Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
11
Okt '03

Tugu Khatulistiwa, Ikon Pariwisata Kalbar


ISTIMEWA. Itulah barang kali kata yang tepat untuk menyebut Kota Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat. Dikatakan istimewa, karena kota ini hanyalah salah satu dari beberapa daerah di dunia yang dilewati garis khayal khatulistiwa atau ekuator. Untuk menandainya dibangunlah Tugu Khatulistiwa atau Equator Monument pada garis lintang nol derajat yang terletak di Siantan, sekitar tiga kilometer dari pusat Kota Pontianak ke arah Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Pontianak.

Setiap pengunjung yang datang ke tugu ini, hampir bisa dipastikan pada awalnya takjub melihat keunikan tugu yang terbuat dari kayu ulin ini. Selain menikmati keunikan Tugu Khatulistiwa, yang paling banyak dicari pengunjung adalah mencari tahu letak persis titik lintang nol derajat yang membelah Bumi secara horizontal.

Lantas, apa istimewanya garis lintang nol derajat tersebut? Sebenarnya, garis khatulistiwa atau garis ekuator hanyalah rekaan manusia. Ini terutama kita dapatkan dalam pelajaran geografi.

Dalam pelajaran geografi, Bumi diibaratkan dibagi menjadi dua bagian, yakni belahan utara dan belahan selatan. Dari pembagian itu, dapat dikatakan Kota Pontianak berada persis di tengah-tengah garis imajiner tersebut.

Peristiwa yang paling menakjubkan di sekitar Tugu Khatulistiwa adalah saat terjadi kulminasi, yakni Matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itu bayangan tugu “menghilang” beberapa detik, meskipun diterpa sinar Matahari. Kita yang berdiri di sekitar tugu juga akan hilang bayangannya selama beberapa saat.

Titik kulminasi Matahari itu terjadi setahun dua kali, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Bagi masyarakat Kalbar, peristiwa alam ini menjadi tontonan menarik sehingga menjelang kulminasi Matahari.

LANTAS, bagaimana garis nol derajat itu bisa ditemukan di Kota Pontianak? Berdasarkan catatan yang diperoleh pada tahun 1941, disebutkan bahwa pada 31 Maret 1928 telah datang di Pontianak satu ekspedisi internasional yang dipimpin seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda. Ekspedisi ini melakukan perjalanan ke Kota Pontianak untuk menentukan titik/ tonggak garis ekuator.

Pada tahun 1928 itu tugu pertama yang mereka bangun baru berbentuk tonggak tanda panah. Tonggak itu kemudian disempurnakan tahun 1930. Selain di atasnya ada tanda panah, juga ada lingkaran. Setelah itu, arsitek Silaban pada tahun 1938 melakukan penyempurnaan dan membangun tugu yang baru.

Tugu inilah yang kemudian bentuknya sangat terkenal di dunia. Bangunan itu terdiri dari empat buah tonggak atau tiang dari kayu belian atau kayu ulin (kayu langka khas Kalimantan). Masing-masing tonggak berdiameter 0,30 meter. Dua tonggak bagian depan tingginya 3,05 meter dari permukaan tanah, sedangkan dua tonggak bagian belakang, tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah, tingginya 4,40 meter.

Adapun diameter lingkaran yang bertuliskan “EUENAAR” 2,11 meter. Panjang panah yang menunjuk arah lingkaran ekuator adalah 2,15 meter. Di bawah panah terdapat tulisan “109 derajat 20’0″OlvG” yang menunjukkan letak tugu itu berdiri pada garis bujur timur. Setiap terjadi titik kulminasi, bayangan tugu dan benda-benda lain di sekitarnya menghilang beberapa saat. Ini menandakan bahwa tugu ini benar-benar berada di garis lintang nol derajat.

Pada tahun 1990 kawasan tugu itu direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu yang asli. Di atas kubah dibuat duplikat tugu dengan ukuran lima kali lebih besar dibandingkan dengan tugu yang aslinya. Peresmian bangunan ini dilakukan 21 September 1991. Untuk memperindahnya, juga telah dibuat kawasan pertamanan hingga ke pinggir Sungai Kapuas.

Sayangnya, dari pengamatan Kompas, berapa bagian dari kawasan ini terkesan tidak terawat dan kurang dikelola dengan baik. Di bagian pinggir sungai, dermaga tampak rusak parah. Sementara beberapa lampu taman juga rusak. Pada pos pintu masuk, misalnya, terlihat banyak coretan dan terkesan kotor.

Kenyataan ini tentu saja memprihatinkan, sebab tugu ini adalah cerminan Kota Pontianak yang juga dijuluki Kota Khatulistiwa atau Equator City. Sekadar contoh kecil saja, penjualan cendera mata khas yang melambangkan tugu itu, seperti, gantungan kunci, baju kaus, alat tulis, kartu pos, dan lainnya, tidak tersedia di sana. Pemerintah Kota Pontianak memang telah merencanakan pengembangan Kawasan Wisata Khatulistiwa (Khatulistiwa Tourism Area) yang berlokasi di sepanjang dan di sekitar garis khatulistiwa di Kecamatan Pontianak Utara tersebut.

Di samping pembangunan Khatulistiwa Boulevard, kegiatan yang rencananya akan dikembangkan di Kawasan Wisata Khatulistiwa adalah pusat olahraga, restoran, kafe, pertokoan, taman, arena bermain, dan hotel.

Kini tugu itu sudah berusia 75 tahun. Selama kurun waktu itulah Kota Pontianak menjadi salah satu kota yang terkenal di dunia sebagai kota khatulistiwa. Daya tarik tugu tidak terletak pada sisi komersialnya, tetapi justru pada upaya penataan agar serasi dengan alam dan kelestarian Sungai Kapuas. Tugu Khatulistiwa dan Sungai Kapuas adalah ikon pariwisata Kalimantan Barat.

Sumber : (FUL) Harian Kompas


Ada 2 tanggapan untuk artikel “Tugu Khatulistiwa, Ikon Pariwisata Kalbar”

  1. Tanggapan fitri:

    Di pulau sumatra juga ada daerah yang di lintasi garis khatulistiwa yaitu kecamatan Bonjol, kab. Pasaman, Sumatra Barat, Disana juga ada di Bangun Tugu Dan Taman Khatulistiwa
    Daerahnya Bagus berdekatan dengan sungai yang lumayan besar, para turis juga sering singgah di sana,
    Disana juga disediakan toko yang menjual souvenir Kahtulistiwa seperti gantungan kunci, T-Shirt dan lain-lain

    Saya usulkan pada kompas untuk pergi melawat kesana dan meliput daerah tersebut..

  2. Tanggapan oksinofita, Sp:

    Memang istimewa daerah yang dilewati oleh garis khatulistiwa, tapi jangan lupa di sumatera tepatnya di kecamatan bonjol, kab. Pasaman Sumatera Barat juga dilewati garis kahatulistiwa, juga ada dibangun tugu yang disebut dengan tugu Eequator, juga dilengkapi dengan taman yang indah dan museum tuanku Imam Bonjol lengkap dengan koleksinya.

    Daerah ini sangat diminati oleh turis terutama manca negara, setiap hari banyak turis yang datang.

    Setuju dengan fitri (yang memberi anggapan sebelumnya, memang benar sayang sekali kalau tidak datang dan meliput ke sana

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Hasil Kegiatan Envirotech 2003

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Calon Direksi PDAM Kritisi Gaji