Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Selasa
23
Sep '03

Kulminasi Matahari, Tugu Khatulistiwa “Menghilang”


Peristiwa alam berupa kulminasi Matahari berada di garis lintang nol derajat, Minggu (21/9) siang sekitar pukul 11.45, menjadi perhatian turis lokal dan sejumlah tamu luar negeri.Pada saat terjadinya kulminasi Matahari tersebut, bayangan Tugu Khatulistiwa di Pontianak, Kalimantan Barat, “menghilang” beberapa detik karena Matahari tepat berada di garis lintang nol derajat.

Selain disaksikan para pejabat Pemerintah Kota Pontianak dan Provinsi Kalimantan Barat, peristiwa itu juga disaksikan perwakilan dari Tentara Diraja Malaysia, Brigadir Jenderal Abdul Latif bin Haji Jasid, Konsul Malaysia untuk Pontianak Ismail bin Haji Sulaiman, dan belasan rombongan wisata dari Cina.

Suhu udara yang mencapai 36 derajat celsius, tidak mengurangi kemeriahan masyarakat yang datang untuk menyaksikan peristiwa tersebut.

Sebelum titik kulminasi terjadi, kemeriahan juga terasa dengan munculnya berbagai atraksi kesenian Melayu, Dayak, dan Tionghoa. Kemudian detik-detik menjelang “hilangnya” bayangan Tugu Khatulistiwa, masyarakat menantinya dengan penuh rasa ingin tahu.

Wali Kota Pontianak Buchary Abdurrahman mengatakan, untuk masa mendatang peristiwa “hilangnya” bayangan Tugu Khatulistiwa harus bisa dimanfaatkan mendatangkan sebanyak-banyaknya turis ke Kota Pontianak.

Apalagi, peristiwa ini bisa diprediksikan sebelumnya, yakni dua kali setahun setiap 21-23 Maret dan 23 September.

Pengamatan Kompas, kawasan Tugu Khatulistiwa saat ini terlihat kurang terawat dan belum dikembangkan menjadi kawasan yang asri. Bangunan di pinggir tepian sungai yang menjadi daya tarik pengunjung untuk menyaksikan wisata air di Sungai Kapuas juga tampak telantar. Beberapa bagiannya sudah banyak yang lapuk, bahkan jembatannya juga putus. Sementara beberapa pohon besarnya mati.

Tugu Khatulistiwa menjadi bersejarah karena tahun 1928 ditetapkan oleh tim ahli geografi Belanda sebagai titik atau tonggak equator. Tugu itu kemudian pembangunannya disempurnakan oleh arsitek bernama Silaban tahun 1938. Tugu asli itu kini terdapat dalam kubah Tugu Khatulistiwa yang bangunannya lebih besar.

Sumber : (FUL) Harian Kompas


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Vita Dharmawan: Itu Urusan Pak Bona Silaban
Artikel selanjutnya :
   » » Total Harus Bayar Invoice yang Rusak