Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
23
Feb '03

Pedihnya Nasib Petani Bawang di Pesisir Danau Toba


“PASAR Haranggaol ini kok sepi sekali, ya. Keramaian seperti dulu tidak tampak lagi,'’ demikian komentarBonarsius Saragih SH MH, perantau asal Desa Haranggaol, Kabupaten Simalungun, yang baru-baru ini mudik ke kampung halamannya itu.

Pasar bawang di desa pesisir Danau Toba, Desa Tongging, Kabupaten Karo, kini sepi akibat tidak adanya lagi pasokan bawang dari desa-desa sekitarnya.

Komentar seperti ini sering diungkapkan perantau asal Haranggaol dan desa sekitarnya ketika pulang kampung satu tahun belakangan. Bonarsius yang mudik Desember 2002, misalnya, melihat Haranggaol bukan lagi pusat perdagangan.

Menurut beberapa perantau, sejak tahun 1970-an hingga 1991, Haranggaol masih merupakan pusat pusat perdagangan bawang, pisang, dan mangga terbesar di sekitar Danau Toba.

Namun, kini, desa itu bagaikan kota perdagangan yang mati. Pasar mingguan hari Senin dan Kamis di sana selalu sepi. Kapal-kapal motor yang mengangkut hasil-hasil pertanian dari desa-desa sekitar pesisir Danau Toba seperti bawang merah, bawang putih, pisang, dan mangga tidak tampak lagi meramaikan pasar mingguan itu.

Para saudagar (pedagang pemborong) bawang dari Medan, pedagang pengecer, dan petani dari berbagai desa sekitar juga tidak tampak lagi berebut mengadu untung di Desa Haranggaol. Transaksi perdagangan bawang dan hasil pertanian lain yang biasanya mewarnai pasar mingguan desa itu kini telah hilang.

Para petani dari desa-desa sekitar Danau Toba mengatakan, sepinya pasar mingguan setiap Senin dan Kamis di desa itu terjadi dua tahun belakangan. Hal yang sama juga terjadi di pasar mingguan pesisir Danau Toba seperti Desa Tongging, Kabupaten Karo yang buka setiap hari Jumat.

M Girsang (50), petani Desa Hutaimbaru dan A Haloho (48), petani Desa Haranggaol, mengatakan sepinya pasar di pesisir Danau Toba saat ini akibat beratnya serangan hama terhadap tanaman bawang di desa-desa sekitar Danau Toba. Sejak akhir 2001, para petani bawang merah dan bawang putih di desa-desa pesisir Danau Toba, baik di Kabupaten Karo, Simalungun, Dairi, maupun Toba Samosir, gagal panen akibat hama yang menyerang tanaman bawang mereka. Semula hama tersebut hanya terjadi di Desa Tongging. Namun, kini meluas ke Simalungun, Dairi, hingga Toba Samosir.

Saat ini, tidak ada lagi petani yang menanam bawang di desa-desa pesisir Simalungun, mulai dari Bage, Hutaimbaru, Haranggaol hingga Parapat. Kondisi yang sama juga terjadi di Balige, Tomok, Samosir dan Silalahi. Akibatnya, produksi bawang daerah pesisir Danau Toba tidak ada.

“Hal itulah yang membuat pasar-pasar di sekitar pesisir danau ini sepi. Tak ada lagi yang bisa dijual. Mangga tepi pantai yang selama ini bisa menjadi penambah pendapatan juga sudah jarang berbuah,” kata M Girsang.

Hal senada diakui A Haloho, yang setiap Senin dan Kamis berjualan nasi di pasar Haranggaol. “Usaha saya sepi akibat sepinya pasar. Biasanya langganan saya banyak dari kalangan petani dan saudagar bawang. Namun, saat ini para petani dan saudagar bawang tidak banyak lagi,” katanya.

Disebutkan, tanaman bawang di Desa Haranggaol juga terkena serangan hama satu tahun belakangan. Karena itu, para petani Haranggaol tidak lagi menanam bawang. Mereka, yang memiliki modal mencoba menanam tanaman tomat, cabai, jagung, dan padi. Sedangkan petani yang tidak bermodal membiarkan ladangnya menjadi semak belukar.

Krisis Pangan

Menurut M Girsang, serangan hama yang memusnahkan tanaman bawang di Desa Hutaimbaru membuat sekitar 65 keluarga petani di desa itu terancam kekurangan pangan. Selain itu, para petani terjerat utang akibat gagal panen bawang.

Disebutkan, krisis pangan di desa itu telah dilaporkan kepada pemerintah daerah setempat. Berkat laporan itu Bupati Simalungun Ir John Hugo Silalahi pada awal Desember 2002 mengantarkan beras bantuan ke desa itu. Selain itu, desa tersebut juga masuk menjadi penerima beras operasi khusus (OPK) dengan harga Rp 1.000/kg.

M Girsang mengatakan, punahnya tanaman bawang akibat hama di desa mereka tidak hanya menyebabkan kekurangan pangan. Kegagalan panen bawang itu juga membuat perekonomian keluarga terpuruk sehingga mereka tidak mampu lagi membiayai anak-anak menempuh pendidikan SLTP, SMU, dan kuliah di kota lain.

Dia mengatakan, agar tidak sampai putus sumber penghasilan, sebagian petani mencoba menanam tomat, cabai merah, padi, jagung, dan ubi. Namun, tidak semua petani berhasil karena modal yang terbatas, pengetahuan mengenai pertanian tanaman hortikultura yang kurang dan mahalnya harga obat-obatan.

“Banyak petani bawang yang mencoba menanam tomat dan cabai di desa ini gagal akibat pemeliharaan dan pemupukan salah. Sementara modal untuk tanaman tomat dan cabai sangat besar,” ujarnya.

Bawang Gosong

Sementara itu St A Sipayung (60) mengatakan, serangan hama tersebut membuat akar bawang merah membusuk dan daunnya kering. Para petani telah beberapa kali mencoba mengatasinya dengan menggunakan pemupukan dan penyemprotan pestisida. Namun hasilnya nihil.

“Kita telah beberapa kali mencoba menanam bawang dengan meningkatkan pemupukan. Tetapi percuma saja. Bawang yang semula tumbuh baik, tiba-tiba langsung gosong. Modal kita terbuang percuma, sehingga kita menghentikan menanam bawang,” ujarnya.

Para petani bawang di daerah itu hingga kini belum mengetahui penyebab hama yang menyerang tanaman bawang mereka. Pihak Dinas Pertanian Simalungun, kata St A Sipayung, hingga kini belum memberikan perhatian untuk mengatasi serangan hama yang melanda petani bawang tersebut. Hal ini tampak dari belum adanya informasi dari jajaran pertanian setempat mengenai penyebab serangan hama itu. Penyuluhan mengenai penanggulangan hama tersebut juga tidak ada.

Dikatakan, mereka sudah melaporkan serangan hama yang menghancurkan tanaman bawang di pesisir Danau Toba ketika Bupati Simalungun datang ke Desa Hutaimbaru awal Desember 2002. Namun hingga kini belum ada tim pemerintah yang melakukan penelitian mengenai penyebab dan upaya penanggulangan hama tersebut.

“Waktu itu bupati hanya memberikan bantuan beras 20 kg per keluarga. Sedangkan penanggulangan krisis pangan di desa ini tidak diperhatikan sampai sekarang,” katanya.

Sementara itu, Ir J Purba, lulusan fakultas pertanian dari salah satu perguruan tinggi di Medan kepada Pembaruan mengatakan, serangan hama yang memusnahkan tanaman bawang di desa-desa pesisir Danau Toba ialah sejenis jamur dan bakteri. Serangan jamur dan bakteri tersebut sejenis hama yang bisanya menyerang tanaman cabai. Karena itu, untuk mengatasi serangan hama itu perlu dicoba obat-obatan yang digunakan pada tanaman cabai.

Secara terpisah, St B Manihuruk, petani di Desa Hutaimbaru mengatakan, serangan hama bawang itu diduga kuat muncul akibat penggunaan obat pembasmi ilalang. Selama ini para petani menggunakan obat pembasmi ilalang itu untuk membersihkan lalang serta menghambat pertumbuhan gulma. Penggunaan obat pembasmi ilalang dan gulma itu juga salah.

“Sesuai aturan yang saya baca pada keterangan penggunaannya, areal tanaman baru bisa ditanami enam bulan setelah penggunaan obat pembasmi gulma itu. Tetapi selama ini para petani langsung mengolah lahan hanya beberapa minggu setelah penggunaan obat pembasmi gulma itu. Sisa obat yang tinggal di tanah membuat tanaman bawang rusak,” katanya.

Pertama Kali

Menurut St A Sipayung, hama yang menyerang bawang di desa-desa pesisir danau itu baru pertama kali ini terjadi. Selama ini desa-desa sekitar Danau Toba, khususnya di Simalungun seperti, Bage, Hutaimbaru, Haranggaol dan sebagainya terkenal sebagai sentra bawang merah dan putih.

Sebelum terjadinya serangan hama bawang tersebut juga, para petani bawang di desa-desa pesisir Danau Toba terkenal sebagai jutawan dan tidak pernah mengalami krisis pangan. Mereka sanggup menyekolahkan anak ke jenjang pendidikan tinggi di kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Medan, dan kota pendidikan lainnya.

“Tapi saat ini nasib petani bawang di desa-desa sekitar danau ini pedih sekali. Jangankan menyekolahkan anak ke kota besar, untuk makan pun sulit,” katanya.

St A Sipayung mengatakan, nasib petani bawang semakin sulit karena tanaman mangga di pesisir danau juga jarang berbuah sekarang. Biasanya mangga menjadi penghasilan tambahan para petani di desa pesisir danau itu.

Selain itu hasil tangkapan ikan dari danau juga tidak bisa diharapkan lagi membantu ekonomi keluarga. Masalahnya ikan khas Danau Toba seperti ikan mujahir, ikan mas, ihan (ikan Batak) sudah langka. Kalaupun saat ini petani bisa mendapatkan ikan dari danau, untuk konsumsi sendiri pun tak cukup. Kemudian ikan mujair Danau Toba saat ini kurus-kurus.

Keramba Ikan

Secara terpisah, A Haloho, petani Desa Haranggaol, mengatakan salah satu alternatif membantu perekonomian sebagian warga masyarakat sekitar Danau Toba ialah usaha keramba ikan (kolam terapung). Di Desa Haranggaol, Tongging dan desa-desa sekitarnya usaha keramba ikan tersebut sangat berkembang.

“Bahkan saat ini produksi ikan mas dari usaha keramba di Haranggaol terkenal hingga ke luar daerah seperti Batam. Haranggaol kini menjadi pemasok ikan mas terbesar di Sumatra Utara. Namun sayangnya usaha keramba ikan itu kebanyakan milik orang luar atau perantau. Hanya segelintir warga desa yang berusaha kerama, yakni mereka yang memiliki modal,” katanya.

Disebutkan, sedikitnya petani beralih usaha ke keramba ikan karena modalnya besar. Untuk dua unit keramba saja, petani harus memiliki modal sekitar Rp 25 juta, mulai dari pembuatan keramba, pengadaan bibit, pemeliharaan, pengadaan pakan hingga masa panen empat bulan. Pengadaan modal untuk petani sulit, karena tidak ada petani yang masuk kelompok tani untuk membangun usaha keramba ikan di desa itu.

“Kondisi demikian merupakan masalah pelik bagi warga pesisir Danau Toba sekarang ini. Satu-satunya harapan kita ialah adanya bantuan pemerintah dan perantau untuk mengatasi hama bawang dan pengadaan modal petani. Kalau masa kejayaan petani bawang bisa dikembalikan, otomatis pasar mingguan desa pesisir Danau Toba seperti Haranggaol dan Tongging ramai kembali seperti dulu,” ujarnya.

Sumber (Radesman Saragih) Suara Pembaruan


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Seminar Sehari : A Tribute to Prof. P. Silaban
Artikel selanjutnya :
   » » Employers hail new labor bill, unions divided