Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Rabu
26
Feb '03

Korban Tewas KMP Mutiara Indah II Menjadi 28 Orang


20 Mayat Ditemukan Terapung di Laut

Korban musibah tenggelamnya Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Mutiara Indah II terus bertambah. Hari kedua upaya pencarian dan penyelamatan penumpang, Selasa (25/2), tim SAR berhasil mengevakuasi 20 korban yang ditemukan terapung di perairan Selat Malaka, tidak berapa jauh dari lokasi kapal itu terbakar dan karam. Dengan demikian, korban tewas akibat kecelakaan di laut ini hingga kemarin sudah tercatat 28 orang, delapan di antaranya ditemukan hari Senin.

Sepuluh korban tewas yang ditemukan kemarin masing-masing, Binter Simarmata (17), pelajar, warga Desa Tanjung Ledong; Hotnita Boru Manulang (18), pelajar, berasal dari Desa Teluk Pule; Rusman (19), pedagang dari Dusun II Pematang Panjang, Limapuluh; Selamat (43), warga Air Batu, Asahan; Water Parapat (28), warga Lebak Bulus, Jakarta Selatan; Rudolf Sugen (33), warga Medan; Gomos Simbolon (23), warga Tanjung Ledong; Muklis (24), warga Asahan; Acan alias Sumadi (24); Sudarsono (19); Rusli (24); Makmur Silaban (25); Mastijen Lumbanraja (23); M Simanjuntak (55); dan enam korban lagi belum diketahui identitasnya.

Kondisi jenazah para korban seperti yang disaksikan Kompas, tampak sangat mengenaskan. Selain mengalami luka bakar, beberapa bagian tubuh korban juga terlihat tidak utuh lagi karena hancur terendam air laut.

Upaya mengevakuasi mayat korban juga membutuhkan waktu, karena lokasi ditemukannya berjarak sekitar 12 mil laut dari Tanjung Balai atau lebih empat jam menggunakan kapal. Begitu diturunkan dari kapal di Tangkahan (tempat merapat kapal) persis di sisi markas Satuan Polisi Air dan Udara (Satpolairud), jenazah korban dibawa dengan ambulans ke RSU Tengku Mansyur Tanjung Balai.

Hingga Selasa petang, keluarga para korban tampak masih harap-harap cemas menunggu nasib para kerabatnya. Bahkan, markas Satpolairud Unit Tanjung Balai yang menjadi posko pencarian, terus didatangi ratusan sanak keluarga yang ingin mengetahui keberadaan para penumpang yang belum diketahui nasibnya. Mereka mengerumuni papan pengumuman yang memajang nama-nama korban yang selamat maupun hilang.

Usaha penyelamatan yang malam sebelumnya sempat terhambat cuaca buruk dan gelombang besar, kembali diintensifkan pagi harinya. Sebanyak 13 kapal bantuan dari Satpolairud, KPLP, Bea dan Cukai, serta kapal bantuan TNI Angkatan Laut, menyisir lokasi karamnya kapal di perairan Tanjung Siapi-api.

Meski lokasi KMP Mutiara Indah II yang terbakar dan tenggelam sudah diketahui, namun upaya pencarian dan penyelamatan para korban tetap terhalang, karena sejak siang angin bertiup kencang sehingga menimbulkan arus yang cukup deras. Gelombang laut di Selat Malaka ini diperkirakan telah menyeret para korban dari lokasi kapal penumpang itu tenggelam pertama kali.

Kepala Kepolisian Resor (Polres) Asahan AKBP Umar Septono mengakui, upaya penyelamatan dan pencarian para korban sama sekali belum dilakukan secara maksimal. Sebab, yang dilakukan oleh Tim SAR saat ini hanya sekadar yang bisa dilihat mata. Padahal, dalam kondisi gelombang laut Selat Malaka yang liar seperti ini dibutuhkan adalah peralatan yang lebih memadai.

“Dalam kondisi sekarang, yang kita butuhkan adalah regu penyelam dengan alat selam yang memadai. Sedangkan untuk alat angkut, idealnya harus dibantu helikopter. Jadi keterbatasan alat inilah yang menghambat upaya pencarian para korban,” tutur Umar Septono.

Akibat keterbatasan peralatan dan tenaga penolong, Umar mengatakan, pihaknya justru amat terbantu oleh nelayan-nelayan tradisional yang memberitahu lokasi korban.

Dia mengakui, secara prosedural pihaknya sudah mengajukan permintaan bantuan tenaga dan alat ke Pemerintah Kota (Pemkot) Tanjung Balai. Kabarnya, pemkot pun sudah meneruskan ke provinsi. “Sebetulnya, ini sudah direspons Pemprov Sumatera Utara. Akan tetapi yang dikirim cuma petugas tanpa dilengkapi alat selam. Padahal peralatan ini mutlak diperlukan,” ujar Kepala Polres.

Berloncatan ke laut

Detik-detik awal kobaran api mulai terlihat di KMP Mutiara Indah II, memang membuat ratusan penumpang panik. Menurut Muryadi (21), Anak Buah Kapal (ABK) yang selamat dalam peristiwa itu, begitu titik api muncul, para penumpang berlarian tak tentu arah. Bahkan, beberapa di antaranya malah nekat berloncatan ke laut meski ABK sudah berupaya menenangkan.

“Melihat penumpang panik dan berlarian, saya pun ikut-ikutan meloncat ke laut. Setelah sempat terapung-apung sekitar setengah jam, saya akhirnya bisa selamat karena berhasil menjangkau pelampung yang dilempar KM Sumberjaya, kapal penumpang yang juga melayari rute ini,” kata Muryadi.

Pengakuan Muryadi itu bertentangan dengan penuturan para penumpang yang mengatakan, ketika asap sudah terkepul, nakhoda dan para ABK justru mengatakan itu hanya kebakaran kecil.

Sumber : (DOT/ZUL) Harian Kompas, Tanjung Balai


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Employers hail new labor bill, unions divided
Artikel selanjutnya :
   » » 38 Korban KM Mutiara Masih Dicari