Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
15
Mar '03

Di Balik Keelokan Danau Toba


SETELAH melewati sebuah bukit, dari balik-balik rerimbunan pohon dan batang-batang pinus yang banyak tumbuh di pinggir jalan tampak hamparan air yang membiru. Hawa sejuk dan bau air yang segar mulai memenuhi dada dan menyebar kesejukan dan rasa lega. Perlahan-lahan, rasa penat setelah menempuh empat jam perjalanan dari Medan sirna.

Tentu sebuah pengalaman eksotis yang tak terungkapkan ketika dapat menyaksikan sinar Matahari pagi jatuh di permukaan danau yang tenang itu, atau menikmati keheningan sore hari saat Mentari mulai menyusup di balik cakrawala. Tak salah jika kesemarakan Danau Toba tersiar hingga ke berbagi penjuru dunia dan pelosok negeri.

Saat memasuki Parapat, sebuah kota di tepi Danau Toba, orang akan terkagum-kagum dengan cantiknya alam Toba. Selain itu, keletihan segera sirna ketika orang sejenak menikmati hangatnya kopi sambil mereguk keindahan Danau Toba. Kelelahan akan berangsur lenyap tatkala hidangan khas Sumatera Utara, Minang, atau Padang yang disajikan berbagai rumah makan yang berada di tepi jalan utama kota itu mengisi perut kosong. Selain itu, keletihan para pelancong dapat dihilangkan saat menikmati kelezatan mangga parapat yang khas dengan rasa asam-manisnya.

DANAU Toba terbentuk dari letusan sebuah gunung berapi. Puncak gunung tersebut runtuh dan terjadilah Danau Toba. Sebagian reruntuhan itu menjadi Pulau Samosir. Peristiwa alam membuat kawasan itu menjadi indah. Danau seluas 6,60 kilometer persegi itu dikelilingi dinding-dinding bukit yang menjulang tinggi hingga 480 meter di atas permukaan laut.

Bukit di sebelah tenggara dan timur disebut Bukit Habinsaran dan Simanukmanuk. Dinding itu memisahkan Uluan dan pantai timur Sumatera. Uluan merupakan daerah perbukitan tinggi yang di bawahnya terdapat Toba Holbung atau Lembah Toba. Di kawasan ini terdapat lahan pertanian yang subur dan berpenduduk padat. Kawasan ini terletak di antara Porsea dan Balige.

Sementara itu, di kawasan yang lebih tinggi-yang biasa disebut humbang-banyak ditumbuhi rumput dan belukar serta bebatuan. Dari antara bebatuan itulah muncul sumber-sumber mata air yang jernih. Di kawasan itu ada satu sungai besar bernama Aek Sigeaon, yang melintasi dataran pahae di dekat Lembah Silindung yang luas. Di bagian utara dikenal sebagai penghasil kemenyan. Tempat itu dikenal dengan sebutan Sijama-Polang atau penyadap pohon kemenyan. Nyaris semua kawasan itu terletak di ketinggian 900 hingga 1.800 meter di atas permukaan laut, dengan puncaknya di kawasan Pegunungan Pusukbuhit.

Namun, keindahan Danau Toba tidak hanya di situ saja. Perjalanan baru saja dimulai. Di Parapat ada sebuah dermaga penyeberangan yang terletak di kawasan Ajibata. Dari dermaga itu para wisatawan dapat menyeberang ke Pulau Samosir yang terletak di tengah Danau Toba.

Dengan membayar Rp 45.000 untuk kendaraan dan Rp 1.500 untuk penumpang, para wisatawan dapat menggunakan jasa pelayaran feri yang tiap tiga jam sandar. Feri “Tao Toba I” dan “Tao Toba II” selama satu hari secara bergantian menjalani rute Ajibata-Tomok di Samosir. Perjalanan dengan feri tersebut ditempuh selama lebih kurang dua jam.

Tomok merupakan salah satu dari beberapa pusat pariwisata di kawasan Samosir. Kawasan lain yang juga merupakan pusat pariwisata di sekitar Danau Toba dan Samosir adalah Tuk-tuk, makam raja-raja Batak di Sidabutar, Istana Raja Batak di Ambarita, serta pusat kerajinan kain ulos di kawasan Pangururan.

Di kawasan itu banyak berdiri toko-toko cendera mata yang menjual berbagai barang kerajinan seperti ulos, ukiran kayu khas tanah Batak seperti sistem penanggalan batak, tempat obat yang terbuat dari bambu, serta gitar batak. Selain itu, di kawasan itu, seperti di Tomok dan Tuk-tuk, banyak terdapat vila dan penginapan yang bertarif rata-rata Rp 75.000 hingga Rp 150.000. Di kawasan itu juga banyak berdiri hotel-hotel berbintang satu hingga berbintang dua yang tarifnya sampai Rp 350.000 per malam. Hotel-hotel itu didirikan di tepi danau sehingga memudahkan bagi para wisatawan untuk menikmati fasilitas berenang di danau.

Di kawasan yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara itu juga banyak didirikan rumah makan dan kedai yang menawarkan berbagai penganan, baik bercita rasa tradisional seperti rendang dan ikan bakar maupun yang bercita rasa internasional seperti hamburger dan pizza. Kedai atau restoran itu banyak didirikan di tepi danau sehingga para wisatawan dapat menyantap hidangan sambil menikmati keindahan danau.

Selain keindahan danau dan nikmatnya hidangan yang disajikan berbagai penginapan dan hotel, para pelancong dapat menikmati pemandangan dan keelokan tanah Toba dengan mengendarai sepeda gunung atau sepeda motor. Sepeda dan sepeda motor itu disewakan pengelola penginapan dengan harga sewa Rp 35.000 per hari untuk sepeda dan Rp 50.000 per hari untuk sepeda motor berikut bahan bakar.

Oleh karena itu, hampir di sepanjang jalan antara Tomok, Tuk-tuk hingga Pangururan yang berjarak lebih dari 40 kilometer banyak ditemui para wisatawan mancanegara yang bersepeda menikmati suasana pedesaan. Sepeda atau sepeda motor banyak diminati wisatawan karena alat transportasi itu dapat dengan mudah digunakan untuk menjelajahi pelosok pedesaan dan kampung-kampung di kawasan Toba dan Samosir.

Di samping itu, jalan di kawasan tersebut sempit dan di beberapa tempat rusak hingga sulit jika ingin menjelajahinya dengan mobil.

SEORANG wisatawan asal Jerman, Martin Koessler, mengatakan, keelokan Toba terletak pada keramahan penduduk dan alam Toba yang relatif masih alami. Hal itu dibenarkan juga oleh rekannya, Florian Rott, yang terkesan pada sikap seorang penduduk desa yang menyajikan nasi berlauk teri saat mereka mengunjungi sebuah perkampungan di Pangururan. “Kami tak perlu ke Toba jika ingin menikmati pizza. Kami akan ke Italia jika ingin makan pizza,” papar Florian.

Keaslian wajah Toba yang mereka saksikan saat memasuki perkampungan, seperti di Simarmata, Sagala, dan Sihaloho, amat mengesankan mereka. Di kampung itu mereka dapat menikmati cara warga Batak secara tradisional menyiapkan kopi yang kental atau menikmati makanan dengan menggunakan tangan. Keramahan penduduk amat mengesankan mereka.

Selain itu, alam asli Toba yang mereka nikmati dari ketinggian bukit di sekitar Danau Toba amat menarik minat mereka untuk kembali ke Toba. Di Ambarita yang dikenal sebagai situs Istana Raja Batak dari marga Siallagan, para pemandu wisata dengan lugas dan ramah menceritakan kisah-kisah tempo dulu. Mereka bercerita tentang praktik pengadilan masa lalu dan memperagakan proses peradilan tersebut hingga eksekusi terpidana. Setiap pertanyaan yang diajukan wisatawan mereka jawab dengan tuntas. Mereka tidak tergesa-gesa mengisahkan setiap fragmen. Mereka rata-rata memasang tarif Rp 15.000 hingga Rp 20.000 untuk memandu wisatawan memahami situs tersebut.

Selain itu, di setiap kampung banyak warga dengan senang hati bercerita tentang keadaan desa dan seluk-beluk cara membuat ulos, kain tenun khas Batak. Di Desa Lumban Suhi-suhi, sekitar enam kilometer dari Kecamatan Pangururan, banyak perajin kain ulos yang dengan terbuka menceritakan cara membuat kain tenun tersebut. Mereka senang jika ada orang yang mengunjungi kampungnya. Selain mendatangkan tambahan penghasilan, kehadiran para wisatawan dapat membuka perkembangan usaha dan wawasan mereka.

Seorang perajin ulos, Nai Marudut boru Situmorang, menceritakan, kain ulos karyanya pernah digunakan mengulosi Pemimpin Umat Katolik Paus Yohanes Paulus II saat mengunjungi Indonesia tahun 1990. Kesempatan tersebut membuat sentra industri ulos itu semakin dikenal orang.

Namun, saat ini industri ulos di kawasan itu kurang berkembang meskipun Kampung Lumban Suhi-suhi menjadi desa percontohan industri ulos di kawasan Toba Samosir. Dana modal awal dan padanan sebesar Rp 200 juta yang dikucurkan Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah hingga saat ini belum mereka terima. Padahal, dana itu sejak lima bulan lalu telah dicairkan Koperasi Serba Usaha Pemuda Pancasila Kabupaten Toba Samosir yang ditunjuk sebagai pengelola pinjaman tersebut.

Para perajin ulos itu mengemukakan, sebenarnya dana tersebut dapat menjadi alternatif bagi mereka untuk mengembangkan usaha. Saat ini harga ulos berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 150.000. Harga itu semakin mahal jika ulos yang dibuat merupakan ulos pesanan. “Ulos seperti itu harganya dapat mencapai Rp 500.000. Selain halus, coraknya juga khusus,” papar Nai Marudut.

Ulos seperti itu dapat dijahit menjadi jas, kemeja, atau pakaian wanita. Menurut dia, alternatif itu dapat memberi kesempatan bagi para perajin untuk lebih kreatif dalam menghasilkan ulos. Namun sayang, upaya itu terganjal sulitnya modal dan mahalnya benang.

Nai Marudut mengatakan, hingga saat ini banyak wisatawan tetap berminat pada berbagai barang kerajinan Batak seperti ulos. Minat itu dapat menjadi peluang untuk meningkatkan pendapatan warga Toba Samosir yang selama ini mengandalkan hasil pertanian seperti padi dan bawang merah. Kondisi tersebut akhirnya berujung pada surutnya dunia wisata di Toba Samosir.

Meski hingga kini tidak tercatat secara sistematis, jumlah kunjungan wisata ke Toba Samosir cenderung menurun. Kecenderungan itu merupakan efek dari makin miskinnya warga pedesaan di Toba Samosir. Hingga akhir tahun 2002 di Pangururan, kecamatan terbesar di tepi Danau Toba, pendapatan asli daerah lebih kurang Rp 10 juta. Bahkan, di Kecamatan Sianjur Mula-mula, sekitar 14 kilometer utara Pangururan, pendapatan asli daerahnya hanya Rp 3 juta.

Kecilnya pendapatan daerah itu disebabkan infrastruktur di kawasan tersebut kurang memadai. Banyak jalan menuju ke Sianjur Mula-mula rusak berat. Salah satu penyebabnya adalah tanah longsor. Di kawasan itu banyak bukit yang gundul sehingga ketika hujan besar datang, kawasan tersebut terancam tanah longsor. Hal yang sama juga terjadi di Kecamatan Pangururan. Bahkan, di Pangururan dan berbagai kecamatan di kawasan Kabupaten Balige, banyak jalan rusak karena sering dilewati truk-truk pengangkut kayu pinus yang tonasenya melebihi kemampuan jalan.

Selain itu, akhir-akhir ini kehidupan petani di dua kecamatan itu terancam karena panen bawang merah mereka gagal. Hujan yang terus-menerus menerjang kawasan tersebut membuat busuk tanaman bawang merah petani. Seorang petani di Desa Parbaba, misalnya, terpaksa mencabut tanaman bawangnya yang mulai berumbi dan menjadikannya pupuk. “Kalaupun ada hasilnya, tidak akan mencukupi untuk menanam lagi. Terpaksalah sekarang kami makan jagung. Tunggu nanti padi baru dapat lagi uang,” paparnya.

Camat Sianjur Mula-mula Unggul Sitanggang mengatakan, pada prinsipnya, daerah Toba Samosir memiliki potensi pariwisata yang besar. Namun, karena kondisi ekonomi rakyat yang sangat terbatas, maka potensi tersebut sulit dikembangkan. “Untuk mencoba bertahan saja kami sudah sulit. Namun, jika pemerintah mencoba membantu dengan merawat jalan, kemungkinan kondisi ekonomi daerah ini dapat tertolong,” papar Sitanggang.

KESULITAN ekonomi dan keterlambatan pemerintah memperhatikan infrastruktur di kawasan tersebut menyebabkan perkembangan pariwisata cenderung tersendat. Keelokan alam Toba Samosir menjadi kurang bermanfaat secara ekonomis jika daya dukung terhadap perkembangan penduduknya terhambat. Padahal, merekalah yang menjadi motor utama penggerak roda pariwisata di kawasan itu.

Ketulusan dan keramahan telah menjadi modal pokok dan telah dimiliki oleh warga Toba Samosir. Namun, jika hal tersebut tidak didukung oleh kemauan keras pemerintah untuk berpihak pada mereka, apa pun upaya yang dilakukan pemerintah untuk memajukan pariwisata di kawasan tersebut akan sia-sia.

Pada prinsipnya, industri pariwisata akan maju dan berkembang jika penduduknya berkembang dan maju. Kesadaran akan pentingnya pariwisata akhirnya dipahami tidak sekadar sebagai motor penghasil devisa. Tetapi, pariwisata juga dipahami dan melulu dipahami sebagai sarana perjumpaan antarberbagai kultur yang berbeda dan memperkaya budaya-budaya tersebut.

Dengan demikian, pariwisata berefek dua arah, baik kepada wisatawan maupun kepada penduduk setempat. Selain manfaat ekonomis yang dinikmati penduduk, wawasan mereka tentang dunia lain pun berkembang, demikian juga bagi wisatawan. Mereka akan diperkaya dengan budaya dan cara hidup yang bagi mereka baru dan mengesankan. Menurut Florian dan Martin, hal itu jauh lebih mengesankan dibandingkan dengan sekadar cendera mata saja yang bakal usang oleh waktu.

Sumber : (B JOSIE SUSILO HARDIANTO) Harian Kompas


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Polsek Kuala Mandor B Masuk Poltabes
Artikel selanjutnya :
   » » Panca Silaban Menjuarai Kelas Terbang Versi ATI