur Desi, mengenang.

Desi adalah satu dari 50 mahasiswi dan pelajar yang mengalami trance dengan gejala dan indikasi serupa, selama setahun terakhir ini. Setiap kali meracau, mereka selalu menyebut-nyebut nama Yesus, Bunda Maria, dan simbol-simbol Kristen. Pada saat bersamaan, mereka melawan terhadap penyebutan kata Allah, Muhammad, Al-Quran, dan simbol-simbol Islam lainnya.

Peristiwa kesurupan itu bermula dari suatu aktivitas perkemahan di Desa Air Putih, 6 kilometer di timur Tanjung Pati, pertengahan September 2002. Saat berkemah itulah, beberapa mahasiswi muslim mengalami kesurupan. Berbagai upaya dilakukan kawan-kawan mereka untuk memulihkan kondisi yang trance. Inisiatif serupa diambil kelompok mahasiswa Kristen, yang secara spontan melakukan doa berantai dan menyediakan segelas air putih untuk diminum oleh yang kesurupan.

Belum sepekan kejadian di tempat perkemahan itu, kampus Politani dihebohkan kasus serupa. Kali ini berantai, dan hampir seluruh korban adalah mahasiswi muslim berjilbab. Satu per satu mahasiswi itu trance. Peristiwanya terjadi kapan saja, di mana saja. Bahkan, ketika sedang membuka kitab suci Al-Quran, mereka yang kesurupan melafalkan kata: Yesus, Bunda Maria, sekaligus mendiskreditkan Al-Quran dengan mengatakan bahwa kitab itu buatan Muhammad.

Peristiwa serupa menimpa 10 santriwati Pesantren Khairul Ummah, Tunggul Hitam, Padang, Juli lalu. Sebulan kemudian merambah ke Pesantren Tungkar, Kecamatan Luhak, Kabupaten Limapuluh Kota. Beberapa santriwatinya mengalami kejadian sama. Lalu, pada 23-26 September lalu, Madrasah Aliyah Negeri 2 Payakumbuh dihebohkan kejadian serupa. Sedikitnya 11 siswi mengalami kesurupan dengan gejala sama.

Kejadian demi kejadian –dengan modus serupa– itu yang membuat Majelis Ulama Indonesia setempat bersama organisasi kemasyarakatan dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) menyimpulkan, kesurupan tersebut merupakan metode untuk memurtadkan umat Islam. Wacana Kristenisasi pun berkembang, merebak, dan menambah panasnya cuaca di Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota.

Kepala Madrasah Aliyah Negeri 2 Payakumbuh, Drs. Syahruddin, MS, menyebutkan bahwa secara medis tak ditemukan kelainan pada para pengidap trance. Oleh sebab itu, upaya yang kemudian dilakukan pihak sekolah adalah mendatangkan orang-orang yang ahli memulihkan mereka yang kesurupan. Di antaranya adalah Ustad Agus Gunawan, 35 tahun, aktivis LSM Bina Insani.

Agus menggunakan metode rukyah untuk memulihkan kesadaran penderita dan mengeluarkan jin yang mengganggu dengan bacaan ayat suci Al-Quran. “Semua ayat dalam Al-Quran bisa digunakan untuk me-rukyah, tergantung kadar keimanan dan keislaman orang yang melakukan rukyah itu,” tutur Agus.

Menurut Agus, banyak “pasien” yang ditanganinya menyebut nama-nama tertentu. Nama Thomas, Gero, Novel, Demi, David, dan lain-lain meluncur dari bibir penderita trance itu. Berdasarkan penelusuran GATRA, si empunya nama adalah penuntut ilmu di Politani, beragama Kristen, dan sebagian besar berasal dari Sumatera Utara. “Tapi, kita tidak bisa mempercayai begitu saja ucapan jin yang sedang merasuki tubuh manusia semacam itu,” kata Agus.

Tentu saja, kejadian yang menimpa para perempuan berjilbab tersebut membuat gerah warga Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota. Di berbagai komunitas, wacana ini menjadi pembahasan utama. Mulai pertemuan musyawarah pimpinan daerah, di ruang sidang kantor DPRD, pertemuan antar-pengurus lembaga pendidikan Islam, sampai di seminar bertema “Ranah Minang di tengah-tengah ancaman anti-Islam dan upaya pemecahannya”.

Aktivis LSM Pagar Nagari, Drs. Ibnu Aqil. D. Ghani, menilai, begitu banyak modus Kristenisasi di Sumatera Barat. Mulai dengan pola perkawinan, penculikan, iming-iming kesejahteraan, pemilikan kavling tanah, transmigrasi, hingga menggunakan sihir. Reaksi keras datang dari pengurus Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Limapuluh Kota.

Berlatar belakang keyakinan bahwa sedang dan telah terjadi upaya Kristenisasi di beberapa wilayah di Sumatera Barat, lembaga itu bersama pimpinan organisasi Islam, LSM, tiga wali nagari (Koto Tuo, Sarimalak, dan Batu Balang) mengeluarkan pernyataan bersama. Isinya, meminta Rektor Universitas Andalas memecat dua dosen dan dua mahasiswi di Politani Universitas Andalas. Mereka adalah Ir. Agustinus Simangunsong, MSi, Ir. Ramond Siregar, MP, Novelina Silaban, dan Demi Hotmawat. Keempat nama ini dituduh telah melakukan upaya Kristenisasi dengan modus menggunakan kekuatan jin dan setan yang menyebabkan korban (muslim) kesurupan.

Demi Hotmawat, misalnya, dalam surat pernyataan itu diceritakan pada 26 Juni 2002, pukul 07.25 WIB, mengaku telah melakukan upaya Kristenisasi melalui sihir (kekuatan jin) kepada orang Islam. Ia melakukannya karena paksaan seorang dosen.

Sementara Novelina Silaban kedapatan memindahkan atau meletakkan benda sihir yang dibungkus dengan timah hitam. Di dalam bungkusan itu terdapat rambut, kain, dan kertas bergambar salib besar (bertuliskan “Yesus” di dalamnya serta gambar gereja dan simbol bintang di sekitarnya).

Eskalasi keresahan yang sama terasa di lingkungan kampus Politani. Tokoh masyarakat Tanjung Pati yang berumah di sekitar kampus, Zulfadli Datuk Sipat, mengemukakan bahwa pihaknya sudah melakukan pembicaraan dengan Direktur Politani, Ir. Setya Darma. “Perwakilan masyarakat sudah dua kali mendatangi Politani agar segera menyelesaikan kasus ini,” ujar Datuk Sipat.

Kesimpulan dari dua pertemuan itu, di antaranya, tak cukup alasan bagi pihak kampus melakukan tindakan administratif berupa pemindahan atau pemecatan orang-orang yang dianggap terlibat dan atau sering disinggung dalam peracauan mereka yang kesurupan. “Kita sama-sama belajar dari kasus ini dan menenangkan situasi agar hal sensitif ini tidak membuahkan kerusuhan, sambil menunggu hasil kerja tim investigasi Universitas Andalas dalam menyelediki kasus ini,” kata Datuk Sipat.

Tuntutan masyarakat cukup jelas arahnya. Tapi, pihak universitas tak akan serta-merta menggunakan kekuasaannya. Menurut Pembantu Direktur III Bidang Kemahasiswaan, Ir. John Nefri, posisi Politani adalah lembaga pendidikan universal yang berpijak pada aturan-aturan yang selama ini berlaku. Jika tak ada bukti-bukti hukum yang kuat, menurut Nefri, pihak kampus tidak dapat melakukan tindakan administratif terhadap orang-orang yang dianggap terlibat dalam peristiwa kesurupan tersebut.

Itu sebabnya, lanjut Nefri, Rektor Universitas Andalas membentuk tim investigasi yang bekerja menyelidiki berbagai kemungkinan dalam kasus menghebohkan ini.

Mereka yang dituding pun tak bisa nyenyak tidur. Ir. Agustinus Simangunsong, 43 tahun, misalnya. Ayah empat anak ini namanya disebut-sebut dalam media massa lokal dan beredar di masyarakat sebagai seorang pelaku Kristenisasi dengan modus sihir. Kepada GATRA, Simangunsong mengatakan bahwa dirinya sudah melakukan klarifikasi, baik ke pihak kampus, Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Payakumbuh tempatnya beribadah rutin, maupun ke kepolisian setempat.

“Apa yang dituduhkan kepada saya sama sekali tidak benar,” tutur Simangunsong. “Alangkah bodohnya saya jika melakukan hal-hal yang dalam agama saya dianggap tidak terpuji dan musyrik, di tengah masyarakat Sumatera Barat yang memegang teguh prinsip-prinsip Islam,” kata Simangunsong, yang memutuskan mencari nafkah di Sumatera Barat sejak 1989 ini.

Kepada GATRA, Simangunsong mengaku prihatin terhadap peristiwa yang menimpa puluhan mahasiswi muslim di Politani yang kesurupan. Apalagi, isu yang berkembang dari dampak peristiwa itu bisa menjadi begitu sensitif. “Tapi, saya sungguh tidak dapat mengerti, mengapa nama saya sampai dibawa-bawa, bahkan diberitakan di koran lokal segala,” ia mengeluhkan.

Selain Simangunsong, GATRA juga menemui Thomas Barutu, 20 tahun. Nama Thomas menjadi populer karena menjadi salah satu nama yang disebut-sebut oleh mereka yang kesurupan di Politani dan di Madrasah Aliyah Negeri 2 Payakumbuh. Pria berperawakan tegap, berkulit cerah dengan dagu yang dirambahi janggut tipis, itu tipikal anak muda kebanyakan. Ia tinggal di sebuah tempat kos khusus pria, 500 meter dari kampus Politani. Ketika namanya disebut-sebut, Thomas mengaku bingung sekaligus takut.

“Ketika peristiwa Politani berlangsung, saya sedang menyelesaikan semacam KKL dengan beberapa teman mahasiswa di sebuah perkebunan di Bandung,” ujar Thomas. Sebagian besar mahasiswa yang melaksanakan program itu beragama Islam. Bahkan, menurut Thomas, ada seorang dosen yang juga ikut mengawasi mereka.

Sampai pekan lalu, Thomas tak habis pikir, mengapa dirinya dijadikan sasaran tembak. “Untuk mengkristenkan orang yang sudah Kristen saja susah, apalagi harus mengkristenkan umat beragama lain,” tuturnya, dengan suara tersekat di tenggorokan. Ia geram sekaligus menahan emosi.

Yang menarik, beberapa nama dosen dan mahasiswa Politani yang oleh masyarakat dianggap terlibat dalam kasus ini adalah jemaat HKBP Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota. Pendeta Sukirawati dari HKBP mengakui hal itu. Ketika kejadian awal di perkemahan, menurut Sukirawati, mahasiswa Kristen yang ada waktu itu memang ikut mendorong dengan doa bersama.

“Tujuannya hanya ikut peduli, tidak ada motif lain. Apalagi mengkristenkan orang,” kata Sukirawati. Tapi, ketika kasus kesurupan terjadi lebih parah dan menyangkut pelafalan nama Yesus, Bunda Maria, dan lambang-lambang Kristen di kampus Politani, beberapa pihak lantas menghubungkannya dengan mahasiswa Kristen saat melakukan doa berantai di perkemahan itu. “Kasusnya kemudian merebak menjadi seolah-olah ada upaya Kristenisasi yang dilakukan mahasiswa Sumatera Utara yang beragama Kristen,” kata Sukirawati lagi.

HKBP lingkungan Tanjung Pati, menurut Sukirawati, memiliki sekitar 105 kepala keluarga sebagai jemaat tetap. Aktivitas peribadatan mereka hanya berlangsung pada Minggu, mulai pukul 07.30 WIB hingga 14.00 WIB. Berhubung belum memiliki gedung sendiri, aktivitas peribadatan itu diselenggarakan di kompleks Batalyon 131, yang terletak di Kabupaten Limapuluh Kota.

Menurut Wakil Ketua Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Wilayah Sumatera Barat yang juga Ketua Majelis Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat, Benarbeta Ginting, PGI Sumatera Barat sampai saat ini memiliki anggota sekitar 3.000 kepala keluarga. “Tidak ada penambahan signifikan anggota PGI dari tahun ke tahun,” kata Ginting.

Ginting benar. Berdasar statistik tahun 2001, penduduk Provinsi Sumatera Barat berjumlah 4.241.605 jiwa. Dari jumlah itu, yang beragama Islam mencapai 97,78%, Katolik 0,91%, dan Kristen 1,16%. Sedangkan Hindu, Buddha dan lainnya rata-rata di bawah 1%. Jumlah penduduk Kristen di Sumatera Barat tahun 1999 pernah mencapai 1,21%, tapi tahun 2000 jumlahnya melorot hingga 0,60%. Begitu pula jumlah pemeluk Katolik, Hindu, dan Buddha tak mengalami pertumbuhan signifikan.

Mungkin, karena jumlahnya yang mayoritas tunggal itu, masyarakat muslim di Sumatera Barat menjadi sangat peka terhadap sesuatu yang berbau pemurtadan. Apalagi, kasus-kasus yang terjadi di Sumatera Barat muncul pula di berbagai provinsi di Sumatera. Di Lampung, misalnya.

Menurut Muswardi Thaher, aktivis Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Provinsi Lampung, cara-cara sihir kini menghantui para mahasiswa di Lampung. Bahkan, Yoppi Ariyana, mahasiswa Teknik Elektro Universitas Lampung, sejak 12 November 2002, menghilang sampai kini. Dari penuturan ibu Yoppi, Rilya Hayana, kepada Sugiyanto dari GATRA, muncul kesan bahwa anaknya adalah korban pemurtadan yang menggunakan sihir.

Bila benar kasus-kasus kesurupan itu bermotif pemurtadan, hal itu tentu merupakan pelanggaran etika dakwah. Apalagi, baik Islam maupun Kristen memandang sihir sebagai perbuatan sangat tercela, bahkan syirik. Karena itu, persoalan ini bukanlah masalah umat Islam semata, melainkan soal umat Kristiani juga.

Itu sebabnya, pemerintah harus lebih serius menanggapi kasus Politani dan Madrasah Aliyah Negeri 2 di Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota itu. Diperlukan dialog secepatnya sebelum kasusnya melebar tak terkendali. Kerukunan umat beragama tentunya bakal serasi bila pintu-pintu dialog itu diungkapkan secara jujur serta konsisten pada kesepakatan yang telah ditetapkan.
[Laporan Utama, GATRA, Edisi 51 Beredar Jumat 31 Oktober 2003]

Sumber : (Herry Mohammad dan Bambang Sulistiyo) Gatra


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Panglima Idola dari Ampana
Artikel selanjutnya :
   » » Profil Guru Senior: SMK Negeri 1 Pontianak