Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Selasa
19
Agt '03

Pengelolaan Monas Pada Satu Tangan


Monas merupakan tugu peringatan nasional. Dari namanya, Monas adalah monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda. Monumen Nasional yang berada di pusat Kota Jakarta dibangun pada tahun 1960.

Bentuk tugu peringatan yang satu ini sangat unik. Sebuah batu obelik yang terbuat dari marmer berbentuk lingga yoni, simbol kesuburan ini, tingginya 137 meter.

Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang nyala obor perunggu seberat 14,5 ton dan dilapisi emas 35 kilogram. Lidah api atau obor ini sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia yang ingin mencapai kemerdekaan

Tugu Peringatan Nasional ini lebih dikenal dengan sebutan Tugu Monas yang dibangun di areal seluas 80 hektare. Mengacu pada data situs resmi Pemrov DKI (www.dki.go.id), Tugu Monas diarsiteki oleh Soedarsono dan F Silaban dengan konsultan Ir Rooseno. Monumen tersebut resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975.

Monas mengalami lima kali pergantian nama. Berturut-turut sejak nama pertama adalah Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam, dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur nasional, Ahad, atau saat libur sekolah, Monas sangat ramai.

Di dalam bangunan Monumen Nasional ini juga terdapat museum dan aula untuk bermeditasi. Para pengunjung dapat naik hingga ke atas dengan menggunakan elevator. Dari puncak Monumen Nasional dapat dilihat Kota Jakarta yang semakin padat dan semrawut. Monumen dan museum ini dibuka Senin hingga Sabtu mulai pukul 09.00 sampai 16.00 WIB.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, menginginkan pengelolaan Taman Monas dilakukan oleh satu tangan. Ia ingin Pemkot Jakarta Pusat yang mengelolanya. Kebijakan itu dilakukan sebagai langkah efisiensi manajemen sehingga pengawasan berjalan lebih optimal. ‘’Kalau ada apa-apa cukup wali kotanya yang kita tanya,'’ ujar Fauzi. Saat ini pengelolaan Monas melibatkan berbagai instansi, di antaranya dinas pertamanan, dinas perhubungan, serta dinas tramtib dan linmas.

Wali Kota Jakarta Pusat, Hosea Petra Lumbun, yang ditemui Republika beberapa waktu lalu menyatakan kesiapannya mengelola kawasan Monas. Dia menyatakan bahwa legalisasi pengelolaan kawasan tersebut tinggal menunggu penerbitan surat keputusan (SK) gubernur. ‘’Saat ini masih dalam pembahasan di asisten tata praja,'’ ujarnya.

Sekdaprov DKI, Ritola Tasmaya, membenarkan SK pengelolan masih dalam tahap pembahasan. Dia juga sependapat untuk efisiensi maka pengelolaan Monas cukup dilakukan satu tangan. ‘’Dalam tiga bulan ini SK tersebut diharapkan bisa keluar,'’ ujarnya. man

Sumber : () Republika Online


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Warga Portal Jalan PT Pan Lonsum
Artikel selanjutnya :
   » » A Mild Live Soundrenaline ‘03: 15 Band Gempur Bandung