Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Kamis
24
Apr '03

AWK Samosir, Tortor, Gondang, dan Opera Batak



Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

MENUJU rumahnya di belahan timur Jakarta selepas tol, jalan aspal menanjak dan sempit. Hanya bilangan kilometer dari Taman Mini. Di sisi jalan menganga sebuah gang semak dan tanah coklat. Seorang perempuan muda cantik sedang menanti. Ia memandu kami.

Tak sampai tiga menit, tersua hamparan tanah merah 200-an meter persegi. Kering dan keras sebab matahari sedang terik. Tak satu belukar tumbuh. Hanya rumah petak berpintu lima yang kelihatan di seberang. Lantainya satu kaki di bawah permukaan tanah merah itu.

Bila hujan turun, gumpalan lumpur mesti melekat di kasut mengonggok di lantai rumah bilik itu.

Sesosok laki-laki dengan seluruh rambut memutih berdiri di mulut pintu salah satu petak. Di tahun 1970 hingga 1980-an, wajah itu kerap terlihat di TVRI. Jarinya memetik kecapi di tengah gondang atau uning-uningan Toba. Tahunan ia menata dan mengisi tayangan tortor dan opera Batak di situ. Di tahun 1990-an sesekali ia mengiringi nyanyian dan tari Batak, bersama regu band Tarida Pandjaitan br Hutauruk, dalam program Horas di televisi swasta. Ia mudah dikenali dalam sorotan kamera, sebab pada usia tujuh puluhan, rambut putihnya selalu terkucir.

“Tak sulit sampai di sini?” kata AWK Samosir dalam Batak Toba, bahasa yang kami pakai selama percakapan.

Di salah satu dinding bilik tamu itu beberapa kecapi dan suling tergantung. Di sebuah sudut di baliknya tersusun seperangkat instrumen musik Batak untuk gondang dan uning-uningan. Tak lebih tiga meter dari sana dapur dengan api dan asap mengepul.

Begitu duduk di sofa tua yang compang, murid langsung almarhum Tilhang Oberlin Gultom itu (pendiri opera Batak akhir tahun 1920-an di Tapanuli dan pencipta 360 lagu, 12 tumba, dan 24 judul drama sampai akhir hayatnya tahun 1970) memulai pembicaraan dengan satu keluhan. “Pikiranku sudah buntu mengembangkan kesenian Batak sebab semua orang Batak sudah menyeleweng dari budayanya,” katanya.

Yang menyedihkan, katanya, mereka terutama dari kalangan tua. Lihat pesta-pesta perkawinan. Band lebih selalu ditanggap ketimbang gondang. Ini sebetulnya tak keliru asalkan band untuk mengiringi nyanyian selingan. Akan lain ceritanya bila dipakai pula saat mangulosi, menyampirkan ulos kepada pengantin dan kerabatnya.

“Apakah ulos itu mereka maksudkan bermanfaat atau tak bermanfaat sesuai dengan hakikatnya, sebaiknya gondang yang disajikan untuk menarikan ulos sebelum disampirkan,” katanya. “Sebab saat ulos ditenun dan disampirkan, selalu ada sabda pemberi makna dan penjelas fungsinya.”

Jadi, siapa yang salah?

“Semuanya. Yang menyampirkan dan menerima ulos, juga pemusiknya. Semua jadi bodoh,” kata Samosir yang pernah menjadi dosen tortor di Institut Kesenian Jakarta. “Bayangkan, mereka meminta lagu Poco-poco saat mangulosi. Lalu, apa artinya ulos?”

Penghargaan pada budaya sendiri pun, menurut Samosir, orang Batak sekarang sama sekali tak dapat dibanggakan. Kemunafikan sangat jelas. Baptis, sidi, kawin, memasuki rumah, mengucapkan syukur untuk kandungan berusia tujuh bulan, mati, sampai mengumpulkan belulang orang mati kepinginnya orang Batak diselenggarakan dengan adat, selain ritus keagamaan.

Akan tetapi, mereka masih setengah hati menjalankan adat. Petunjuknya apa?

“Lihat, santabi tu angka na burju (kecuali orang yang mengerti), untuk menawar band orang Batak bersedia di atas Rp 2 juta, tapi untuk gondang rela kalau di bawah Rp 1 juta,” kata ketua Gondang Pardolok na Uli ini. “Yang membuat hati saya teriris adalah bila ada yang mengatakan, ’Sudah cukup Rp 700.000’ untuk gondang, padahal pemain gondang yang berjumlah delapan itu seharian keringatan.”

HAMPIR seluruh hidup AWK Samosir untuk gondang, uning-uningan, tortor, dan opera Batak.

Lahir di Hutanamora, Onanrunggu, Pulau Samosir, pada 17 Agustus 1928, pria bernama Kasmin ini sudah menyanyi di usia 13 bersama opera keliling pimpinan Tilhang Gultom.

Di tahun 1941 itulah ia kehilangan ibu yang meninggal setahun setelah sang ayah wafat. “Jadi, sekolahku hanya sampai kelas dua SR,” katanya.

Bergabung dengan opera berarti bergaul liat dengan pemusik, penari, dan pelakon.

Dari nyanyi, Samosir belajar tortor, lakon, memetik hasapi, dan meniup sulim. Sebagian ia dapat dari seniornya, sebagian lebih besar justru dari mimpi.

“Tahun 1952 aku bermimpi diajari memetik hasapi. Begitu bangun, aku langsung bisa memainkannya,” katanya. “Jadi memang ada rahasia dalam gondang dan uning-uningan ini. Sebelum para pemain mendapatkan kemahirannya dari mimpi, ia tak akan pernah mencapai tahap empu.”

Gondang yang ia maksud adalah kumpulan musik untuk adat. Uning- uningan ialah regu musik untuk panggung, hiburan.

Gondang bolon terdiri dari 5 tagading, 1 gordang, 1 odap, 1 sarune bolon, 4 ogung (oloan, ihutan, panggora, doal), dan 1 hesek sebagai pengendali tempo. Uning-uningan terdiri atas 1 hasapi, 1 sarune getep, 1 sulim, 1 garantung, 1 tulila, 1 alatoit, 1 mengmung, 1 bulu maringgotolong, 1 tanduk banua, dan 1 hesek sebagai pengendali tempo.

“Nah, pengetahuan tentang ini pun belum menjadi milik pemusik gondang di Jakarta yang jumlahnya sekarang cukup banyak,” katanya. “Termasuk mereka yang tahun 1991 bikin Orkes Simfoni Batak.”

Opera keliling yang terus berganti nama ini-Tilhang, Pantja Ragam Tilhang, Serindo, dan sebagainya-membawa Samosir menjelajahi seluruh Sumatera, Jakarta, dan Bandung.

Sejak 1970, tahun Tilhang meninggal, Samosir menetap di Jakarta seusai manggung di Bandung atas sponsor pengusaha sayur-mayur Thomas Simanungkalit.

Di situ ia memimpin Opera Batak Tilhang Serindo cabang Jakarta, mementaskan turi-turian rakyat di Ancol, Taman Ria, TIM, TMII, dan TVRI dari tahun 1977 sampai tahun 1987.

Sejak tahun 1985 cabang grup opera ini di Sumatera Utara tak manggung lagi sebab tak mendapat dukungan dari penontonnya. Sebagian besar anggotanya hijrah ke Ibu Kota, tapi cabang Jakarta sendiri tak mampu mempertahankan staminanya seperti di masa Ali Sadikin. Requiem opera Batak!

Samosir yang mendapat dua istri dari opera itu, penyanyi Pardamean br Hasibuan dan Mina br Purba, tak tinggal diam menghidupkan tortor dan gondang setelah mentok di opera. Tawaran Ali Sadikin supaya ia mengajar tari di IKJ ia terima hingga pensiun tahun 1986 dengan golongan I-A.

SUASANA ruang tamu tempat kami berbincang tidak lazim.

Satu meter dari plafon yang menaungi kami tergantung sebilah papan putih yang menempel di dinding. Di sepanjang ketiga sisinya menjuntai daun nyiur. “Ini altar tempat kami martonggo tiap Sabtu,” katanya. Sumber penting tentang opera Batak ini sedang menuturkan tiga tahun lalu ia memeluk Parmalim, agama orang Batak sebelum misi masuk di Tapanuli, yang kini punya penganut 10 keluarga di Jakarta.

Terlahir sebagai Katolik, ayah tujuh anak ini menganut Islam sejak pernikahan pertamanya tahun 1948. Dia mendapat nama tambahan Abdul Wahab.

“Saya masuk ke Parmalim karena inilah agama Batak,” kata AWK Samosir yang telah menggubah belasan tortor. “Sejak 1998, dua tahun saya puasa, hanya minum air putih, memohon Mulajadi Na Bolon memberi saya membilang birama musik Batak.”

Sumber : (Salomo Simanungkalit) Harian Kompas


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Reza Membawa Cinta

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Album “Senyuman” Titi DJ