MUSIK dunia. Apa itu? Untuk sementara, sebelum petugas bahasa dan pekerja musik menemukan padan yang sepantar, begitulah kita sebut world music di sini. Yang dimaksud pastilah bukan Beethoven sebab biarpun mendunia, jenis ini lebih dikenal sebagai musik literatur atawa klasik Barat. Juga bukan The Beatles karena meski menjagat, sewangsanya masih sangat belia dibandingkan dengan usia peradaban dunia yang telah ribuan tahun melahirkan musik yang dikenal berbagai etnik spesies manusia.
Bertanyalah Ira Landgarten kepada pesitar terpandang Nikhil Banerjee sehari sebelum pementasannya di Carnegie Hall, New York hampir 20 tahun yang lampau. “Sebagian orang menamai musik klasik India sebagai musik etnik, bagaimana pendapatmu?”
Banerjee terperanjat.
“Saya tolak habis-habisan, saya sungguh tak suka kata etnik ini sebab peradaban India salah satu yang berumur di muka bumi. Musiknya pun tergolong yang tertua di dunia,” katanya. “Saya tak tahu mengapa orang Barat menyebut musik India sebagai musik etnik sebab sebaliknya kami pun bisa menamai klasik Barat sebagai musik etnik juga. Namun, sesungguhnya kita jangan pernah berbuat bodoh seperti itu lagi. Saat ini kita kenal dua musik klasik yang mapan: klasik Barat dan klasik India. Keduanya dan musik lain memberi sumbangan kepada musik dunia yang namanya di luar semua label yang pernah ada.”
Taksonomi teranyar dalam permusikan hampir-hampir meniadakan nuansa dari suatu kontinum yang tersusun dari etnomusikologi, musik rakyat, dan musik dunia. Kalangan akademisi dan industri musik sepertinya terpolarisasi dalam nomenklatur.
Kalangan akademisi memilih trinitas dengan unsur-unsur yang disebut tadi. Dengan trinitas itu, komunitas musik ini diguyub ke dalam sebuah sinode agung dengan denominasi geografis sebagai penandanya. Muncullah keuskupan Inggris-Irlandia-Amerika, Amerika Pribumi, Asia, Timur Tengah dan Afrika Utara, Eropa Timur dan Rusia, Eropa, Afrika, Amerika Latin-Karibia-Amerika Selatan, dan Oseania. Keuskupan-keuskupan ini dapat mekar kapan saja seiring dengan perkembangan paroki. Dan itu sangat bergantung kepada geliat jemaatnya menafsirkan teks-teks etnik mereka di bawah semangat zaman atau mengolah zaman mereka dengan terang etnik yang dapat mereka lihat untuk menghasilkan opus.
Ketimbang trinitas, industri musik lebih suka tauhidiah di bawah terang musik dunia. Tanpa tedeng aling-aling mereka menamakan apa yang dimaksudkan para akademisi tadi sebagai trinitas dengan satu nama: musik dunia. Maka terbitlah satu lagi eksemplar dalam label rekaman dan pertunjukan: musik dunia. Nomenklatur ini tampaknya lebih memasyarakat sebab memang industri mempunyai algoritma yang sudah teruji untuk menjangkau khalayak seluas-luasnya dengan ongkos yang secermat-cermatnya. Karena Inggris bahasa yang sedang mendunia saat ini, siapa pun yang ingin mengaktual di jalur ini lewat rekaman audio dan klip video mau tak mau tunduk di bawah label world music. Itu sebabnya Viky Sianipar, misalnya, menyebut lagu-lagunya yang sedang mengudara lewat televisi sebagai world music, bukan musik dunia.
HAMPIR tak ada penanda musikal yang unik dalam kategori musik dunia. Pusat gravitasinya lebih antropologis ketimbang musikal. Di kalangan akademisi, pemeriksaan antropologi dimungkinkan mendalam dan berlapis. Namun, dalam industri musik, pemeriksaan itu bisa jadi nomor sebelas. Kelonggaran ini memudahkan siapa saja pemain dalam industri musik mengklaim karyanya sebagai musik dunia. Tentu saja tak ada masalah sebab genre ini memang membuka diri seluas-luasnya kepada perkawinan antara warisan dan kekinian. Porsi di sini hampir-hampir tak menjadi faktor dalam arti, mau berapa karat warisan berapa persen kekinian dalam adonan untuk menghasilkan sebuah komposisi bukanlah unsur yang perlu dibicarakan.
Dalam Toba Dream, rekaman perdana Viky Sianipar, satu-satunya yang dapat dipertanyakan adalah penggunaan nama Toba sebagai maujud (entity) salah satu subetnik Batak. Soalnya, rekaman yang terdiri dari 12 nomor itu berasal dari khazanah musik yang sudah dikenal sebagai inventaris empat subetnik Batak: Karo (Kacang Koro dan Piso Surit), Pakpak-Dairi (Cikala Pongpong), Simalungun (Serma Dengan-Dengan dan Tortor Simalungun), dan Toba (Ansideng Ansidoding, Palti Raja, O, Tano Batak, Tano Toba, dan Tao Toba). Dua lagi adalah karya baru, karyanya sendiri, Toba Smile Part 1 dan Toba Smile Part 2. “Dua Toba” yang terakhir ini bisa ditafsirkan sebagai Danau Toba yang kebetulan tepiannya menyentuh wilayah keempat (dari lima) subetnik tadi.
Kesepuluh lagu ciptaan Daulat Padang, Djaga Depari, Lamser Girsang, Nahum Situmorang, Raynold Surbakti, Sidik Sitompul, dan Tilhang Gultom-seperti yang disebutkan-sudah dikenal lama sebagai lagu dari keempat subetnik. Yang dilakukan Viky Sianipar adalah mengolah bahanbahan ini, terutama membombardir beat-nya dari ragam musik semacam R&B, fusi, dan kontemporer lainnya dengan tingkah beberapa instrumen musik Batak seperti gondang dan seruling. Di sini pertanyaan minor dapat diajukan. Kecuali karya Tilhang Gultom, nomornomor yang menjadi properti Toba dari Nahum Situmorang dan Sidik Sitompul dapatkah dianggap mencirikan warisan Toba?
Dengan menampilkan penyanyi yang sudah dikenal-Johnson Hutagalung, Tetty br Manurung, dan Viktor Hutabarat-serta penyanyi yang relatif baru seperti Mega br Sihombing, album perdana ini sebagai usaha menggali kekayaan musikal Batak dalam musik dunia termasuk yang kaya penggarapannya. Ia terhindar dari kemonotonan meski akhirnya lagu-lagu yang dihasilkan budaya pop yang tampaknya membungkus proses kreatif dalam penggarapan album ini, ketika melewati threshold, berujung juga kepada sejenis kebosanan.
ANAK muda Batak kelahiran Jakarta, 26 Juli 1976 masih ditunggu dengan garapan-garapan yang benar-benar baru dalam konteks musik dunia. Ada harapan. Baru dalam hitungan bulan mengedarkan rekaman perdananya, Viky bersama grupnya Minggu (20/7) di tengah promosinya pada sebuah kafe di bilangan Kemang, Jakarta Selatan menyisipkan dua lagu baru karya Tongam Sirait (36), Come to Lake Toba dan Taringot Ahu, yang dinyanyikan langsung sang pencipta malam itu. Yang menarik, Taringot Ahu dalam bahasa Batak Toba itu digubah seperti tanpa preseden dalam arti, hampir sulit dicari jejak musikalnya dalam lagu-lagu Batak modern yang dikenal baik dari genre-nya Nahum Situmorang maupun Lasidos.
“Lagunya memang keren habis,” kata Viky tentang ciptaan Tongam yang kelahiran Parapat di tepi Danau Toba itu.
Berterimakah telinga-telinga Batak dengan Batak dalam musik dunia ini?
Entahlah. Yang pasti, Sabam Sirait, Panda Nababan, Luhut Panjaitan, Cosmas Batubara, sampai Togar Sianipar yang tersua di kafe itu seperti menikmati.
Sumber : (SAL) Harian Kompas
[SB] Tags : Harian Kompas, Musik BatakAda 2 tanggapan untuk artikel “Batak dalam Musik Dunia”
Silahkan memberikan tanggapan !
Artikel sebelumnya :
» » Pemerintah tak pernah Hitung Biaya Sosial akibat Pengangguran
Artikel selanjutnya :
» » Virgo Menang Angka Telak


Pada tanggal 12 Desember 2007 jam 9:26 pm
Pada tanggal 8 Februari 2009 jam 7:24 pm