Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
14
Sep '03

Jalan MH Thamrin, Riwayatmu Kini


SEBAGAI jalan utama Kota Jakarta, keberadaan Jalan MH Thamrin tidaklah semegah fungsi yang disandangnya. Kehadiran ruang pejalan kaki yang lebih manusiawi dan aman di sepanjang kedua sisi Jalan MH Thamrin masih tetap menjadi mimpi bagi warga Jakarta.

PEDESTRIAN atau ruang pejalan kaki merupakan salah satu urat nadi bagi sebuah kota. Ketidaknyamanan pedestrian yang seharusnya disediakan pemerintah setempat sudah cukup menggambarkan (penguasa) kota tidak berpihak kepada warga kotanya. Pedestrian yang merupakan salah satu bagian dari ruang jalan juga berfungsi sebagai ruang terbuka umum yang dapat menaikkan citra bagi kawasan kota.

Sudah banyak contoh kota di dunia yang memiliki ruang pejalan kaki cukup lebar, nyaman dilalui, dan aman dari gangguan maupun tindak kekerasan. Seperti Kota Paris dengan Champs Elysees dan Singapura dengan Orchard Road. Bahkan, Kota Jakarta pun sudah memiliki satu contoh yaitu di kawasan bisnis terpadu Mega Kuningan, tetapi hebatnya hal itu dilakukan pihak swasta.

Tidak ada yang meragukan lagi nilai penting jalan ini sejak mulai dibuka pada dekade tahun 1950-an untuk menghubungkan pusat kota (seputar Jalan Medan Merdeka) dengan kota satelit Kebayoran Baru. Ini merupakan keputusan sangat strategis dalam pengembangan sebuah ibu kota negara yang baru saja merdeka. Hadirnya ruas jalan ini sangat membantu pemekaran wilayah yang akan dibangun dan menggantikan poros lama Jakarta Kota–Monas–Senen–Salemba-Jatinegara dengan poros baru Jakarta Kota–Monas–Thamrin–Sudirman–Kebayoran hingga sekarang.

Ragam arsitektur

Banyak orang tidak menyadari kekayaan ragam arsitektur di sepanjang kedua sisinya. Bangunan dengan arsitektur berkualitas dari beberapa generasi menghiasi jalan ini seiring perkembangan wajah kota.

Dari arah Monumen Nasional, ruas jalan ini disambut dengan bundaran Air Mancur dan dua gedung yang dibangun pada awal kemerdekaan: Gedung Bank Indonesia (BI) dan Gedung Departemen Sumber Daya Alam. Gedung BI merupakan salah satu bangunan yang dirancang Arsitek F Silaban, berarsitektur tropis modern yang khas.

Bundaran Selamat Datang atau lebih dikenal dengan Bundaran Hotel Indonesia ditandai dengan hadirnya Hotel Indonesia yang merupakan hotel bertingkat tinggi pertama di Indonesia. Di seberangnya juga terdapat gedung perkantoran Wisma Nusantara yang merupakan gedung berkonstruksi baja pertama di Indonesia. Keduanya dibangun pada dekade tahun 1960-an dan memakai sumber dana pampasan perang yang sama.

Pusat perbelanjaan pertama Sarinah hadir di jalan ini, juga pada dekade tahun 1960-an. Kehadiran Jakarta Theatre sebagai bioskop pun menambah semarak hidup jalan ini. Dalam dekade tahun 1980-an Plaza Indonesia mulai dibangun, menambah alternatif tempat belanja dan rekreasi alternatif di Jalan MH Thamrin. Dan sekarang juga terlihat pembangunan pengembangan Plaza Indonesia yang hadir dengan warna solid primer.

Gedung perkantoran pun tumbuh pesat selama dekade 1980-an hingga 1990-an. Dari Menara Cakrawala, Gedung ATD, Menara BII, hingga Gedung Deutsche Bank. Dari ragam fasad bangunan yang ada dapat dilihat periode gedung itu dibangun.

Pesatnya pertumbuhan wajah kota sepanjang ruas jalan ini sayangnya tidak diikuti dengan peningkatan kualitas ruang luar di sekitarnya. Hal ini yang sempat menyebabkan tingkat nilai sewa ruang menurun.

Keinginan mengangkat citra kawasan pun bergulir, berawal dari ide memperbaiki kualitas ruang pejalan kaki oleh arsitek M Danisworo (1988) hingga panduan penataan ruang luar (urban-design guidelines) di seputar kawasan Jalan MH Thamrin oleh arsitek Budi Lim (1997).

KONSEP bentuk ruang jalan untuk Jalan MH Thamrin diarahkan membentuk huruf U. Median jalan memakai jenis lanskap rendah berupa perdu dan pohon ukuran sedang dan di kedua sisi jalan menggunakan lanskap tinggi berupa pohon besar dan palem. Ini berbeda dari ruas Jalan Jenderal Sudirman yang berbentuk huruf W sehingga pada median jalannya dipenuhi pepohonan.

Pembenahan lanskap kota menjadi hal awal yang dapat dilakukan sebagai upaya menghijaukan dan meneduhkan kawasan ruas jalan ini. Penataan lanskap di sekitar median jalan sudah dilakukan. Sayangnya, penataan lanskap di kedua sisi jalan masih mendapat kendala sehingga belum terlihat bentuk ruang jalan yang diinginkan.

Pedestrian yang lebar, sekitar delapan meter, menjadi salah satu upaya peningkatan kualitas lingkungan di kawasan ini. Empat meter sebagai jalur pedestrian yang menerus dan dua meter di kedua sisinya sebagai jalur transisi. Pada jalur inilah ditempatkan pepohonan maupun fungsi penunjang seperti bangku, lampu pedestrian, tempat sampah, telepon umum, maupun kios kaki lima.

Penggabungan jalur masuk-keluar kavling bagi kendaraan dilaksanakan sebagai upaya mengurangi hambatan bagi para pejalan kaki, diikuti dengan pengaturan ulang sistem sirkulasi kendaraan antarkavling dan sistem parkir bersama yang memungkinkan untuk lintas kavling.

Untuk meningkatkan nilai sewa dan menghidupkan kawasan selama 24 jam, tiap kavling diperkenankan melakukan perubahan fungsi kegiatan pada dua lantai pertama, ruang antara gedung hingga pedestrian dan basement sebagai fungsi komersial.

Penataan ruang luar area belakang kawasan, di sisi barat akan dikembangkan sebagai promenade tepi air (river-walk) dan di sisi timur berpotensi dikembangkan sebagai kawasan pusat jajan (kaki lima-walk).

PROYEK transportasi umum yang sering berubah terkadang dapat merugikan perencanaan penataan ruang luar yang ada. Rencana bussway misalnya, halte yang dipakai sistem ini akan memakai lahan median jalan yang saat ini sudah selesai ditata.

Tidak amannya para pejalan kaki juga masih menjadi salah satu kendala bagi Jalan MH Thamrin untuk berbenah. Seringnya pencopetan yang terjadi, termasuk terhadap penulis, harus menjadi tugas pemerintah provinsi bekerja sama dengan kepolisian daerah untuk menyelesaikan.

Menghadirkan pedestrian yang nyaman memang tidak dapat berjalan sendiri, banyak faktor lain yang harus saling mendukung. Niat baik bersama perlu diwujudkan oleh pemerintah provinsi, perencana, maupun para pemilik kavling. Kejelasan informasi bagi pemilik kavling, jaminan keamanan, maupun insentif pajak perlu dikemukakan mengingat ada sebagian lahan pemilik kavling yang akan digunakan sebagai fungsi publik menuju ruang pejalan kaki yang lebih manusiawi dan aman.

Oleh : Aditya W Fitrianto Arsitek, pemerhati arsitektur dan kota di Jakarta.

Sumber : Harian Kompas 


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Ikut Bertanggungjawab Bayar Uang Pesangon

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Vita Dharmawan: Itu Urusan Pak Bona Silaban